PERGESERAN NEWS VALUE DI ERA AI: KETIKA ALGORITMA MENENTUKAN HEADLINE

Karawang, Wartacana.com Lahirnya Artificial Intelligence (AI), memberikan dampak yang signifikan di berbagai sektor, termasuk industri media. Media menjadi salah satu sektor yang mengalami transformasi besar-besaran akibat integrasi teknologi AI. Nilai-nilai berita juga mengalami transfromasi di era AI yang dahulu menggunakan aspek kedekatan, dampak atau akibat dan pengaruh.

Saat ini nampak sekali pergeseran kebiasaan yang dilakukan untuk menyusun pemberitaan, yang dahulu segala prosesnya secara konvensional, sekarang berbondong-bondong berpindah ke cara yang lebih memudahkan. Belakangan ini muncul istilah jurnalisme robot yang bisa mengerjakan pekerjaan jurnalis menjadi lebih ringan, algoritma AI kini mampu menulis berita secara otomatis, salah satu contohnya membuat laporan keuangan yang kecepatannya jauh lebih cepat dibanding manusia. Dengan adanya bantuan robot, tentu saja manusia mampu menyelesaikan segala pekerjaannya menjadi lebih efisien.

Lalu pertanyaannya, apakah nilai-nilai berita klasik masih relevan di era AI, ataukah kini kita sedang menyaksikan pergeseran cara media di dalam penentuan apa yang layak dijadikan “berita”?

Di dalam proses jurnalisme, ada hal yang menjadi dasar atau fundamental dalam penulisan berita, setiap karya jurnalistik haruslah mengandung nilai berita agar menjadi sempurna dan tidak ada kecacatan dalam penyampaiannya. Menurut Johan Galtung dan Mari Holmboe Ruge dalam teorinya (1965) menyampaikan bahwa ada dua belas jenis nilai berita dan berita hendaknya memiliki sekecil-kecilnya satu dari ke-dua belas jenis nilai berita yang disebutkan, beberapa di antaranya adalah frekuensi, dampak suatu peristiwa, kedekatan geografis, kaitan isu tersebut dengan harapan tentang keadaan dunia, dan keanehan acara.

Dalam jurnalisme konvensional, peran manusia itu menjadi gatekeeper atau yang memantau dan menjaga arus informasi agar saat dikonsumsi publik sudah terstruktur dengan baik karena adanya proses keredaksian kompleks yang diselesaikan langsung oleh tangan dan pemikiran manusia. Di era digital yang semuanya serba AI, semua hal di atas sudah tidak sepenuhnya berada di tangan manusia, ada hasil kerja robot yang telah mengkontaminasi nilai-nilai pemberitaan. Hari ini, pendistribusian berita bergantung pada algoritma. Personalisasi kegemaran seseorang dapat mempengaruhi cara kerja algoritma itu muncul. Trending topik, rekomendasi berita, itu dapat membuat audiens menerima informasi berdasarkan pola perilaku atau kegemaran mereka sendiri. Saat ini kebanyakan orang menyukai berita yang sensasional dan penuh intrik, sehingga berita yang memang memiliki kualitas dan news value yang baik, cenderung terpinggirkan oleh berita-berita receh yang berseliweran di media.

Jika dalam berita konvensional, verifikasi menjadi tolak ukur utama, saat ini viralitas-lah yang menjadi raja dari semuanya. Isu politik, ekonomi, global, semuanya akan tersisihkan dengan adanya satu berita selebriti penuh sensasi. Algoritma telah menjadi “redaktur baru” yang bekerja berdasarkan data, bukan pertimbangan verifikasi sosial dan nilai etis yang dijunjung tinggi.
>Salah satu berita media yang terlihat ketika sebuah kasus selebritas atau pernyataan kontroversial public figure menjadi trending topik, media dengan cepat mempublikasikan berbagai sudut pemberitaan. Unsur konflik dan human interest sangat ditonjolkan karena terbukti menarik perhatian pembaca.

