Karawang, Wartacana.com – Antara Ekspresi dan Validasi: Mengapa Kita Membutuhkan Pengakuan di Media Sosial?
Media sosial kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi, media sosial juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk membagikan aktivitas, menunjukkan diri, hingga mendapatkan respons dari orang lain.
Namun, di tengah kebebasan berekspresi tersebut, muncul pertanyaan: apakah seseorang membagikan kehidupannya di media sosial hanya untuk mengekspresikan diri, atau juga untuk mendapatkan pengakuan dan validasi orang lain?
Untuk mengetahui lebih jauh mengenai hal tersebut, kami akan mewawancarai Aurelia Andiva Putri, S.Psi., seorang lulusan psikologi yang juga aktif menggunakan media sosial.

Wawancara bersama Aurelia Andiva Putri, S.Psi.
Apakah Kakak aktif menggunakan media sosial dalam keseharian?
Saya cukup aktif menggunakan media sosial.
Media sosial apa yang paling sering Kakak gunakan?
Yang paling sering saya gunakan itu Instagram, kemudian WhatsApp, dan LINE. Paling itu yang paling sering digunakan.
Biasanya Kakak menggunakan media sosial untuk apa saja?
Untuk berkomunikasi, kemudian mendapatkan informasi, terkadang juga untuk berbelanja. Cuma kebanyakan untuk mendapatkan informasi dan juga berkomunikasi.
Menurut Kakak, kenapa orang suka membagikan kehidupan atau aktivitasnya di media sosial?
Kalau menurut saya, yang pertama bisa jadi hal tersebut menjadi kesukaan orang itu sendiri. Beberapa orang merasa senang untuk membagikan kisah-kisahnya atau aktivitasnya, biasanya seperti itu.
Atau dalam kasus lain, mungkin ada juga orang yang memiliki niat tertentu untuk membagikan cerita. Misalnya, mungkin untuk pamer atau mencari validasi bahwa dirinya sedang memiliki sesuatu atau sedang melakukan sesuatu. Menurut saya seperti itu.
Menurut Kakak, apa bedanya berekspresi di media sosial dengan mencari validasi?
Kalau menurut saya, bedanya kalau berekspresi itu kita tidak mengharapkan feedback atau respon dari orang lain. Jadi cukup untuk sharing saja. Misalnya, kita ingin membagikan sesuatu atau berbagi informasi tanpa ada niat tertentu dan tanpa mengharapkan validasi atau respon dari orang lain.
Kalau mencari validasi, menurut saya berarti kita menyebarkan informasi, konten, atau aktivitas kita untuk mencari pembenaran dan biasanya juga untuk mendapatkan pujian dari orang lain. Karena orang yang menyebarkan sesuatu untuk mencari validasi biasanya membutuhkan orang lain untuk menyetujui atau membuat dirinya merasa senang dengan apa yang diungkapkannya.
Dari sisi psikologi, kenapa seseorang bisa merasa senang ketika mendapat banyak likes, komentar, atau followers?
Kalau menurut saya pribadi, dari sisi psikologi, kenapa orang-orang senang mendapatkan banyak likes dan komentar, karena itu termasuk perhatian. Like dan komentar berarti orang lain cukup memberikan perhatian kepada kita dan terhadap konten yang kita bagikan.
Menurut saya, beberapa orang suka menerima pujian dan komentar dari orang lain karena hal tersebut bisa jadi mendorong rasa percaya dirinya. Atau mungkin juga membuat dirinya merasa, “Oh, berarti ada yang mendukung kegiatan atau konten saya.”
Itulah mengapa mungkin beberapa orang mengejar engagement seperti likes, komentar, dan lainnya.
Menurut Kakak, apakah media sosial lebih banyak menjadi tempat ekspresi diri atau validasi diri bagi anak muda saat ini?
Kalau bagi anak muda saat ini, sebenarnya mungkin bisa dikatakan fifty-fifty. Karena tidak semua orang mencari validasi. Tapi memang cukup banyak orang yang mencari validasi di media sosial.
Jadi kalau menurut saya saat ini masih fifty-fifty. Ada yang mencari validasi sebagai tujuannya, dan beberapa orang juga memang niatnya hanya mengekspresikan diri sendiri.
Yang terkadang terjadi, karena kebanyakan orang mencari validasi, orang-orang yang sebenarnya niatnya hanya berekspresi justru kadang dianggap sedang mencari validasi. Padahal sebenarnya tidak.
Penulis : Nabila Bazighah, Azhar Aprizal Sutisna, Callysta Halmira Nasution (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unsika Semester 1)



