Karawang, Wartacana.com- Nilai berita merupakan karakteristik yang dipakai oleh jurnalis dalam menempatkan sebuah peristiwa atau suatu kejadian yang memiliki kelayakan untuk disiarkan dan diliput oleh media. Perkembangan kecerdasan buatan telah mengubah industri media, terutama dalam cara berita diproduksi dan dinilai. AI memungkinkan pengolahan data dan penulisan berita secara otomatis dalam waktu yang sangat singkat. Akibatnya, nilai aktualitas (timeliness) kini lebih menekankan pada kecepatan produksi informasi.
Selain itu, AI membantu jurnalis menyusun berita berbasis data dengan lebih efisien, terutama untuk berita rutin seperti laporan peristiwa atau informasi faktual terstruktur. Dengan demikian, media dapat menyajikan informasi lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Namun, penekanan pada kecepatan sering kali membuat kedalaman informasi menjadi berkurang.
1. Personalisasi dan Pengaruh Berita
Selain memengaruhi aktualitas, penggunaan AI juga berdampak pada nilai signifikansi atau pengaruh berita melalui sistem personalisasi konten. Melalui teknologi ini, media dapat menyesuaikan berita secara real-time sesuai preferensi audiens. Akibatnya, distribusi informasi menjadi lebih efisien dan tepat sasaran.
Namun demikian penggunaan algoritma dapat membuat audiens hanya menerima berita sesuai minat mereka. Oleh karena itu, keberagaman informasi berpotensi berkurang dan fungsi media sebagai ruang publik dapat terpengaruh. Dalam praktiknya, AI dipandang sebagai peluang sekaligus ancaman karena meningkatkan efisiensi, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran tentang kualitas berita (Hastjarjo & Dewi, 2025).
2. Konflik dan Keunikan Berita
Di sisi lain, nilai konflik dan keunikan (uniqueness) juga menghadapi tantangan di era AI. Sistem AI bekerja berdasarkan data yang tersedia sehingga berpotensi mereproduksi bias atau kesalahan dari data tersebut. Selain itu, berita yang dihasilkan AI dapat kehilangan konteks sosial dan budaya jika tidak diawasi dengan baik.
Akibatnya, informasi yang disampaikan menjadi kurang menggambarkan realitas secara utuh. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi belum sepenuhnya mampu menggantikan peran jurnalis dalam memahami kompleksitas masyarakat.
3. Human Interest dan Peran Manusia
Sementara itu, ketertarikan manusia (human interest) dan ketokohan (prominence) merupakan nilai berita yang paling sulit dipenuhi oleh AI. Berita dengan unsur kemanusiaan memerlukan empati, intuisi, dan pemahaman sosial yang mendalam. Hingga saat ini, kemampuan tersebut masih menjadi keunggulan jurnalis manusia.
Oleh karena itu, keterlibatan manusia tetap diperlukan untuk menjaga kualitas informasi. Selain itu, penggunaan AI juga menimbulkan persoalan etika, terutama terkait transparansi dan tanggung jawab atas informasi yang dipublikasikan.
Penggunaan AI dalam jurnalisme telah menyebabkan pergeseran nilai berita dari yang berorientasi pada kedalaman menjadi lebih berorientasi pada kecepatan dan efisiensi. Meskipun AI memberikan kemudahan dalam produksi berita, peran jurnalis tetap diperlukan. Dengan demikian, jurnalis harus memastikan bahwa berita tetap memenuhi prinsip akurasi, keseimbangan, dan tanggung jawab sosial.
Sumber:
Dewi, S. S., & Hastjarjo, S. (2024). Persepsi Jurnalis Tentang Pemanfaatan Artificial Intelligence ( AI ) Dalam Pembuatan Berita : Studi Kasus Jurnalis Lokal Surakarta. 17(2), 95–102. https://jurnal.uns.ac.id/kom/article/view/95625
Hastjarjo, S., & Dewi, S. S. (2025). ANTARA PELUANG DAN ANCAMAN: PENGGUNAAN A RTIFICIAL I NTELLIGENCE (AI) DALAM PRO SES PRODUKSI BERITA MEDIA LOKAL DI KOTA SURAKARTA. 4, 1–14. https://e-journal.iahn-gdepudja.ac.id/index.php/JSv/article/view/2497/854
Penulis:Irma Soviani, Maharani Sayidina Surya Kisdanti, Meilika Putri Nindya (Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNSIKA semester 6)







Dịch vụ giết người thuê