AI dalam Dunia Perkuliahan: Membantu Belajar atau Membentuk Ketergantungan?

Karawang, Wartacana.com – Penggunaan Artificial Intelligence (AI) semakin berkembang di berbagai bidang, termasuk dalam dunia pendidikan. Di lingkungan perkuliahan, AI mulai dimanfaatkan mahasiswa untuk membantu mencari informasi, memahami materi, hingga mengembangkan ide dalam mengerjakan tugas. Namun, meningkatnya penggunaan AI juga menimbulkan pertanyaan mengenai batas penggunaannya agar teknologi tersebut tidak membuat mahasiswa menjadi bergantung.

Salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA), Aldo, mengaku cukup sering menggunakan AI selama menjalani perkuliahan.Ia memanfaatkan AI karena merasa teknologi tersebut dapat membantu proses pembelajaran. Beberapa platform yang biasa digunakannya adalah ChatGPT, Gemini AI, dan Claude.

Sesi proses wawancara bersama Aldo, mahasiswa FISIP Unsika

Menurut Aldo, penggunaan AI memberikan banyak manfaat dalam kegiatan perkuliahan. AI membantunya mengetahui berbagai informasi dan istilah yang sebelumnya belum ia pahami. Ia juga dapat meminta penjelasan menggunakan bahasa yang lebih sederhana sehingga informasi yang diperoleh lebih mudah dimengerti.

Penggunaan AI bagi Aldo tidak hanya terbatas pada penyelesaian tugas. AI juga membantunya memahami materi perkuliahan. Ketika terdapat penjelasan dari dosen yang belum dipahaminya, ia menggunakan AI untuk mendapatkan penjelasan tambahan.

Seberapa sering kaka dalam penggunaan AI selama proses pembelajaran diperkuliahan?

“Jujur selama di perkuliahan ini saya cukup sering menggunakan AI dalam pembelajaran, karena itu sangat membantu banget sih.”

AI apa saja yang kaka pergunakan tugas perkuliahan?

“Kadang saya menggunakan beberapa ai yang pertama itu saya menggunakan ChatGPT, lalu saya menggunakan Gemini AI, juga saya kadang menggunakan Claude.”

Menurut kaka apa saja manfaat terbesar ai dalam kegiatan perkuliahan?

“Jujur manfaatnya banyak banget saya jadi banyak tau hal-hal yang mungkin sebelumnya saya gatau nih di dunia perkuliahan atau mungkin bahasa-bahasa yang sekiranya asing di telinga saya, saya biasa stretch di AI terus juga dalam pnggunaan AI saya tuh jadi bisa tau tapi dalam menggunakan bahasa yang gampang dimengerti seperti itu.”

Apakah AI itu sangat membantu kaka dalam memahami materi atau hanya membantu untuk menyelesaikan tugas saja?

“Untuk keduanya sih sangat membantu saya di dalam dunia perkuliahan , membantu juga dalam pemahaman materi saya , karena banyak sekali hal-hal yang mungkin dosen itu mengatakan kaya saya tuh kurang mengerti terus saya tanya lagi kepada AI seperti itu.”

Apakah kaka merasa terlalu bergantung kepada AI karena sering menggunakan AI atau bagaimana?

“Jujur kalo bergantung sih saya tidak, karena saya membedakan hal-hal mana saja yang bisa saya tanyakan dan hal-hal mana saja yang sepertinya tidak perlu saya tanyakan seperti misalnya yang saya bedakan itu hal-hal yang seperti saya tidak tau dalam Pendidikan , hal-hal yang asing di telinga saya baru saya tanyakan kepada AI namun hal-hal pribadi itu saya tidak terlalu saya tanyakan kepada AI agar saya tidak terlalu tergantung.”

Menurut kaka bagaimana seharusnya mahasiswa bijak dalam menggunakan AI?

“Menurut saya sebagai mahasiswa harusnya bisa membedakan hal-hal mana saja yang bisa menggunakan  dan hal-hal mana saja yang tidak perlu menggunakan AI, sebagai mahasiswa itu mungkin menggunakan AI itu sebagai kaya landasan utama aja untuk kita mencari ide kira-kira untuk mengerjakan tugas ini tuh hal-hal apa saja yang harus kita siapakan , jadi dengan seperti itu kita jadi bijak menggunakan AI.”

Meskipun cukup sering menggunakan AI, Aldo juga menilai mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk menentukan kapan AI diperlukan dan kapan tidak. Menurutnya, AI dapat digunakan sebagai landasan awal dalam mencari ide ketika mengerjakan tugas, sementara pengembangan tugas tetap dilakukan oleh mahasiswa.

