Karawang, Wartacana.com – Dunia penyiaran Indonesia sedang mengalami perubahan besar. Perubahan ini tidak hanya terlihat pada modernisasi studio atau peningkatan kualitas gambar, tetapi juga pada sosok yang membawakan berita di depan kamera. Kini, selain presenter manusia, mulai hadir presenter berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang tampil sangat meyakinkan hingga sulit dibedakan dari manusia asli.
tvOne menjadi media pertama di Indonesia yang secara resmi memperkenalkan tiga presenter AI bernama Nadira, Sasya, dan Bumi. Ketiganya dirancang dengan wajah, suara, dan gerakan yang tampak natural melalui teknologi deepfake dan text-to-speech berbasis neural network. Meskipun tidak memiliki wujud fisik, presenter ini mampu membaca berita dan menampilkan ekspresi layaknya penyiar profesional.
Langkah tvOne kemudian diikuti oleh Liputan 6 yang menghadirkan presenter AI untuk segmen Cek Fakta dan News Flash. Kedua segmen ini dipilih karena membutuhkan kecepatan, ketepatan, dan format penyajian yang terstruktur. Dengan strategi tersebut, Liputan 6 membagi tugas antara AI dan jurnalis manusia sesuai karakteristik pekerjaannya.
Fenomena ini dapat dianalisis melalui Teori Difusi Inovasi yang dikemukakan Everett M. Rogers pada 1962. Rogers menjelaskan bahwa tidak semua pihak langsung menerima inovasi; ada kelompok yang mengadopsi lebih awal, seperti innovators dan early adopters. Dalam konteks ini, tvOne dan Liputan 6 dapat dikategorikan sebagai early adopters karena berani mengimplementasikan teknologi AI lebih dahulu dibanding media lain di Indonesia.
Penggunaan presenter AI menawarkan sejumlah keuntungan. AI dapat bekerja selama 24 jam tanpa lelah, menekan biaya operasional jangka panjang, serta menjaga konsistensi performa. Selain itu, AI mampu memproses data dan menyusun informasi dengan cepat, sehingga sangat efektif untuk pemberitaan yang membutuhkan respons segera.
Namun, efisiensi bukan satu-satunya ukuran kualitas jurnalisme. Jurnalisme juga mengandung dimensi empati, pengalaman lapangan, dan sensitivitas sosial yang tidak sepenuhnya dapat digantikan mesin. Di sinilah muncul pertanyaan apakah kecepatan dan konsistensi cukup untuk menjaga kedalaman makna dalam pemberitaan.
Fenomena Uncanny Valley yang diperkenalkan Masahiro Mori pada 1970 turut menjelaskan respons audiens terhadap presenter AI. Ketika sosok digital terlihat sangat mirip manusia tetapi tidak sepenuhnya natural, penonton dapat merasakan kejanggalan yang menimbulkan ketidaknyamanan. Kondisi ini berpotensi memengaruhi tingkat kepercayaan publik terhadap penyampai berita.
Isu lain yang penting adalah potensi bias dalam sistem AI. Algoritma dilatih menggunakan data yang dikumpulkan manusia, sehingga sudut pandang tertentu dapat terbawa ke dalam proses seleksi dan penyajian informasi. Dalam konteks Indonesia yang beragam, bias ini berisiko mengabaikan suara kelompok atau daerah yang kurang terwakili.
Persoalan tanggung jawab juga menjadi tantangan. Dalam jurnalisme konvensional, tanggung jawab jelas berada pada wartawan dan redaksi. Namun, ketika kesalahan muncul dari sistem AI, batas tanggung jawab antara pengembang, redaksi, dan perusahaan media menjadi lebih kompleks.
Dari sisi regulasi, Indonesia masih berada pada tahap awal pengaturan penggunaan AI di media. Berbeda dengan Uni Eropa yang telah memiliki AI Act, Indonesia belum memiliki regulasi khusus yang mengatur transparansi penggunaan presenter AI. Kondisi ini membuat standar penerapan AI di setiap media berpotensi berbeda-beda.
Transparansi menjadi prinsip penting dalam menjaga kepercayaan publik. Media memiliki tanggung jawab etis untuk memberi tahu audiens bahwa presenter yang tampil adalah AI. Kejujuran tersebut menjadi fondasi utama dalam mempertahankan kredibilitas jurnalisme.
Kehadiran AI juga memunculkan kekhawatiran terkait masa depan profesi jurnalis. Beberapa pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang memang berpotensi tergantikan otomatisasi. Namun, peran investigasi mendalam, analisis kontekstual, dan peliputan empatik tetap membutuhkan sentuhan manusia.
Model yang ideal ke depan adalah kolaborasi antara AI dan jurnalis manusia. AI dapat menangani tugas teknis seperti merangkum data dan mendistribusikan konten, sementara jurnalis fokus pada pendalaman isu dan penjagaan etika. Dengan pengawasan yang tepat, kolaborasi ini dapat meningkatkan kualitas sekaligus efisiensi pemberitaan.
Pada akhirnya, dilema antara efisiensi dan empati menjadi inti dari penerapan presenter AI dalam jurnalisme Indonesia. Teknologi tidak dapat dihindari, tetapi penggunaannya harus disertai kebijaksanaan, regulasi yang jelas, dan komitmen terhadap nilai-nilai jurnalistik. Standar utama tetap sama: menghadirkan informasi yang benar, adil, dan bermakna bagi masyarakat.
Penulis: Sahyamelia Ardhani, Syavira Mufida, Alfangga Anjuan S (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unsika Semester 6)






