Karawang, Wartacana.com – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah praktik jurnalisme saat ini, khususnya dalam cara nilai-nilai berita diartikan dan digunakan. Sebelumnya, keputusan editorial sepenuhnya ditentukan oleh redaktur sekarang algoritma juga berperan sebagai pengatur yang mempengaruhi produksi, distribusi, dan tampilan berita.
Pertama, terjadi perubahan arti dari kecepatan (ketepatan waktu). Jurnalisme otomatis memungkinkan pembuatan berita yang berlandaskan data seperti laporan mengenai pasar saham atau olahraga dalam waktu singkat. Namun, percepatan ini menghadirkan risiko adanya informasi yang salah dan bias dari algoritma jika tidak dilalui dengan proses verifikasi oleh manusia. Studi sistematis menunjukkan bahwa kecerdasan buatan meningkatkan efisiensi, namun tetap memerlukan pengawasan editorial untuk menjaga keakuratan dan kredibilitas (Sonni et al., 2024 Liu et al.,2025). Dengan demikian, kecepatan sekarang harus dipahami sebagai kecepatan yang telah divalidasi.
Kedua, konsep kedekatan (proximity) telah mengalami perubahan makna melalui algoritma yang dipersonalisasi. AI kini menyajikan berita berdasarkan preferensi pengguna (proksimitas algoritmik), bukan hanya berdasarkan kedekatan geografis. Laporan dari Reuters Institute for the Study of Journalism dalam Digital News Report 2025 menekankan bahwa personalisasi dapat meningkatkan partisipasi audiens, namun juga berisiko menciptakan filter bubble yang mengurangi variasi sudut pandang. Dalam kerangka demokrasi, situasi ini dapat mengurangi kesempatan untuk berdiskusi secara terbuka.
Ketiga, perhatian manusia mulai diambil alih oleh logika pengoptimalan mesin dan SEO. Studi dalam jurnal yang diterbitkan oleh MDPI menunjukkan bahwa peran jurnalis semakin berubah menjadi kurator dan editor dari hasil AI, dan tidak lagi sepenuhnya sebagai pencipta narasi (Sonni et al., 2024). Pergeseran ini menciptakan masalah etika yang berkaitan dengan pemahaman konteks, rasa empati, serta tanggung jawab dalam penyuntingan.
Secara umum, kecerdasan buatan menawarkan efisiensi, penyesuaian, dan kemampuan untuk memperluas penyebaran informasi. Namun, tanpa adanya regulasi editorial yang kokoh, dominasi algoritma dapat mengancam nilai-nilai dasar jurnalisme seperti akurasi, keberimbangan, dan kepentingan publik. Oleh sebab itu, masa depan jurnalisme akan bergantung pada kerja sama antara manusia dan teknologi kecerdasan buatan berfungsi sebagai alat bantu teknis, sementara manusia tetap berperan sebagai penjaga integritas dan etika dalam berita.
Penulis: Artika Putri Cahaya,Isyfi Nailatul Izzah,Nayla Aurelia,Nazzwa Bunga Nabila (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Semester 6)
SUMBER
Liu, X., et al. (2025). How generative AI is transforming journalism: Development, application and ethics. Journal Media, 5(2), 39.
Munhwa, S. O., & Jung, J. (2025). Harmonizing traditional journalistic values with emerging AI technologies. Media and Communication, 13.
Reuters Institute. (2025). Digital News Report 2025.
Sonni, A. F., Hafied, H., Irwanto, I., & Latuheru, R. (2024). Digital newsroom transformation: AI impact on journalistic practices. Journalism and Media, 5(4), 1554–1570






