KARAWANG, Wartacana.com – Ejekan yang dianggap sebagai candaan, hinaan terhadap fisik, hingga perlakuan yang membuat seseorang merasa tertekan masih dapat ditemukan dalam interaksi mahasiswa di lingkungan kampus. Hal yang terlihat sederhana tersebut dapat menjadi bentuk perundungan apabila dilakukan secara berulang dan membuat seseorang merasa tidak nyaman.
Perundungan di lingkungan kampus tidak hanya terjadi dalam bentuk kekerasan fisik, tetapi juga dapat berupa kekerasan verbal dan psikis. Perilaku tersebut dapat muncul di berbagai lingkungan, seperti ruang kelas, organisasi, maupun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
Untuk mengetahui kondisi perundungan di lingkungan kampus, pewawancara Nazhwa Charissa Meilani melakukan wawancara dengan Dr. Tika Santika, S.P., M.Pd., dosen FKIP UNSIKA sekaligus Koordinator Bidang Pencegahan Satgas PPKPT UNSIKA. Wawancara dilakukan untuk mengetahui bentuk perundungan, tempat terjadinya, faktor penyebab, hingga proses pelaporan dan penanganannya.

Selain itu, wawancara juga dilakukan dengan Mariza Ramadani, mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, untuk mengetahui pengalaman dan pandangan mahasiswa mengenai perundungan di lingkungan kampus.
Perundungan Lebih Banyak Terjadi di UKM
Dr. Tika menjelaskan bahwa Satgas PPKPT UNSIKA tidak hanya menangani satu jenis kekerasan. Perundungan menjadi salah satu bentuk kekerasan yang termasuk dalam penanganan Satgas.
“Satgas PPKPT UNSIKA itu tidak hanya menangani kekerasan terhadap mahasiswa, tapi kekerasan segala jenis, baik itu fisik, psikis, perundungan juga termasuk, kemudian kekerasan seksual juga,” ujar Dr. Tika.
Menurutnya, berdasarkan kasus yang ditangani saat ini, perundungan lebih banyak ditemukan di lingkungan organisasi dan UKM. Sementara itu, kejadian perundungan di dalam kelas dinilai relatif jarang.
“Untuk yang sudah terjadi sekarang ini memang lebih banyak di UKM ya, kalau di kelas rasanya saat ini jarang sih,” katanya.
Ejekan dan Hinaan Fisik Sering Dianggap Candaan
Perundungan tidak selalu dilakukan melalui tindakan kekerasan. Menurut Mariza, perundungan yang ia lihat di lingkungan kampus lebih sering berbentuk verbal, seperti ejekan dan hinaan yang dianggap sebagai bahan bercanda.
“Perundungan sih kebanyakan verbal ya, kayak ejek ataupun hina-hina. Mereka tuh istilahnya ngejokes. Apalagi menghina fisik, itu lumayan sering banget,” ungkap Mariza.
Menurut Mariza, perilaku tersebut dapat dipengaruhi oleh lingkungan pertemanan. Seseorang yang terbiasa berada di lingkungan dengan kebiasaan mengejek atau berkata kasar dapat ikut melakukan hal yang sama.
“Penyebabnya biasanya dari pengaruh lingkungan. Kalau lingkungannya kurang baik atau sering dengar hal-hal kayak gitu, jadi dari diri dia itu jadi kurang empati,” jelasnya.
Lingkungan Keluarga dan Pertemanan Jadi Salah Satu Faktor
Dr. Tika mengatakan bahwa perundungan dapat terjadi karena berbagai faktor. Salah satunya berasal dari lingkungan tempat seseorang tumbuh dan berinteraksi.
“Mungkin karena banyak faktor ya perundungan itu. Mungkin dari anaknya sendiri, latar belakang di keluarganya mungkin ya, perhatiannya kurang, karena dari keluarga atau mungkin dari lingkungan pertemanannya sehingga memicu dia untuk melakukan perundungan,” jelasnya.
