ORGANISASI DI ERA MODERN APAKAH MASIH RELEVAN?

Karawang, Wartacana.com – Organisasi mahasiswa bukan sekadar tempat berkumpul atau memenuhi kegiatan tambahan, melainkan ruang pembelajaran yang sesungguhnya. Di dalamnya, mahasiswa belajar mengelola waktu, memecahkan masalah secara kolektif, bertanggung jawab atas keputusan bersama, dan membangun kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Hal-hal inilah yang justru semakin dibutuhkan di tengah perubahan zaman yang menuntut tidak hanya kecerdasan, melainkan juga karakter, kepekaan sosial, dan kemampuan berkolaborasi.Oleh karena itu, tulisan ini disusun untuk menegaskan bahwa meskipun zaman terus berganti, esensi organisasi mahasiswa tetap tidak tergantikan. Di tengah arus modernisasi yang deras, organisasi justru menjadi penopang dan arah bagi mahasiswa untuk tumbuh, berkontribusi, dan membawa perubahan yang bermakna. Mari kita telaah bersama, mengapa organisasi mahasiswa tetap relevan dan apa yang membuatnya tetap penting bagi mahasiswa masa kini.

Pada wawancara kali ini kami berkesempatan untuk mewawancarai M. Ihsan Maulana selaku Wakil Presiden Mahasiswa Unsika terkait isu “Apakah Organisasi Mahasiswa Masih Relevan di Era Modern?.” Karena banyak dari mahasiswa berbicara bahwasannya organisasi saat ini menurutnya kurang relevan, dari alasan mengapa mereka mengatakan seperti itu karena mereka merasa bahwa tugas kuliah dan kegiatan organisasi mereka padat dan susah terkontrol.

Proses Wawancara bersama saudara Muhammad Ihsan Maulana.
Proses Wawancara bersama saudara Muhammad Ihsan Maulana.

Berikut petikan wawancaranya:

Selaku Wakil BEM Unsika, apakah organisasi mahasiswa saat ini masih relevan atau tidak bagi para mahasiswa?

Jika berbicara tentang organisasi mahasiswa di katakan pada zaman hari ini masih dikatakan masih relevan atau tidak, bagi saya per hari ini pun saya sedang menjabat dan di satu sisi saya juga sedang aktif berkuliah sebagai mahasiswa. Jadi bagi saya ini tetap relevan dan ini juga dikembalikan lagi kepada setiap individu yang melihat konteks organisasi ini bisa berdampak atau nggak dan bagaimana pembagian waktunya. Kalau saya pribadi saya punya suatu simbol atau satu komitmen bahwasannya organisasi itu adalah nomer satu tapi akademik kuliah itu prioritas saya. Jadii di sela-sela kesibukan saya berorganisasi itu tapi tugas-tugas kuliah atau tugas-tugas akademik itu tetep menjadi prioritas yang harus saya selesaikan, karena itu tanggung jawab saya sebagai mahasiswa. Dan di satu sisi pun kalau seandainya hari ini organisasi mahasiswa terkhusus sudah tidak lagi penting, lalu pertanyaannya siapa yang bakal mengadvokasi keluhan- keluhan kawan-kawan. Seperti halnya kondisi ruang kelas, atau memang kondisi fasilitas kampus, atau bahkan momentum event kampus, atau agenda-agenda di kampus dan sebagainya itu kan semua di handle oleh teman-temen organisasi dalam kampus, atau yang kita bisa kenal BEM Universitas, Fakultas, atau bahkan Himpunan. Sebenernya saya melihat organisasi ini bakal berdampak kepada kita atau kepada individu selama individu ini punya komitmen atau kinerja yang baik. Jadi sekali lagi saya katakan per hari ini organisasi masih relevan di tengah benturan magang dan sebagainya.

Apa yang mendasari adanya pemikiran tersebut, sehingga mahasiswa bisa berpikir kalau organisasi mahasiswa itu sudah tidak relevan?

