Karawang, Wartacana.com- Perkembangan teknologi informasi berbasis komputer telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Salah satu inovasi yang kini semakin menonjol adalah pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di sektor media. Di Indonesia, sejumlah perusahaan media seperti tvOne dan Liputan 6 mulai menggunakan presenter berita berbasis AI generatif sebagai bagian dari transformasi jurnalisme televisi. Transformasi ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah AI menjadi ancaman bagi profesi jurnalis, atau justru membuka peluang baru?
1. Adaptasi Teknologi dan Efisiensi Redaksi
Secara teknis, presenter AI membacakan naskah yang telah disusun oleh jurnalis, lalu menyampaikannya kepada audiens sebagaimana pembawa berita pada umumnya. Dari perspektif industri, langkah ini merupakan respons yang rasional terhadap pesatnya perkembangan teknologi. Penggunaan AI dinilai mampu meningkatkan efisiensi karena dapat menyajikan informasi secara cepat, sistematis, dan presisi kepada masyarakat.
2.Tantangan Etis dan Keterbatasan Rasa
Meskipun menawarkan kecanggihan teknologi, penerapan AI dalam jurnalistik tetap memiliki keterbatasan, terutama karena ekspresi yang dihasilkan cenderung kaku dan kurang natural sehingga penyampaian berita terasa kurang menyentuh sisi kemanusiaan. Hal ini menjadi persoalan penting ketika media menyampaikan peristiwa yang sarat emosi, seperti kabar duka, bencana alam, atau konflik sosial, karena dalam situasi tersebut audiens tidak hanya membutuhkan informasi faktual tetapi juga empati. Karena empati merupakan nilai yang lahir dari pengalaman dan perasaan manusia yang belum dapat sepenuhnya direplikasi oleh sistem komputer, penyampaian berita oleh AI berpotensi menimbulkan jarak emosional antara pesan dan penonton.
3. AI dan Perubahan Pola Kerja di Ruang Redaksi
Kehadiran AI juga membawa perubahan dalam sistem kerja jurnalistik. Tugas-tugas yang sebelumnya memerlukan waktu lama yaitu mulai dari pengolahan data, penyusunan draf berita, hingga pengemasan konten yang kini dapat dilakukan lebih cepat melalui bantuan teknologi AI. Kondisi ini mengharuskan jurnalis untuk menyesuaikan diri dengan pola kerja yang semakin digital, tanpa mengabaikan prinsip-prinsip dasar jurnalistik.
4. Pergeseran Peran Jurnalis di Era Kecerdasan Buatan
Kecerdasan buatan tidak serta-merta menghilangkan profesi jurnalis, melainkan menggeser perannya. Jurnalis kini tidak hanya bertindak sebagai penulis berita, tetapi juga sebagai pengawas, analis, dan penentu nilai atas informasi yang dihasilkan. Kemampuan berpikir kritis, kepekaan sosial, dan pertimbangan etis menjadi keahlian utama yang tetap tidak tergantikan oleh teknologi.
5. Risiko Bias dan Objektivitas Informasi
Meskipun AI mampu memproses data dalam skala besar, sistem tersebut tetap bergantung pada algoritma dan sumber data yang disediakan manusia. Jika data yang digunakan tidak seimbang atau sarat kepentingan tertentu, maka potensi penyimpangan informasi akan muncul. Oleh sebab itu, peran jurnalis tetap krusial dalam memastikan berita yang disampaikan bersifat objektif, seimbang, dan tidak menyesatkan masyarakat.
6. Kolaborasi Manusia dan AI dalam Produksi Berita
Pendekatan yang paling tepat dalam menyikapi perkembangan AI di dunia jurnalistik adalah membangun kerja sama antara manusia dan teknologi. Kecerdasan buatan dapat difungsikan sebagai alat bantu untuk menyelesaikan pekerjaan teknis dan rutin, sedangkan jurnalis tetap memegang kendali dalam proses editorial, pemilihan sudut pandang, serta penyampaian nilai-nilai kemanusiaan. Dengan kolaborasi tersebut, kualitas jurnalistik dapat tetap terjaga di tengah kemajuan teknologi.
AI merupakan wujud kemajuan teknologi yang membawa banyak kemudahan bagi industri media. Namun, kehadirannya tidak seharusnya menggantikan peran manusia sepenuhnya dalam praktik jurnalistik. Masa depan jurnalisme yang ideal adalah ketika AI ditempatkan sebagai pendukung dalam tugas-tugas teknis, sementara jurnalis tetap menjadi aktor utama dalam menghadirkan makna, empati, dan nilai kemanusiaan dalam setiap berita.
Pada akhirnya, meskipun teknologi terus berkembang, nurani serta hubungan antarmanusia tetap menjadi fondasi utama jurnalisme yang berkualitas. Oleh karena itu, AI seharusnya dipandang sebagai alat pendukung, bukan pengganti, karena esensi jurnalisme tetap terletak pada nilai kemanusiaan yang tidak dapat diprogram oleh algoritma.
Referensi:
Alif, I., Akbar, M., & Sultan, M. I. (2025). Penggunaan Kecerdasan Buatan (Ai) Dalam Penulisan Berita pada Portal Berita A-News. SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah, 4(12), 3740-3750.
Hamna, D. M., Mau, M., & Sonni, A. F. (2025). Kecerdasan Buatan di Media Digital Indonesia: (Studi Kasus pada Kompas.com dan Liputan6.com). 14(2), 338–351. https://ejurnal.undana.ac.id/index/index.php/JIKOM/article/view/9675/4554
Penulis: Irma Soviani, Maharani Sayidina Surya Kisdanti, Meilika Putri Nindya (Mahasiswi Ilmu Komunikasi UNSIKA semester 6)







Sảnh chơi bắn cá tại hb88 tuy ra mắt đã lâu nhưng sức hút mang lại trong cộng đồng cược thủ chưa từng hạ nhiệt. Thành viên tham gia được hóa thân thành những ngư thủ thực thụ, chinh phục đa dạng loài sinh vật biển với nhiều mức độ khác nhau. Anh em cần chuẩn bị các dụng cụ hỗ trợ tương ứng, vũ khí hiện đại để có thể săn về cho mình những boss khủng, cơ hội kiếm số tiền lớn nhé. TONY02-26H