Karawang, Wartacana.com – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence semakin memengaruhi praktik jurnalisme di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Teknologi AI kini digunakan dalam penulisan berita secara otomatis, analisis data besar, hingga kehadiran presenter virtual di layar televisi. Fenomena tersebut menimbulkan perbincangan luas mengenai masa depan jurnalisme dan peran jurnalis manusia di tengah dominasi teknologi.
Sejumlah pengamat dan penulis menilai bahwa AI membawa peluang sekaligus tantangan serius bagi dunia media.
Galuh Surya Laksana, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Singaperbangsa Karawang, menilai bahwa AI seharusnya dipandang sebagai alat bantu, bukan ancaman. Menurutnya, teknologi ini mampu meningkatkan efisiensi kerja redaksi, khususnya dalam pengolahan data dan produksi berita rutin.
“AI bisa membantu jurnalis mengolah data dengan cepat, tetapi keputusan editorial dan tanggung jawab etis tetap harus berada di tangan manusia,” ujar Galuh. Ia menekankan bahwa jurnalisme tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga akurasi dan empati terhadap publik.
Pandangan berbeda disampaikan oleh Jan Matheus, Mahasiswa Ilmu Komunikasi. Ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap potensi hilangnya nilai kemanusiaan dalam jurnalisme jika AI digunakan tanpa kontrol yang jelas. contoh spesifik seperti penggunaan AI di media Indonesia (misalnya, TVONE yang pakai tools seperti ChatGPT untuk ringkasan berita)
“Ketika algoritma menentukan berita apa yang layak tayang berdasarkan popularitas, jurnalisme berisiko kehilangan fungsinya sebagai ruang edukasi dan kontrol sosial,” ujar Jan. Ia menilai bahwa kelompok rentan justru bisa semakin terpinggirkan karena dianggap tidak menguntungkan secara sistematika.
Sementara itu, Dzaki, Mahasiswa Ilmu Komunikasi, menilai bahwa adaptasi merupakan kunci agar jurnalisme tetap relevan. Menurutnya, menolak AI bukanlah pilihan realistis di tengah perkembangan teknologi yang pesat.
“Jurnalis harus beradaptasi dengan AI, bukan melawannya. Peran manusia justru akan bergeser ke arah yang lebih strategis, seperti investigasi, analisis mendalam, dan pengawasan etika,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pemahaman terhadap teknologi menjadi kompetensi penting bagi jurnalis masa depan.
Perbincangan mengenai AI dan jurnalisme juga sejalan dengan pandangan pemikir komunikasi Marshall McLuhan yang menyebut bahwa teknologi komunikasi tidak pernah netral, melainkan membentuk cara manusia memahami realitas. Dalam konteks ini, AI dinilai mampu memengaruhi cara berita diproduksi dan dikonsumsi masyarakat.
Kami sepakat bahwa masa depan jurnalisme tidak akan sepenuhnya dikuasai mesin. Nilai-nilai dasar seperti kebenaran, kepentingan publik, dan etika profesi tetap menjadi fondasi yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.
Dengan demikian, AI dipandang sebagai bagian dari perkembangan jurnalisme, bukan akhir dari profesi jurnalis. Tantangan ke depan adalah memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap sejalan dengan tanggung jawab sosial media kepada publik.
Penulis: Galuh Surya Laksana, Muhammad Dzaki Hilmi dan Jan Matheus Frederick Sopacua






