Karawang, Wartacana.com – Informasi mengenai program volunteer dan beasiswa kini mudah ditemukan melalui media sosial. Namun, kemudahan tersebut juga diikuti risiko munculnya informasi palsu atau penipuan yang dapat menyasar pelajar dan mahasiswa.
Dosen S1 Ilmu Komunikasi Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) yang memiliki kemampuan dalam bidang Cyberculture and Society, Khairul Arief Rahman, S.Sos., M.A. , mengatakan bahwa dirinya pernah menemukan informasi volunteer palsu, terutama pada masa pandemi COVID-19. Menurutnya, siapa pun dapat menjadi sasaran, tetapi tingkat literasi media dan digital setiap orang berbeda.

Di Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, lantai 1, hari jumat 11 September 2026 lalu, Khairul menyempatkan diri untuk diwawancarai oleh Adinda Syafa Zahira. Berikut kutipannya:

Apakah Anda pernah melihat informasi tentang volunteer/beasiswa tetapi setelah di check lebih dalam ternyata itu scam (HOAKS)?
Kalau volunteer pernah, karena kalau volunteer itu biasanya malah banyak pas covid kemarin. Pas covid itu banyak yang butuh relawan ya, dari kementerian kesehatan sama rumah sakit. Nah masalahnya nggak semuanya sebenarnya itu informasi resmi. Bahkan salah satunya itu terdaftar di situs-situs yang ngecek bahwa itu hoax. Itu banyak kalau dulu jaman covid. Kalau sekarang-sekarang kalau yang paling baru itu paling skam ini sih relawan daerah. Dulu pernah ada yang ke Aceh atau kemana-mana ternyata setelah dicari-cari cuma untuk narik uang. Ada banyak, cuman biasanya kasusnya kalau sekarang semakin kesini semakin kecil ya cakupannya. Tapi biasanya akan kelihatan kalau bencana. Kalau bencana pasti ada relawan-relawan. Relawan-relawan itu akan disuruh kemana-kemana.
Menurut Anda, bagaimana Anda melihat perkembangan bentuk hoaks volunteer dan beasiswa saat ini? Dan Apa saja ciri-ciri visual informasi volunteer/beasiswa bodong yang menarik perhatian mahasiswa?
Kalau saya bisa bilang kalau mau dikatakan semua orang, pasti semua orang bisa kena. Cuman yang jadi masalah mungkin ada orang yang bisa mengantisipasi, ada yang enggak. Nah ini yang pentingnya. Karena enggak semua orang terliterasi media dengan baik. Terliterasi media dan terliterasi secara digital juga. Artinya kebiasaan-kebiasaan kita pakai HP, bahkan kebiasaan kita bermedia sosial itu sangat menentukan. Tapi saya yakin lebih banyak orang di luar sana, orang-orang tua kan sering banget dapat informasi kayak gini terus langsung disebar-sebarin. Karena mereka enggak punya literasi soal itu. Ya secara umur kan. Mereka kan notabene hidup di jaman pernah susah dan dapat teknologi canggih sekarang. Sehingga ketika melihat pesan kayak begitu akan langsung percaya. Karena menganggap pesannya itu canggih. Pesan canggih itu enggak mungkin salah. Nah sementara kalau kita anak muda, anak muda aja belum tentu punya satu pikiran yang sama soal itu.
Menurut Anda biasanya pada saat apa atau keadaan seperti apa yang membuat mahasiswa terkena scam atau hoax tentang beasiswa ataupun volunteer tersebut?
Biasanya sih salah satu faktornya itu kepepet ya, dan ada faktor yang penting yaitu isi pesannya. Informasi Scam itu rata-rata isi pesannya bagus, halus, dan bridging nya oke. Jadi kalau kita mau tau apa enggaknya itu kadang harus coba-coba dulu. Nah ini yang jadi masalah. Kadang coba-cobapun ada yang menseriusi itu. Ya karena kepepet tadi. Makanya saya bilang kepepet itu cuma salah satu faktor. Yang paling menentukan adalah bagaimana kita bisa membaca pesan itu secara rigid. Nah kalau yang ini butuh pengalaman. Karena memang ibaratnya pesan dengan tujuan yang sama itu banyak. Sementara scam itu meniru pesan yang sama. Cuma diedit aja instansinya, nomernya, situsnya, bahkan alamat emailnya pun cuma diganti aja. Cuma biasanya mereka itu pembandingnya adalah biasanya situs-situs yang diakses itu sekali kita klik kita tau kok seharusnya. Kalau memang situsnya enggak bagus atau memang nomernya ini scam, dan scam itu rata-rata enggak pakai email resmi.
Di mana informasi hoaks volunteer dan beasiswa paling sering ditemukan atau disebarkan, dan platform apa yang paling berpengaruh?
