Karawang, Wartacana.com – Kemajuan teknologi AI, khususnya di bidang jurnalistik semakin meningkat. AI bahkan telah merasuk ke dalam proses produksi. Insan pers mulai menerapkan analisis sentimen yang canggih, pembuatan artikel yang kompleks, dan penyebaran berita secara real time berbasis AI.
Namun, dibalik efisiensi itu, kemudian terbesit pertanyaan: apakah yang berubah hanya cara produksi berita? Lalu, bagaimana dengan nilai-nilai yang ada pada berita? Apakah ikut berubah?
Menurut Brian S. Brooks, George Kennedy, Daryl R. Moen, dan Don Ranly dalam News Reporting and Editing (1980), nilai-nilai berita terdiri dari (1) Penting (significance), (2) Aktualitas, (timelines), (3) Pengaruh (magnitude), (4) Kedekatan (proximity), (5) Dampak atau akibat (impact), (6) Ketokohan/keterkenalan (prominence), (7) Konflik (conflict), (8) Ketertarikan manusia (human interest), (9) Keluarbiasaan (unusualness), dan (10) Unik (unique).
Nilai-nilai berita tersebut, perlahan bertransformasi seiring dengan berkembangnya teknologi AI. Saat ini, nilai penting (significance) dalam berita telah mengalami pergeseran. Dulu, seorang jurnalis akan menentukan berita apa yang penting untuk diketahui masyarakat atas dasar kebutuhan informasi dan peristiwa yang terjadi di sekitar mereka.
Namun, saat ini nilai tersebut sudah mulai berubah. Saat ini, berita dibuat cenderung berdasarkan algoritma. Hal ini tercermin dalam penggunaan algoritma yang mampu menghasilkan narasi berita secara otomatis, menganalisis tren isu di media sosial, dan menyusun konten berdasarkan minat atau perilaku audiens secara real time (Sukendro et al., 2024).
Selain itu, aktualisasi (timeliness) juga menjadi salah satu aspek penting dalam berita di era AI. Berita yang aktual dapat memberikan informasi yang masih hangat dan baru saja terjadi kepada masyarakat.
Kemudian, dalam nilai suatu berita juga harus memiliki pengaruh (magnitude) dan dampak (impact) kepada audiens. Jurnalis harus memastikan bahwa berita yang dibuat bisa memberikan pengaruh dan dampak terhadap audiens sehingga ada perubahan perspektif dan persepsi dari audiens terhadap berita yang disajikan.
Saat ini, di era AI, pengaruh (magnitude), dampak (impact), dan ketertarikan manusia (human interest) dari pemberitaan dapat diprediksi dan dianalisis menggunakan analisis sentimen publik. Seperti penelitian yang dilakukan oleh (Hendiana et al., 2024) tentang penggunaan algoritma Support Vector Machine (SVM) untuk meningkatkan ketepatan dan efisiensi analisis sentimen terhadap komentar berita. Hasilnya menunjukkan bahwa bahasa Indonesia dalam komentar berita di Detik.com mempengaruhi sentimen distribusi.
Kedekatan (proximity) dalam berita, biasanya menggambarkan geografi, budaya, demografi atau psikologi antara sesuatu isu atau peristiwa dengan masyarakat.
Sementara, saat ini di era AI, berita disajikan berdasarkan personalisasi sehingga muncul istilah filter bubble dan echo chamber, yaitu fenomena di mana individu hanya terpapar pada informasi yang memperkuat keyakinan mereka sendiri dan menghindari atau menolak pandangan yang berbeda (Alfifa et al., 2025). Personalisasi kerap berdampak pada penyempitan paparan informasi dengan membentuk filter bubble dan echo chamber (Pariser, 2011).
Kemudian, dalam suatu berita juga tidak bisa lepas dari nilai ketokohan (prominence). Di era AI, nilai ketokohan mengalami pergeseran mengarah pada visibilitas digital yang memprioritaskan tokoh yang ramai diperbincangkan.
Konflik (conflict) juga sejak dulu selalu menjadi daya tarik berita. Misalnya di era AI, berita yang kontroversial menghasiilkan klik dan komentar tinggi sehingga berpotensi menjadi komoditas digital, bahkan memperbesar polarisasi publik.
