Karawang, Wartacana.com- Media massa memiliki peran dalam membentuk opini publik, menyebarkan informasi, dan menjelaskan fungsi kontrol sosial. Dalam praktik jurnalistik, proses pemilihan dan penyajian berita selalu bersangkutan dengan nilai-nilai berita. Nilai-nilai inilah yang menjadi standar dalam menentukan apakah suatu peristiwa layak diberikan atau tidak.
Namun, semenjak kemunculan AI yang semakin berkembang di zaman sekarang ini telah
mengubah cara media bekerja.
AI tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu teknis, tetapi juga mempengaruhi keputusan redaksional, pola produksi berita, hingga distribusi konten ke publik. Yang akibatnya nilai-nilai berita selama ini dianggap telah bergeser dari yang seharusnya. Seperti yang mungkin diketahui bahwa ada dua tambahan nilai berita, yaitu sensasional, dan sensual.
Tempo institute mengatakan bahwa jika ada informasi baru yang sensasional misalnya seperti politikus yang terkenal punya istri baru, jika dilihat dari nilai berita sensasional, maka berita ini akan lolos, karena ada tokoh terkenalnya. Namun kalo dilihat dari sisi lain, misalnya soal privasi dan manfaat untuk public, maka informasi ini belum tentu layak diberitakan.
Contohnya, seperti kasus Jeffrey Epstein, seseorang penyandang dana/investor dari Amerika yang mempunyai lingkup sosial dan relasi yang tinggi seperti presiden Amerika Donald Trump, beberapa politikus dan selebritas. Pada tahun 2006 Jeffrey Epstein dipenjara karena terjerat dalam kasus prostitusi selama 18 bulan. Lalu kembali dipenjara pada tahun 2019 karena perdagangan manusia dengan tujuan eksploitasi dan perbudakan seksual pada anak dibawah umur.
Namun namanya kembali diperbincangkan karena adanya penemuan file pada 19 Desember 2025 lalu, yang akhirnya secara resmi dirilis pada 30 januari 2026 kemarin, file tersebut berisikan semua bukti-bukti atas kejahatannya, menjadi viral Kembali karena ada satu berkas yang mengungkap bahwa potongan-potongan kiswah (kain suci) ka’bah dikirim dari Arab Saudi oleh wanita yang bernama Aziza Al-Ahmadi kepada Jeffrey Epstein. Aziza mengirim pesan email pada tahun 2017 yang menjelaskan bahwa kain tersebut telah disentuh oleh lebih dari 10 juta muslim selama tawaf dan membawa doa, serta harapan-harapan para muslim.
Contoh berita mengenai viralnya kembali dokumen kasus Jeffrey Epstein menunjukkan bagaimana nilai-nilai berita klasik tetap bekerja kuat di era AI, bahkan semakin diperkuat oleh sistem algoritmik.
Pertama, nilai konflik (conflict) menjadi unsur paling dominan. Kasus Epstein sejak awal mengandung unsur skandal, dugaan kejahatan seksual, serta spekulasi keterlibatan elite global. Konflik antara dugaan kejahatan, kekuasaan, dan misteri kematian menciptakan ketegangan yang tinggi. Dalam logika media digital, konflik adalah bahan bakar utama engagement.
Kedua, nilai ketokohan (prominence) sangat kuat dalam kasus ini. Isu menjadi viral bukan semata karena kasusnya, tetapi karena adanya dugaan keterlibatan tokoh-tokoh berpengaruh. Kehadiran figur publik dalam sebuah pemberitaan otomatis meningkatkan daya tarik berita. Dalam konteks ini, sistem AI dan algoritma media sosial cenderung memprioritaskan konten yang menyebut nama besar karena terbukti menghasilkan klik dan interaksi tinggi.
Ketiga, nilai dampak (impact) berskala global. Kasus ini tidak terbatas pada satu negara, melainkan melibatkan jaringan internasional. Ketika dampaknya meluas dan menyentuh isu moral, hukum, serta politik global, maka nilai beritanya semakin tinggi.
Keempat, nilai aktualitas (timeliness) mengalami pergeseran makna di era AI. Meskipun kasus ini bukan peristiwa baru, kemunculan kembali dokumen dalam format digital membuatnya terasa “baru”. Algoritma AI memiliki kemampuan untuk mengangkat kembali isu lama dan menjadikannya trending berdasarkan lonjakan interaksi. Artinya, aktualitas tidak lagi hanya soal waktu kejadian, tetapi juga momentum viralitas.
Kelima, human interest juga berperan, terutama karena kasus ini menyangkut korban eksploitasi dan sisi kemanusiaan yang menyentuh emosi publik. Unsur emosional inilah yang membuat berita terus dibicarakan.
Kasus viralnya kembali dokumen Epstein membuktikan bahwa nilai-nilai berita klasik masih relevan di era AI. Namun, mekanisme seleksi dan distribusinya telah berubah. Jika dahulu redaksi menjadi “gatekeeper” utama, kini algoritma juga berperan sebagai “digital gatekeeper”. Oleh karena itu, di era AI, tanggung jawab jurnalistik tidak hanya terletak pada kecepatan, tetapi pada akurasi dan etika dalam mengelola isu yang sensasional.
Lalu mengapa akhirnya berita sensasional dan sensual ini banyak diangkat?. Mengutip dari berita opini kompasiana, salah satu alasannya adalah untuk meningkatkan konsumsi publik dan menarik perhatian para pembaca. Hadirnya AI di era sekarang telah membawa perubahan besar terhadap nilai-nilai berita dalam praktik jurnalistik. Faktor-faktor seperti kecepatan, popularitas, dan data harus ditentukan apa yang dianggap layak untuk diberikan. Jika nilai-nilai berita tidak diimbangi dengan etika dan kepentingan publik, media akan berisiko kehilangan fungsi sosialnya.
Sudah seharusnya AI hanya sebagai alat bantu, bukan menjadi pengganti peran moral dan profesional jurnalis. Masa depan jurnalisme yang sehat bergantung pada kemampuan media untuk menyeimbangkan inovasi teknologi dengan nilai-nilai berita yang sudah ada.
Penulis: Adjeng Putri Ade Sumari, Aulia Atma Dania, Fadhila Fitriani Lestari (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unsika Semester 6)
Sumber:
Carlson, M. (2015). The robotic reporter. Digital Journalism
Diakopoulos, N. (2019). Automating the News
“Dokumen Epstein Terbongkar 2026: Fakta Baru & Analisis Forensik” 15 Februari 2026. Online website UNESA https://pendidikan-matematika.fmipa.unesa.ac.id/post/dokumen-epstein-terbongkar-2026-fakta-baru-analisis-forensik
“Berkas Epstein – Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas”. Online. https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas_Epstein
Inggra Parandaru. 3 Februari 2026 “Epstein Files: Kronologi Skandal Dan Badai Politik Amerika Serikat – Kompaspedia” Https://Kompaspedia.Kompas.Id/Baca/Infografik/Kronologi/Epstein-Files-Kronologi-Skandal-Dan-Badai-Politik-Amerika-Serikat
Vedantu. Who Was Jeffrey Epstain? Biography, Controversies & Legacy Jeffrey Epstein Biography: Life, Career, Scandals & Death
The Epstein Scandal Explained The Epstein Scandal Explained – Epstein Justice
DIGITAL MARKETING. BERITA SENSASIONAL JUGA PUNYA NILAI BERITA. 19 Agustus 2023. TEMPO INSTITUTE. Online. Berita: Berita Sensasional Juga Punya Nilai Berita – Tempo Institute