Faktor tersebut menunjukkan bahwa lingkungan keluarga dan pertemanan dapat berpengaruh terhadap cara seseorang berinteraksi dengan orang lain. Kurangnya empati dan kebiasaan melakukan tindakan yang dianggap sebagai candaan dapat membuat perilaku perundungan terus terjadi.
Pelaporan Dapat Dilakukan Melalui Satgas
Bagi mahasiswa yang mengalami atau mengetahui perundungan, Satgas PPKPT UNSIKA menyediakan mekanisme pelaporan. Laporan dapat disampaikan secara langsung dengan datang ke Satgas maupun melalui hotline atau WhatsApp.
“Kalau untuk pelaporan, jadi kan mereka itu menulis, datang ke Satgas, atau bisa juga ada hotline. Mereka biasanya di WhatsApp gitu ya, ada WhatsApp Satgas,” ujar Dr. Tika.
Setelah laporan diterima, pihak Satgas akan menentukan jadwal untuk melakukan pemeriksaan. Pelapor akan dimintai keterangan mengenai kejadian yang dialami. Selanjutnya, pihak yang dilaporkan dan saksi yang berkaitan dengan kejadian juga dapat dipanggil untuk memberikan keterangan.
Dalam proses penyelesaian, orang tua juga dapat dilibatkan agar mengetahui permasalahan yang sedang dihadapi mahasiswa.
“Orang tua juga dipanggil, orang tuanya supaya tahu, jadi ketika menyelesaikan masalahnya orang tuanya tidak kaget ketika anaknya misalnya ada sanksi,” jelasnya.
Penanganan Tidak Berhenti Setelah Laporan
Penanganan perundungan tidak hanya dilakukan sampai proses pemeriksaan selesai. Satgas PPKPT UNSIKA juga melakukan pemantauan setelah penyelesaian masalah untuk melihat kondisi korban dan memastikan kejadian serupa tidak kembali terjadi.
“Setelah penyelesaian masalah itu kan biasanya ada pemantauan dari kami juga. Misalnya ada laporan itu bagaimana, apakah masih terjadi seperti itu, nah itu tetap dipantau,” tutur Dr. Tika.
Pemantauan tersebut menjadi bagian dari upaya untuk memastikan masalah yang telah diselesaikan tidak kembali terjadi dan lingkungan mahasiswa tetap aman.
Mahasiswa Berharap Edukasi Lebih Ditingkatkan
Mariza berharap kampus dapat meningkatkan kegiatan edukasi mengenai perundungan. Menurutnya, seminar dan pelatihan dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa.
“Harusnya adain pelatihan mungkin, adain seminar, banyakin seminar-seminar kayak gitu. Kan mahasiswa pasti banyak yang mau ikutan ya, apalagi kalau ada poin SKP,” ujarnya.
Menurut Mariza, kegiatan tersebut dapat menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami lebih jauh mengenai perundungan dan cara mencegahnya dalam kehidupan sehari-hari.
Perundungan di lingkungan kampus dapat muncul dalam berbagai bentuk dan tidak selalu mudah dikenali. Ejekan atau hinaan yang dianggap sebagai candaan dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman apabila dilakukan secara berulang.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa penanganan perundungan di UNSIKA dilakukan melalui mekanisme pelaporan, pemeriksaan pihak terkait, hingga pemantauan setelah penyelesaian. Di sisi lain, mahasiswa juga berharap adanya lebih banyak kegiatan edukasi agar kesadaran mengenai perundungan semakin meningkat.
Menciptakan lingkungan kampus yang aman membutuhkan perhatian dari berbagai pihak. Saling menghargai dalam berinteraksi menjadi salah satu langkah penting agar candaan tidak berubah menjadi tekanan bagi mahasiswa lain.
Penulis:
Dina Aulia
Nadhira Chiva Khirania
Nazhwa Charissa Meilani