Paling gampang Twitter. Twitter itu paling gampang. Karena Twitter itu masalahnya kita kalau lihat demografi usianya itu adalah usia-usia 26 sampai 40 tahun. Siapa yang ibaratnya orang kalau katakanlah mereka terutama ngincer orang-orang yang ibaratnya itu mereka mungkin belum punya pekerjaan tetap. Ketika ada relawan kan sifatnya kontrak ya. Nah biasanya umur-umur segini itu kan masih nyari. Ibaratnya kalau katakanlah belum bisa mencari kerja yang proper mereka akan mempertimbangkan pekerjaan yang sifatnya jangka pendek menengah yang bisa dijangkau. Nah biasanya para pembuat scam ini itu masuk di area itu. Makanya banyak di Twitter, terus Instagram juga beberapa. Instagram itu kalau Instagram profilnya lebih bawah lagi. Biasanya ngincar anak lulus baru SMA atau anak baru lulus kuliah itu baru kena. Cuman biasanya kalau di usia-usia segitu tuh biasanya katakanlah, karena saya belum pernah menemui korbannya sampai banyak gitu ya. Tapi kalau yang usianya 26 sampai 40 banyak.
Bentuk literasi media atau strategi verifikasi mandiri (fact-checking) seperti apa yang paling efektif dan praktis untuk diterapkan oleh calon pendaftar beasiswa dan volunteer?
Ya menurut saya, kita harus lebih jeli lagi ya kalau lihat informasi seperti ini, jangan langsung share ke orang orang, padahal ini infonya belum jelas kebenarannya itu
Dari sudut pandang New Media & Society, pola perilaku atau psikologis seperti apa yang membuat generasi muda (mahasiswa/pelajar) mudah percaya dan langsung menyebarkan info volunteer/beasiswa tanpa verifikasi?
Kebiasaan untuk mengshare itu bagi saya masih tinggi ya. Jadi kan kita tuh bahkan untuk kebiasaan kecil aja kadang ada video joget-joget atau bahkan video yang remeh-temeh aja kita kadang share. Ini yang terkadang jadi masalah. Terus yang kedua, kadang tidak bisa membedakan mana informasi yang serius, mana yang bercanda. Ini penting. Karena biasanya kalau teman-teman yang ibaratnya baru pegang HP 3 sampai 5 tahun belakangan, ibaratnya bahkan dari kecil aja udah pegang HP, itu kebiasaan yang terbentuk akan beda lagi nanti. Biasanya lebih karena tingkat literasinya biasanya akan berbeda. Teman-teman yang lebih muda yang biasanya megang HP udah dari kecil, itu rata-rata oke, mereka bagus dari segi kebiasaan. Tapi tidak bagus dalam hal literasi. Tapi bagi teman-teman yang pegang HP baru 5 tahun, 10 tahun, mungkin bagus dalam literasi tapi tidak dalam kebiasaan. Kebalik. Itu yang kalau saya lihat sementara itu. Kenapa kok bisa menghasilkan dua hal yang berbeda? Karena biasanya kalau teman-teman yang tidak pegang HP dari kecil itu biasanya kebiasaannya adalah oh artinya dia dikontrol sama orang tuanya.
Tak hanya pendapat dari Khairul saja, kami juga mewawancarai seorang mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi, Di taman Unsika, hari kamis 10 September 2026, Navian menyempatkan diri untuk diwawancarai oleh Aura Zannabi Muksin. Berikut kutipannya:

(Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Singaperbangsa Karawang)
Informasi volunteer atau beasiswa seperti apa yang pernah Kamu temukan, dan dari mana Kamu mendapatkan informasi tersebut?
Saya ikutnya itu kedutaan, masih satu type kok ini. Kedutaan yang pernah saya ikuti itu adalah Duta Bakti Masagi. Duta Bakti Masagi itu adalah salah satu program. Waktu itu sempat jadi program unggulannya Jawa Barat, yaitu Jabar Masagi dan Jabar Masagi itu membentuk lagi tim yang disebut Duta Bakti Masagi. Nah saya dapet informasi itu dari mana? Saya dapet informasi tersebut di platform media sosial yang waktu itu lewat.
Di platform Sosmed apa Kamu menemukan informasi tersebut?
Waktu itu alhamdulillah Saya nemunya itu di Instagram, ya. Karena kebetulan juga Saya sebelumnya ikut-ikutin dan follow-follow akun-akun resmi Jawa Barat kayak gitu dan kebetulan lewat postingannya. Jadi Instagram menurut Saya adalah salah satu platform yang penyebaran informasi pendaftaran atau rekrutmen kayak gitunya cukup legit sih, cukup bagus.
Kapan kamu menemukan informasi volunteer atau beasiswa tersebut?