Sementara itu, Tikka Muslimah, dosen Ilmu Komunikasi FISIP UNSIKA, mengatakan bahwa penggunaan AI oleh mahasiswa merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan era digital. Menurutnya, mahasiswa pada dasarnya diperbolehkan menggunakan AI dalam proses pembelajaran. Namun, penggunaannya tetap harus memperhatikan batasan dan etika, terutama dalam penulisan karya ilmiah.

Menurut ibu, bagaimana si pendapat ibu terhadap mahasiswaa yang mengunakan AI pada proses pembelajaran?

“Sebenarnya, tidak masalah mahasiswa mau menggunakan AI tersebut, tetapi harus diingat lagi bahwa dalam dunia keilmuan itu ada yang namanya etika penulisan karya ilmiah yang termasuk ke dalam moral dari setiap mahasiswa. Diperbolehkan menggunakan AI, tetapi bagaimana mahasiswa pun bijak dalam arti, dia harus tahu batasan-batasan kapan dia harus menggunakan AI dan kapan sudah harus stop atau dibatasi. Jadi, harus tahu sampai mana sih batasan-batasannya, sampai mana sih penggunaan AI diperbolehkan dalam dunia pendidikan.”

Berarti menurut ibu, pengunaan AI menghambat, atau justru membantu proses pembelajaran bagi mahasiswa tersebut, bu?

“Oke, sebenarnya perkembangan AI ini pasti ya, ada kelebihan dan kekurangannya. Dan dalam konteks pendidikan di lingkup mahasiswa, seharusnya membantu ya, teman-teman mencari referensi, ide untuk mengerjakan tugas itu seperti apa. Cuman, pasti sebenarnya ada yang malah karena penggunaannya berlebihan malah menurunkan kualitas. Contoh ketika mengerjakan tugas, sebenarnya teman-teman mahasiswa itu mempunyai potensi untuk mengerjakan tugas sendiri yang mungkin hasilnya akan lebih dari hasil AI gitu ya. Cuman, kebanyakan mahasiswa itu tidak percaya diri dan menjadi ketergantungan, jadi apa-apa harus lihat AI dulu. Sebenarnya nggak apa-apa, cuma untuk mencari referensi saja. Nah, nanti sisanya teman-teman bisa mengembangkan melalui ide berpikir kritis dari masing-masing mahasiswa. Nanti tentu tugasnya akan lebih maksimal karena di situ ada aspek berpikir kritis, empati tertulis, kalau AI kan tidak. Jadi, sebenarnya ada plus dan minusnya lah ya, mungkin karena mahasiswa yang sudah bijak menggunakannya bisa mendukung, ada juga yang menghambat, malah bisa membatasi kemampuan berpikir kritis dari mahasiswa.”

Nah, karna beberapa mahasiswa ini menggunakan Ai, kira kira perubahan apa yang ibu lihat pada mahasiswa sejak menggunakan AI ini semakin meningkat?

“Nah, seperti yang saya jelaskan tadi yang pertama, tingkat kepercayaan diri mahasiswa sangat menurun. Jadi, ketika ada pertanyaan, dia akan melihat AI, mencari jawaban AI terlebih dahulu. Nah, itu tuh bisa menurunkan tingkat kepercayaan diri, padahal sebenarnya mahasiswa tersebut mampu dengan cara berpikir mereka. Kan, dalam menjawab pertanyaan tidak hanya melalui teoritis, tetapi bisa juga dijawab melalui empiris dan melalui pengalaman yang sudah mereka temukan sebelumnya. Kemudian, melalui contoh-contoh di kehidupan sehari-hari, itu kan bisa menjawab sebuah pertanyaan. Tetapi, mahasiswa saat ini lebih ke tidak percaya diri itu ya. Jadi, apa-apa bentar-bentar, setiap ada sedikit pertanyaan langsung lihat AI, apa-apa lihat AI. Kemudian, yang kedua adalah ketergantungannya sangat tinggi. Itu tadi karena mereka tidak percaya diri, sehingga ketergantungan dengan AI, hal sepele pun sampai hal yang kompleks pasti akan melihat AI. Jadi, mungkin semua teman-teman mahasiswa pasti ada campur tangan AI-nya ya. Jadi, sudah ketergantungan, jadi sudah kayak tidak dapat terpisahkan gitu ya.”

Jadi menurut ibu Saran saran apa yang bisa dilakukan oleh mahasiswa agar tidak terus terusan menggunakan AI?

