Karawang, Wartacana.com – Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di dunia media. Laporan dari Reuters Institute for the Study of Journalism menunjukkan bahwa banyak ruang redaksi mulai menggunakan AI. Teknologi ini membantu mentranskripsikan wawancara, mengolah data, dan menyusun berita berbasis format tertentu (Reuters Institute, 2024).
Selain itu, World Economic Forum menyebut industri media sebagai salah satu sektor yang paling cepat terdampak otomatisasi digital (WEF, 2023). Artinya, AI bukan lagi teknologi masa depan. Teknologi ini sudah hadir dalam praktik jurnalistik saat ini. Oleh karena itu, muncul pertanyaan besar tentang masa depan profesi jurnalis.
AI sebagai Alat Bantu, Bukan Pengganti
Menurut opini kelompok kami, meskipun AI mulai digunakan dalam produksi berita, peran jurnalis belum bisa digantikan sepenuhnya. Saat ini, kemampuan AI masih terbatas pada pengolahan informasi yang sudah tersedia. AI dapat menyalin percakapan, merapikan kalimat, dan membantu menyusun naskah agar tayang lebih cepat.
Sementara itu, proses penting dalam jurnalistik tetap membutuhkan manusia. Misalnya, mencari data langsung ke lapangan dan mewawancarai narasumber. Selain itu, memahami situasi sosial juga memerlukan empati dan kepekaan.
Beberapa media bahkan telah mencoba menggunakan news anchor virtual, termasuk yang dilakukan oleh tvOne. Namun, isi berita tetap berasal dari kerja jurnalis. Dengan demikian, AI hanya membantu dalam penyampaian atau pengemasan berita. Hal ini menunjukkan bahwa AI berperan sebagai alat bantu, bukan pengganti jurnalis.
Efisiensi dan Tantangan Etika
Pandangan tersebut diperkuat oleh hasil penelitian. Muttaqi (2023) menjelaskan bahwa AI mampu meningkatkan efisiensi kerja media. Teknologi ini mempercepat produksi dan pengolahan data. Namun demikian, AI belum bisa menggantikan kemampuan berpikir kritis jurnalis.
Penelitian Sukma et al. (2025) juga menyoroti tantangan etika dalam penggunaan AI. Misalnya, potensi bias algoritma dan risiko kesalahan informasi. Jika tidak diawasi manusia, AI dapat menghasilkan informasi yang kurang akurat.
Bahkan, survei terhadap jurnalis internasional menunjukkan adanya kekhawatiran terkait disinformasi. Sistem otomatis dinilai sulit memahami konteks sosial yang kompleks (Journalists’ Perceptions of AI, 2025). Oleh sebab itu, kehadiran jurnalis tetap penting sebagai penjaga akurasi dan kepercayaan publik.
Transformasi dan Kolaborasi di Masa Depan
Melihat ke depan, jurnalisme kemungkinan besar tidak akan hilang. Sebaliknya, profesi ini akan berubah. AI akan semakin digunakan untuk pekerjaan teknis, seperti merangkum data dan menyiapkan laporan cepat. Selain itu, AI dapat membantu analisis informasi dalam jumlah besar.
Namun, jurnalis akan memiliki peran yang lebih strategis. Mereka akan fokus pada liputan mendalam, pembangunan narasi, dan penjagaan nilai etika pemberitaan. Studi dari Northwestern University (2024) menyebut bahwa AI dapat memperkuat kerja jurnalis jika digunakan secara bijak. Dengan kata lain, masa depan jurnalisme mengarah pada kolaborasi antara manusia dan teknologi.
Kesimpulan
Kemajuan AI membawa peluang sekaligus tantangan bagi dunia jurnalistik. Di satu sisi, AI mempercepat proses kerja media. Di sisi lain, nilai kemanusiaan seperti empati dan tanggung jawab moral tetap menjadi kekuatan manusia.
Oleh karena itu, masa depan jurnalisme bukan tentang siapa yang tergantikan. Sebaliknya, hal ini tentang bagaimana jurnalis mampu beradaptasi dan memanfaatkan teknologi secara bijak. Dengan pengawasan yang kuat dan literasi digital yang baik, AI dapat menjadi mitra yang membantu penyampaian informasi yang akurat dan bertanggung jawab.
Penulis: Andini Sri Lestari, Pasha Nova, dan Zahwa Sabillah (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Semester 6)