Saya ketemu informasi itu waktu saya masih kelas 10 mau naik ke kelas 11. Kebetulan pas itu lewat dan yaudah saya ikutin dan alhamdulillah lolos.
Siapa pihak atau akun yang mengunggah informasi tersebut?
Informasi itu diunggah di akun resminya Jabar masagi waktu itu.
Gimana caranya kamu memeriksa atau memastikan bahwa informasi tersebut benar?
Ini penting karena emang sekarang kan udah lumayan marak ya. Banyak kasus-kasus yang terjadi atas nama biasiswa, volunteer, ataupun kedutaan kayak gitu yang justru malah jadi tempat skam kayak gitu ya. Nah, saya mengidentifikasi itu bisa saya ikuti atau tidak. Pertama saya ngeliat akun yang postingnya dulu teh. Jadi saya ngeliat akunnya tuh benar-benar punya kredibilitas atau enggak. Jadi akunnya tuh benar-benar ya akun-akun resmi atau ya cuman akun-akun bodong aja kayak gitu. Terus yang kedua kalian juga cek dulu background dari program itu tuh apa. Kalian bisa cek. Biasanya tuh yang kayak gitu-gitu mau volunteer, kedutaan, ataupun biasiswa itu biasanya ada guidebooknya kayak gitu. Nah, kalian baca-baca dulu. Kalau misalnya menurut kalian aman ya enggak ada yang kayak harus membayar di awal dan lain-lain sebagainya kayak gitu. Itu biasanya aman-aman aja kayak gitu. Kalian bisa cek sendiri di guidebook masing-masing program yang kalian temuin. Itu benar-benar mencurigakan atau enggak kayak gitu.
Kamu pernah ga hampir tertipu atau tertarik untuk mendaftar pada informasi yang ternyata mencurigakan? jika pernah, ceritakan pengalamanmu
Karena kebetulan ya setelah saya selesai masa jabatannya di Duta Bakti Masagi itu, kelas 3 SMA tuh saya ngerasa kosong gitu sekolah itu. Karena saya biasanya ikut-ikut program-program gituan setelah lulus, eh setelah habis masa jabatannya itu kosong. Nah, saya mulai cari tuh. Cari karena saya juga carinya ngebet ya karena pengen cepat-cepat dapet kayak gitu. Akhirnya enggak saya riset dulu, saya pernah ikut salah satu kedutaan. Enggak bisa saya sebutin kedutaannya apa. Saya ikutin kedutaan tersebut. Awalnya sih ya masih wajar-wajar aja. Cuman kebelakang-belakangnya itu mulai ada kayak pungutan bayaran, mulai kayak ya ada, mulai kerasa lah penyelewengannya. Sampai akhirnya setelah dilantik atau dikukuhkan, itu kita dilepas begitu aja. Jadi enggak jelas gitu arah programnya.
Menurut Kamu, apa yang membuat mahasiswa mudah percaya terhadap informasi volunteer atau beasiswa yang beredar di media sosial?
biasanya karena di postingannya itu dia terlalu, si akun ini tuh, akun bodong ini tuh terlalu meninggi-ninggikan benefit yang didapat gitu atau ya kayak misalnya dengan kamu ikut ini, kamu bisa trip ke Labuan Bajo misalnya kayak gitu atau dengan kamu ikut beasiswa ini, beasiswamu bakal ditampung selama, sampai lulus kayak gitu. Sedangkan kan yang kita tahu, kalau kita mau dapetin hal atau privilege itu, kita juga seleksinya tuh benar-benar ketat banget kan, penuh perjuangan juga. Jadi kalau yang kelihatannya gampang, tapi benefitnya banyak, nah itu perlu kalian curigain. Selain itu, yang bikin mahasiswa ataupun para siswa itu tergiur juga, biasanya mahasiswa atau siswa yang awalnya pengen cari pengalaman. Orang-orang baru yang pengen cari pengalaman tuh biasanya mereka akan selalu terpantik gitu, buat terus berkembang. Jadi pas ada kesempatan masuk kayak gitu, apalagi dengan benefit yang luar biasa menggiurkan, pasti bakal terpancing. Solusinya gimana? Solusinya ya tadi, kalian harus bijak buat literasi tentang program-program yang pengen kalian ikutin tuh apa. Seperti halnya, kedutaan, volunteer, ataupun beasiswa itu kan gak semata-mata kalian ikut seleksi setelah itu dapet award-nya, habis dapet award-nya udah lepas gitu. Enggak, kalian kan harus ngejalanin program mereka dulu.
Nah, kalau kalian gak tau sistem programnya itu seperti apa, visi-visi mereka seperti apa, nah itu kalian yang bakal kesusahan juga nanti kebelakangnya.
Penulis : Adinda Syafa Zahira, Nasyiwa Islami Mawa, Aura Zannabi Muksin (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unsika Semester 1)