Nilai keluarbiasaan (unusualness) kini kian diukur dari seberapa viral sebuah peristiwa, bukan lagi semata dari kelangkaan atau besarnya dampak sosialnya. Apa yang ramai diperbincangkan di media sosial lebih cepat naik menjadi headline, meskipun belum tentu memiliki arti penting bagi kepentingan publik secara luas.
Di sisi lain, nilai unik (unique) juga berada dalam tantangan baru. Ketika banyak media mengandalkan sistem AI dengan pola dan template yang serupa, pemberitaan berisiko menjadi seragam. Keunikan yang dahulu tumbuh dari naluri, kreativitas, dan sudut pandang khas jurnalis, kini sangat ditentukan oleh sejauh mana redaksi mampu mengelola teknologi tanpa kehilangan identitas editorialnya.
Pada akhirnya, kemajuan AI tidak hanya mengubah cara produksi berita, tetapi juga menggeser nilai-nilai yang menjadi dasar pemberitaan. Nilai-nilai tersebut mengalami redefinisi di bawah pengaruh algoritma dan digitalisasi. Di titik inilah jurnalisme diuji, apakah akan sepenuhnya mengikuti arus teknologi atau tetap menempatkan keoentingan publik sebagai kompas utama dalam menentukan nilai sebuah berita.
Penulis: Amelia Febriyanti, Annisa Ridwan, Ukhtina Nabila Khanun (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Semester 6)
Sumber:
Alfifa, A. N., Batubara, V. F. R., Sakinah, K., Manik, J., & Yoes, R. A. (2025). Media Sosial dan Pembentukan Opini Publik (Analisis Studi Kasus Echo Chamber Pada Interaksi Komentar di Akun Instagram@ Turnbackhoaxid Dalam Konteks Post–Truth). Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, 2(6). https://ojs.daarulhuda.or.id/index.php/Socius/article/view/1130
Brooks, B. S., Kennedy, G., Moen, D. R., & Ranly, D. (2010). Workbook for news reporting and writing. Macmillan.
Dalimunthe, H. A., Septika, G., Nabawi, A., & Manurung, A. S. (2025). Transformasi Pers Indonesia di Era Digital dan Kecerdassan Buatan: Jejak Digital dan Warisan Media Cetak. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, 2(11). https://www.ojs.daarulhuda.or.id/index.php/Socius/article/view/1892
Hendiana, H., Purnamasari, A. I., & Ali, I. (2024). Analisis sentimen komentar berita Detik. com menggunakan algoritma suport vektor machine (SVM). JATI (Jurnal Mahasiswa Teknik Informatika), 8(3), 3175-3181. https://ejournal.itn.ac.id/index.php/jati/article/view/8421
Naufal, M. (2025). Etika Algoritma Rekomendasi Media Dan Polarisasi. Communicator Sphere, 5(2), 72-82. https://communicatorsphere.org/index.php/communicatorsphere/article/view/138
Pariser, E. (2011). The filter bubble: What the Internet is hiding from you. penguin UK. https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=-FWO0puw3nYC&oi=fnd&pg=PT24&dq=pariser+2011+filter+bubbles&ots=
Sukendro, G. G., Yoedtadi, M. G., & Pandrianto, N. (2024). Kecerdasan Buatan dan Evolusi Media dan Komunikasi. Gramedia Pustaka Utama. https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=TgH2EAAAQBAJ&oi=fnd&pg=PP1&dq=
Suryanti, P., & Apriadi, E. A. (2025). Kecerdasan buatan dalam produksi konten jurnalistik: Analisis etika dan akurasi komunikasi berita berbasis AI. Journal Media Public Relations, 5(1), 253-263. https://www.neliti.com/publications/618953/kecerdasan-buatan-dalam-produksi-konten-jurnalistik-analisis-etika-dan-akurasi-k
Taya, L., & Irmawati, I. (2023). Unsur dan nilai berita dalam proses pemilihan halaman beranda Tribunnewssultra. com. CORE: Journal of Communication Research, 1-11. https://journal.unpacti.ac.id/index.php/CORE/article/view/887/493





