Karawang, wartacana.com – Pembangunan Underpass Gorowong di Kabupaten Karawang yang menghubungkan wilayah Klari dan Warung Bambu sempat menjadi pusat perhatian publik.
Setelah munculnya kerusakan berupa lubang parah pada badan jalan tidak lama setelah infrastruktur strategis tersebut dioperasikan.
Kerusakan dini pada proyek dengan masa konstruksi enam bulan ini memicu kekhawatiran masyarakat terkait ketahanan bangunan jangka panjang. Kondisi ini jugaa berpotensi mengganggu mobilitas harian warga yang sangat bergantung pada jalur tersebut.
Kerusakan parah dan lubang di jalan bawah underpass sempat menyebabkan arus lalu lintas tersendat akibat para pengemudi yang terpaksa melambat saat melintas. Selain menghambat mobilitas, kondisi ini dinilai rawan memicu kecelakaan lalu lintas.
Randi (22), seorang pengendara motor yang kerap melintas, mengeluhkan tingginya risiko kecelakaan terutama saat intensitas hujan tinggi. “Ketika ada jalan berlubang, pastinya berbahaya buat pengendara motor. Terlebih saat hujan, lubang akan tertutup air dan risiko kecelakaan pasti lebih besar,” Ungkapnya (21/04/2026).
Bahaya tersebut turut dibenarkan oleh Reynaldi (21), pengguna jalan lainnya. Ia menambahkan bahwa lubang di underpass tersebut kerap memaksa pengendara mengerem mendadak, yang mana sangat berisiko memicu tabrakan beruntun dari arah belakang.
“Jadi yang biasanya tinggal keluar aja gitu lewat, tapi ini ada hambatan lubang jadi motor atau mobil kan otomatis harus berhenti dulu dan orang yang dibelakangnya itu kan kayak kaget juga nih itu takutnya bisa kecelakaan juga, itu sih dari saya Dan sekarang kan jalan nya sudah diperbaiki ya kak, dan mulus kembali.” Ujar Reynaldi (21/04/2026)
Masyarakat memang sempat dibuat heran dan mengeluhkan kondisi Underpass Gorowong yang dinilai janggal. Pasalnya, infrastruktur strategis ini belum genap sebulan beroperasi namun badan jalannya sudah mengalami kerusakan parah. Kegelisahan para pengguna jalan kian memuncak karena proses perbaikan terkesan berjalan bolak-balik.
“Ya pasti tersendat aja, teh. Tersendat aja. Jadi lalu lintas, tersendat. Karena memang berlubang, pengemudi pun mungkin lebih berat hati ya, teh. Jadi terhambat aja. Saya kira mungkin tahap awal mungkin cukup. Mungkin untuk tahap berikutnya kalau ada kerusakan lagi ya pasti ada perbaikan lagi kan,” Ujar Ian (21/04/2026).
Setelah peresmian underpass gorowong pada 29 Desember 2025, terdapat kerusakan jalan pada 22 januari 2026. Kemudian dilakukan perbaikan awal pada 24 januari 2026.
Hanya dalam hitungan empat hari jalanan tersebut kembali rusak dan berlubang pada 28 Januari 2026. Hingga akhirnya Dinas PUPR melakukan penanganan ulang pada bulan April ini.

(Sumber: Flourish)
Meski kondisi jalan saat ini dinilai cukup baik, warga masih meragukan ketahanan aspal dalam jangka panjang. Keraguan tersebut muncul karena proyek yang baru diresmikan beberapa bulan lalu telah beberapa kali mengalami perbaikan.
Warga menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan kualitas jalan tersebut, sehingga diperlukan waktu untuk melihat apakah perbaikan yang dilakukan benar-benar mampu bertahan dalam jangka panjang.
Hal itu diungkapkan oleh salah seorang warga yang mengaku belum bisa memastikan kualitas jalan hanya dari kondisi yang terlihat saat ini.
“Sebenarnya sih karena memang ini belum triwulan kali ya, teh. Dari awal Januari pembukaan, sekarang bulan April. Kemarin sudah beberapa kali ada perbaikan. Mungkin kalau secara umum sih sudah. Tapi kan nanti ke depannya seperti apa kita nggak tahu kan,” Ujar Ian Selaku Warga Sekitar (21/04/2026).

