Karawang, Wartacana.com – Pemberitaan sekarang semakin dipertanyakan kredibilitasnya, majunya teknologi dan sistem AI yang digunakan membuat para pembaca berita meragukan isi dari pemberitaan tersebut. “Apa masyarakat wajib mempercayai berita sekarang?” Pertanyaan tersebut terus bermunculan dikarenakan semua orang dapat menjadi jurnalis di era perkembangan AI saat ini.
Secara teknis, kecanggihan teknologi AI memang menawarkan berbagai keunggulan. Cara kerja teknologi AI sendiri dapat mempermudah kecepatan dalam pengolahan data, mulai dari otomatisasi penulisan berita, analisis data, hingga kemunculan news anchor berbasis AI. Mereka mampu bekerja tanpa lelah, menyampaikan berita secara konsisten, serta mengurangi biaya produksi media. Konteks efisiensi industri menjelaskan media yang kini dituntut bergerak cepat di ranah digital, presenter AI terlihat sebagai solusi yang logis dan modern.
Namun, penerapan teknologi ini dalam produksi pemberitaan tidak sepenuhnya dapat dilakukan. Teknologi ini tidak dapat memuat pemberitaan yang baru saja terjadi, teknologi harus diproses datanya oleh jurnalis manusia. Opini ini sejalan dengan pertanyaan dari Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital yang dikutip melalui situs berita radarsukabumi.com, “AI tidak akan melalukan verifikasi kalau tidak tidak diminta. Disiplin verifikasi ini lah yang membedakan jurnalisme professional dengan konten otomatis”, ujar Nezar Patria.
Teknologi sistem AI yang sudah banyak digunakan oleh media untuk mengolah data secara cepat, sehingga tidak memerlukan waktu lama untuk memproses berita tersebut. Publik berasumsi hal tersebut dapat mempengaruhi isi dan kualitas berita serta keakuratan berita yang disampaikan. Banyak sistem AI yang digunakan oleh media beroperasi secara tertutup, sehingga sulit bagi publik maupun pihak pengawas media untuk menilai bagaimana informasi diproses dan disajikan. Ketika terjadi kesalahan atau penyebaran disinformasi, sulit untuk menentukan pihak yang bertanggung jawab secara jelas, terutama jika sistem bekerja secara otomatis dan tanpa intervensi manusia.
Teknologi ini tidak terlepas dari pemberitaan hoax, dengan kemudahan tersebut orang bisa saja membuat pemberitaan palsu. Salah satu contoh relevannya, kasus dari mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang dikutip melalui liputan6.com menjelaskan bahwa salah satu pengguna media Instagram menyebarkan berita hoaks. Pengguna tersebut membagi postingan video yang mengungkapkan bahwa Sri Mulyani berkata bahwa guru itu adalah beban negara, hal tersebut tersebar luas hingga ke platform media sosial lain. Faktanya bahwa Sri Mulyani tidak pernah mengungkapkan hal tersebut, pemberitaan itu ada karena dibuat oleh Deepfake AI. Pemberitaan semacam ini tidak jelas pertanggungjawabannya. Kasus ini membuktikan bahwa pemberitaan saat ini perlu dipertanyakan kredibilitasnya, apakah pemberitaan tersebut sudah sesuai dengan kaidah dan etika jurnalis.
Isu-isu yang diangkat pun lebih ke arah sensasional dan diberikan sedikit bumbu. Banyaknya pemberitaan sekarang mengarah kepada hal-hal yang tidak penting seperti kehidupan pribadi seseorang. Pemberitaan kasus perselingkuhan Ridwan Kamil dan Lisa mariana yang diangkat ke publik, menurut masyarakat kurang berkualitas untuk diberitakan. Masyarakat menganggap pemberitaan tersebut sebagai berita “sampah” atau “tidak penting” karena dianggap terlalu mencampuri urusan pribadi seseorang dan tidak ada nilai berita yang dianggap bernilai. Perubahan pemberitaan tersebut dianggap sebagai lunturnya nilai-nilai dari berita. Kecepatan suatu pemberitaan bukan berarti ketepatan dari akurasi suatu fakta.
Penulis: Fajar Khairunnisa, Afifah Putriana Sari, Eneng Dinda






