Karawang, Wartacna.com – Kehadiran kecerdasan buatan (AI) dalam media industri diibaratkan sebagai pisau
dua. Di satu sisi, teknologi ini menawarkan kemudahan akses analisis informasi, seperti mempercepat waktu produksi, menggerakkan perangkat kerja, serta membantu jurnalis dalam melakukan data besar dengan cepat. Namun di sisi lain, AI menuntut integritas manusia yang lebih kuat untuk menjaga nilai independensi jurnalistik dan mencegah banjir disinformasi serta konten negatif di ruang publik
AI Sebagai Alat, Bukan Pengganti: “AI itu adalah tools, alat, tidak menggantikan wartawan,” kata salah satu narasumber dalam diskusi tersebut.
Sumber daya manusia (SDM) yang mengoperasikan produk jurnalistik sangat berpengaruh. Namun ada kekhawatiran tentang validitas data karena penelitian informasi bergantung pada AI. Bagaimana memastikan bahwa informasi yang diproses AI benar-benar valid adalah pertanyaan besar. Hukum siber “Sampah Masuk, Sampah Keluar” sangat berkaitan dengan hal ini.
Sebaliknya, AI akan menjadi alat yang dapat dipercaya untuk menghasilkan berita jika jurnalis terus memberikan informasi yang benar dan valid. Ancaman Deepfake dan Krisis Kepercayaan Teknologi deepfake, yang dapat menduplikasi wajah dan suara secara akurat, adalah masalah aktual yang sedang dihadapi.
Lonjakan 625 pengaduan ke Dewan Pers hingga Juni 2025 menuntut media kembali ke Khittah Jurnalistik dengan mengutamakan akurasi, validitas, dan perspektif yang mencakup multi-sisi . Di tengah gempuran teknologi, kepatuhan terhadap Kode Etik Jurnalistik menjadi kunci utama untuk menjaga integritas serta menyajikan informasi yang murni dan objektif bagi masyarakat yang semakin kritis.
Sumber:
TirtoID. (2025, 6 Oktober). Media Talks: Masa Depan Jurnalisme di Era AI [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/live/cKuCnJKjIHQ
Penulis : Agung Dwi Alfarizi Tanjung, Mukendi, Moch Ilham Prayudhana (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unsika Semester 6)






Buôn bán lao động trẻ em