Pihak Dinas PUPR Karawang mengakui bahwa langkah yang selama ini dilakukan masih bersifat penanganan sementara guna menjaga kondisi jalan tetap aman dan dapat digunakan oleh masyarakat.
Menurut pihak dinas, perbaikan berupa pengaspalan ulang memang dapat mengatasi kerusakan dalam jangka pendek, Hanya saja, metode tersebut tidak dapat dijadikan solusi utama apabila akar permasalahan yang menyebabkan kerusakan jalan belum ditangani secara menyeluruh.
Oleh karena itu, pemerintah kini memfokuskan upaya pada penanganan jangka panjang dengan menelusuri sumber utama kerusakan yang terjadi di kawasan underpass.
Berdasarkan hasil evaluasi teknis, kerusakan dini pada permukaan jalan diketahui dipengaruhi oleh faktor alam berupa rembesan mata air yang muncul dari bawah struktur jalan. Kondisi tersebut menyebabkan kadar air di bawah lapisan aspal meningkat sehingga berpotensi mempercepat kerusakan apabila tidak segera ditangani secara permanen.
Untuk memastikan masalah serupa tidak terus berulang, Dinas PUPR Karawang bersama tim teknis dan konsultan perencana telah melakukan pemetaan terhadap titik-titik rembesan yang ditemukan di lokasi.
Langkah ini menjadi dasar dalam penyusunan strategi mitigasi jangka panjang yang diharapkan mampu mengatasi sumber permasalahan secara menyeluruh, bukan sekadar memperbaiki dampak yang terlihat di permukaan jalan.
Saat dimintai penjelasan lebih rinci mengenai bentuk penanganan yang akan dilakukan, perwakilan tim teknis Dinas PUPR Karawang menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan sistem pengaliran khusus untuk mengendalikan rembesan air yang selama ini menjadi penyebab utama kerusakan jalan.
“Kami mengonfirmasi ada faktor alam berupa rembesan mata air. Namun saat ini, perbaikan yang kami lakukan sudah mencakup pembuatan drainase vertikal khusus. Kami pastikan perbaikan ini bukan sekadar tambalan, tapi solusi permanen agar air tidak lagi merusak struktur jalan,” Ujar Julianto Nugroho, Selaku Ketua Tim Subtansi Jembatan di Dinas PUPR Karawang (28/04/2026).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penanganan jangka pendek selama ini dilakukan dengan pengaspalan ulang pada titik-titik yang mengalami kerusakan. Namun ke depannya, pemerintah akan berfokus pada pengendalian sumber rembesan air melalui pembangunan saluran drainase yang telah dirancang berdasarkan hasil pemetaan di lapangan.
“Kalau perbaikan jangka pendek ini kita tinggal mengaspal lagi ya, tapi kan kita nggak bisa seperti itu ya. Jadi kemarin, untuk jangka panjang, karena titik-titik mata air itu sudah kita petakan, kita akan berusaha menutup saluran,” Jadi begitu air keluar langsung masuk ke saluran drainase seperti itu, jadi memang kebetulan dari konsultannya juga kami berkonsultasi dengan konsultan, sudah ada perencanaan jangka panjang seperti itu, supaya pada saatnya nanti, air itu nggak akan mengganggu lagi.” Ujar Julianto Nugroho, Selaku Ketua Tim Subtansi Jembatan di Dinas PUPR Karawang (28/04/2026).
Melalui evaluasi berkelanjutan dan pengawasan yang dilakukan secara intensif, Dinas PUPR Karawang berharap upaya penanganan permanen tersebut dapat menjaga kualitas infrastruktur dalam jangka panjang.
Pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk memastikan fasilitas publik yang telah dibangun dapat berfungsi secara optimal, sehingga memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat yang melintas setiap hari.
Penulis: Irma Soviani, Maharani Sayidina Surya Kisdanti, Meilika Putri Nindya (Mahasiswi Ilmu Komunikasi UNSIKA Semester 6)





