Karawang, wartacana.com – Di tengah gempuran teknologi yang menawarkan kemudahan tanpa batas, industri media kini menghadapi dilema besar: apakah Kecerdasan Buatan (AI) layak menggantikan manusia sebagai pembawa berita (news anchor)? Meski terdengar suatu kemajuan dan hemat biaya, sekelompok mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Singaperbangsa Karawang menyuarakan kekhawatiran serius bahwa fenomena ini bukanlah sebuah kemajuan, melainkan langkah mundur bagi etika jurnalisme.
Jurnalisme dibangun di atas kepercayaan. Namun, kehadiran AI di ruang redaksi justru berpotensi melemahkan kepercayaan tersebut. Ketika sebuah berita disampaikan oleh avatar digital, muncul asumsi ketidak percayaan di benak publik: “berita ini bener ga sih?”.
Asumsi ini wajar terjadi. Dimana era manipulasi digital semakin canggih, kehadiran sosok manusia nyata sebagai penyampai pesan menjadi jaminan psikologis bagi audiens bahwa informasi yang mereka terima dapat dipertanggungjawabkan. ” Fenomena ini sesuai sama yang diramalkan oleh Yuval Noah Harari, dimana dimasa dean nanti 90% bahkan lebih, konten di internet itu diproduksi oleh AI “(aditmkm 2026).Jika wajah di layar kaca hanyalah hasil komputasi, validitas berita itu sendiri menjadi taruhannya.
Poin paling krusial yang menolak kehadiran AI sebagai news anchor adalah ketidakmampuannya untuk merasakan emosi, dimana AI tidak memiliki empati, AI tidak memiliki moral dan tidak memiliki empati.
Agung, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Singaperbangsa Karawang mengatakan: “Bayangkan sebuah berita duka cita atau tragedi kemanusiaan dibacakan oleh mesin. AI mungkin akan menyampaikannya dengan bahasa yang frontal atau terlalu kaku, tanpa memahami nuansa kesedihan yang seharusnya dibangun. Padahal, dalam kode etik jurnalistik, cara penyampaian berita sensitif sangatlah diatur agar tidak melukai perasaan publik. Ketakutan terbesarnya adalah AI mempublikasikan hal-hal yang tidak pantas tayang karena gagal memahami konteks sosial dan etika. Ironisnya, jika AI melakukan kesalahan fatal atau memicu kemarahan publik (netizen), bukan mesin itu yang akan dihukum. Manusia di balik layarlah yang tetap harus menanggung konsekuensinya”
Banyak yang beranggapan bahwa AI menawarkan efisiensi waktu. Namun, kemudahan itu justru menjadi polemik baru yang membuat kita merasa semakin terasing. Di balik layar yang serba otomatis, ada interaksi manusia yang perlahan memudar. Kita menjadi begitu sibuk mengejar kecepatan algoritma sampai lupa bahwa esensi sejati dari sebuah pekerjaan bukan hanya soal hasil akhir yang sempurna, tapi tentang kolaborasi, empati, dan tumbuh bersama sebagai sesama manusia.
Seorang pembawa berita manusia memiliki kemampuan unik untuk menghidupkan suasana. Kita sering melihat pembawa berita menggunakan gaya satir atau humor cerdas untuk membuat penonton nyaman. Sentuhan personal inilah yang membuat berita menaji lebih menarik.
AI mungkin bisa membaca teks dengan sempurna, akan tetapi AI tidak bisa membangun koneksi emosional dengan penonton. Tanpa kemampuan untuk “membawa” audiens, kegiatan menonton berita akan kehilangan jiwanya dan menjadi sekadar pertukaran data yang hambar.
Di luar masalah teknis dan etis, ada kecemasan nyata mengenai masa depan profesi jurnalis. Bagi mahasiswa ilmu komunikasi, tren ini secara langsung mengancam lahan pekerjaan yang telah mereka pelajari bertahun-tahun. Mengganti manusia dengan mesin atas nama penghematan biaya mungkin menguntungkan perusahaan, namun merugikan ekosistem jurnalisme yang membutuhkan kepekaan manusia.
penulis: Agung Dwi Alfarizi Tanjung, Mukendi, Moch Ilham Prayudhana.







xn88. tự hào là đơn vị tiên phong trong việc ứng dụng AI vào việc hỗ trợ khách hàng, giúp cá nhân hóa trải nghiệm và đưa ra những gợi ý đặt cược tối ưu. TONY04-14H