“Oke, Saran nya yg pasti si perbanyak membaca karna kalo dengan Kita banyak membaca kita jadi banyak referensi kemudian pengetahuan kita juga lebih luas jadi ketika ada satu case yang harus kita pecahkan kita tidak hanya bergantung dengan AI terbayang kalo kita Baca nya cuman Dari AI gitu jadi referensi kita itu terbatas, kemudian yah itu dibentuk dari kebiasaan lah ya misal nya dari mengerjakan tugas boleh kita cari referensi cari ide lewat AI nah sisanya nanti temen temen bisa dikembangkan melalui berfikir kritis dikaitkan dengan pengalaman nya kemudian di kaitkan dengan fenomena fenomena sosial yang ada di lingkungan sekitar nah itu kan bisa mengurangi pengunaan AI. tapi sebagai fenomena apa ya deep fake ya jadi bagaimana fenomena tersebut adalah kebohongan yang sangat mendalam.”

Contoh fenomena deep fake yang terjadi apa kira-kira bu?

“Jadi misalnya disini kan banyak ya kaya UMKM menggunakan gambar menu nya pake AI nah itu kan deep fake banget ya, sebenarnya itu kan bisa menurunkan tingkat kepercayaan konsumen kemudian konsumen “ah ini mah AI gatau gambar aslinya seperti apa” nah ketika Kita sebagai pembaca dari AI orang lain pun kita merasa tidak percaya tidak trust apalagi ketika temen temen mengerjakan tugas mengerjakan karya ilmiah menggunakan AI bagaimana pandangan para pembaca disana nah gitu ya pandangan dosennya pandangan mungkin nanti ketika membuat jurnal, membuat skripsi tapi ternyata indikasi AI nya sangat berlebihan si pembaca pun akan engeh karna pengunaan AI itu sudah bisa di tebak alurnya pola nya gitu ya kalo dari gambar kita sudah sangat jelas gitu ya dalam proses penulisan pun itu sudah sangat disadari ada pola nya ada bahkan hal hal yang mungkin tidak dapat di tampilkan oleh AI gitu jadi pasti akan menurunkan kredibilitas kita sebagai penulis.”

Dari Hal-Hal yang disampaikan di atas dapat menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam dunia perkuliahan memiliki manfaat sekaligus tantangan. Dari sisi mahasiswa, AI dapat membantu mencari informasi, memahami materi, dan menemukan ide. Sementara dari sisi dosen, penggunaan AI tetap perlu disertai kemampuan berpikir kritis, membaca, serta pemahaman terhadap etika akademik.

Pada akhirnya, penggunaan AI dalam perkuliahan tidak hanya berkaitan dengan seberapa sering teknologi tersebut digunakan, tetapi juga bagaimana mahasiswa menggunakannya. AI dapat menjadi alat bantu dalam proses pembelajaran selama mahasiswa tetap mampu mengembangkan pemikiran, memeriksa informasi, dan bertanggung jawab terhadap hasil tugas maupun karya ilmiahnya.

 

Penulis: Fadya Najwa Fairuz, Ghinna Nurindah Susilo, Indira Agsa Zahidah, dan  Zahra Istifayyiatur R (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unsika Semester 1).

Kelas Semester Genap TA 2025-2026

Related Posts

HARGA BAHAN POKOK NAIK? Masyarakat Mulai Terbebani

Karawang, Wartacana.com – Kenaikan harga bahan pokok menjadi salah satu kondisi yang turut dirasakan oleh pelaku usaha warung tegal (warteg). Hampir seluruh bahan yang digunakan untuk kebutuhan usaha mengalami kenaikan…

Read more
Merantau Untuk Kuliah, Cerita dan Tantangan Mahasiswa Jauh dari Rumah

Karawang, Wartacana.com – Menjadi mahasiswa perantauan bukan hanya tentang menjalani perkuliahan. Tetapi juga tentang belajar beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Perbedaan bahasa, kebiasaan, budaya, hingga cara bergaul menjadi beberapa hal…

Read more

You Missed

HARGA BAHAN POKOK NAIK? Masyarakat Mulai Terbebani

HARGA BAHAN POKOK NAIK? Masyarakat Mulai Terbebani

AI dalam Dunia Perkuliahan: Membantu Belajar atau Membentuk Ketergantungan?

AI dalam Dunia Perkuliahan: Membantu Belajar atau Membentuk Ketergantungan?

Merantau Untuk Kuliah, Cerita dan Tantangan Mahasiswa Jauh dari Rumah

Merantau Untuk Kuliah, Cerita dan Tantangan Mahasiswa Jauh dari Rumah

Cerita di balik warung yang buka 24 jam : tetap melayani saat kota terlelap

Cerita di balik warung yang buka 24 jam : tetap melayani saat kota terlelap

AI dalam Pendidikan: Membantu Proses Belajar atau Membuat Mahasiswa Ketergantungan?

AI dalam Pendidikan: Membantu Proses Belajar atau Membuat Mahasiswa Ketergantungan?

PENGARUH PENGGUNAAN AI TERHADAP PEMBELAJARAN MAHASISWA

PENGARUH PENGGUNAAN AI TERHADAP PEMBELAJARAN MAHASISWA