Sebaliknya, ketika ada berita pemerintahan yang merilis kebijakan penting tentang negara yang dampaknya lebih luas pada masyarakat, justru pemberitaannya lebih sedikit atau malah kurang tersorot. Padahal dalam segi nilai berita klasik, kebijakan justru lebih memiliki signifikasi yang besar dibandingkan kontroversi public figure. Perbedaan keduanya menunjukkan media tidak sepenuhnya meninggalkan prinsip jurnalistik, tetapi dengan adanya media membuat berita menyesuaikan dengan logika algoritma.

Perubahan ini bukan berarti AI adalah ancaman, namun AI dapat membantu jurnalis dalam menganalisis data, mencari informasi, hingga menghasilkan laporan berbasis data secara lebih cepat. AI juga bisa memperluas akses informasi dan meningkatkan value redaksi. Apabila persoalan berita diserahkan oleh AI, maka berita beresiko kehilangan fungsi utamanya. Informasi penting bagi kepentingan publik bisa kelamaan tenggelam oleh konten yang sekadar menimbulkan emosi.
Disinilah nilai-nilai berita dipertanyakan, AI seharusnya hanya menjadi pembantu bukan penggantinya. Redaktur perlu menyeimbangkan kebutuhan dan kepentingan publik. Selain itu, literasi Masyarakat menjadi kunci, Masyarakat perlu menyadari bahwa apa yang muncul di timeline mereka bukanlah representasi realistis melainkan hasil kurasi algoritma yang disesuaikan dengan preferensi masing-masing penggunanya.

AI mungkin menjadi hal baru bagi media, namun tanggung jawab moral tetap ada pada manusia. Masa depan jurnalisme bukan tentang manusia melawan AI, melainkan bagaimana manusia menggunakan AI untuk menjaga integritas dari nilai-nilai berita. Jika tidak, kita akan hidup dalam informasi yang viral tetapi hilang maknanya.

Penulis: Ageng Mulyani Dewi, Rivanka Veliana Putri, Salsa Fitria, Zalwa Khairunnisa.

Kelas Semester Genap TA 2025-2026

Related Posts

ANTARA EFISIENSI DAN AKTUAL: PERUBAHAN NILAI BERITA DI ERA AI

Karawang, Wartacana.com – Nilai-nilai berita merupakan kerangka normatif yang menjadi dasar bagi wartawan dalam menentukan kelayakan suatu peristiwa untuk diberitakan. Dalam perspektif Eriyanto melalui Analisis Framing Konstruksi, Ideologi, dan Politik…

Read more
Nilai Berita di Era AI dan Arah Baru Jurnalisme

Karawang, Wartacana.com – Ada satu hal yang sering dilupakan ketika kita berbicara tentang perubahan dunia jurnalistik di era digital bukan nilai beritanya yang berubah, melainkan cara nilai itu bekerja. Perkembangan…

Read more

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Missed

ANTARA EFISIENSI DAN AKTUAL: PERUBAHAN NILAI BERITA DI ERA AI

ANTARA EFISIENSI DAN AKTUAL: PERUBAHAN NILAI BERITA DI ERA AI

Nilai Berita di Era AI dan Arah Baru Jurnalisme

Nilai Berita di Era AI dan Arah Baru Jurnalisme

Relevansi Nilai Berita di Era Kecerdasan Buatan

Relevansi Nilai Berita di Era Kecerdasan Buatan

Krisis Kepercayaan di Era Digital: Menguji Integritas Media Saat Realitas Bisa Dibuat oleh Mesin.”

Krisis Kepercayaan di Era Digital: Menguji Integritas Media Saat Realitas Bisa Dibuat oleh Mesin.”

AI dan Transformasi Pers: Ancaman atau Peluang bagi Nilai Berita?

AI dan Transformasi Pers: Ancaman atau Peluang bagi Nilai Berita?

AI dan Nilai Berita: Sekadar Pergeseran atau Mengalami Transformasi?

AI dan Nilai Berita: Sekadar Pergeseran atau Mengalami Transformasi?