Adanya pemikiran kenapa hari ini organisasi mahasiswa sudah tidak relevan, karena mungkin banyaknya kekecewaan yang memang lahir dari badan atau internal organisasi itu sendiri. Seperti halnya musyawarah mahasiswa (musma ) yang di lakukan sampai dini hari, rapat-rapat yang tidak sehat karena selalu evaluasi, rapat-rapat marah-marah secara individu (subjektif), dengan kondisi senioritas organisasi yang sangat melekat atau lingkungan organisasi yang toxic. Itulah yang melatar belakangi bahwasannya mereka melihat budaya organisasi ini sangat sudah tidak sehat. Tapi ketika saya melihat budaya-budaya seperti itu, bukankah kita yang harus nya melakukan atau mengambil alih ruang itu menjadi ruang yang sehat. Sama seperti halnya, mungkin ini pengalaman saya sambil cerita yaa… teman-teman kalau tau secara sejarah Mahasiswa Baru (MABA) Unsika di tahun 2023 itu kita di botak 121. Semenjak saya aktif di himpunan mahasiswa pemerintahan, kita pernah mengkaji suatu isu yaitu tentang penggundulan atau keloncoan itu bagian daripada pengkerdilan individu atau mahasiswa. Di tahun 2024 masih botak akhirnya di tahun 2025 dan 2026 mahasiswa sudah di bebaskan untuk memilih gaya rambut, jadi sudah nggak ada batasan yang penting rapi. Jadi dua tahun kebelakang itu setiap mahasiswa baru yang masuk harus 121 atau minimal botak lah. Cuman pada akhirnya kita sudah mengubah culture yang ada di Unsika. Tetapi tetap ada fakultas atau prodi yang tidak bisa kita sebut karena punya aturan atau budaya sendiri. Nah melihat contoh case study itu, kita bisa melihat suatu konflik atau ruang yang berantakan ketika kita masuk dan kita perbaiki itu ga selamanya buruk kok. Dinamika pasti ada tetapi dinamika itulah yang akan menjadikan kita dewasa.

Lalu apakah ketika di organisasi ada pengkaderan atau senioritas itu yang dimana peran senioritas masih ada dalam organisasi juga menjadi pemicu faktor banyak mahasiswa yang kurang mau bergabung ikut berorganisasi?

Karena hari ini anak-anak atau mahasiswa punya sifat idealis, kebebasan ketika kita merancang kegiatan atau agenda tapi seandainya kita masih di batasi oleh hantu-hantu organisasi yang selalu membatasi. Oh nggak boleh itu, nggak boleh ini, jadi sama saja membunuh karakter mahasiswa itu sendiri. Saya selalu berpikiran ya biar kan mahasiswa selalu berkreatif dengan apa yang dia inginkan apa yang dia amini. Bahkan temen-teman yang mau mengeksplor event, mau mengeksplor magang dan sebagainya biarkan, jangan membatasi ruang-ruang tersebut.

Dari Akang sendiri, Akang sudah merasakan dampak apa saja sii dengan bergabungnya organisasi mahasiswa ini ?

Banyak dampak yang saya dapatkan, dari mulai asli saya dari Sukabumi. Saya ber kuliah disini tidak punya kenalan siapa-siapa waktu itu, tapi dengan organisasi pada akhirnya saya membangun kayak lingkungan emosional, lingkungan keluarga kecil saya disini tuuh di mulai dari teman-teman organisasi awalnya. Hingga rawatan organisasi itu di rawat dengan secara emosional mungkin, jadi ketika saya punya keluh kesah di dunia perkuliahan, bahkan di dunia kelas, tugas kuliah dan sebagainya. Pada akhirnya yang selalu cerita dan sebagainya adalah orang-orang yang ada di sekitar saya dan orang-orang organisasi tadi. Dan kalau sekiranya saya main di sekitaran daerah bandung atau kemana pun itu saya selalu hubungi teman-teman organisasi dan di sanalah mungkin bagi saya dampak positif kenapa saya gabung organisasi di kampus itu seperti apa. Dari mulai relasi, koneksi, dan sebagainya itu bisa di dapatkan. Yaa tergantung kita-kita lagi bagaimana kita beradaptasi dengan organisasi tersebut.
Lalu dampak bagi akademik pembelajaran itu akang merasakan nggak sii kang?
IPDulu saya waktu semester 1, 2, 3, 4 itu alhamdulillah organisasi jalan tetapi nilai masih tetap saja kalau di ilmu pemerintahan, termasuk saya ya  39 dan 38 itu masih bisa di dapet. Kalau bagi saya khusus di Fisip apalagi ilmu pemerintahan itu kuncinya public speaking, baca buku, karena dunia perkuliahan atau dunia kelas itu hanya menjanjikan 10% dan sisanya teman-teman bisa eksplor dari baca buku, diskusi dan sebagainya. Ketika di kelas itulah baru kalian sampaikan apa yang kalian dapat dari luar, dan itulah kenapa nilai saya selalu A atau nggak -A lah begitu biasanya di kelas.

Menurut Akang hambatan apa sii yang sering kaka dapatkan selama bergabung dalam organisasi mahasiswa ini?

Dalam konteks hambatan kita selalu mendapat tantangan yang lagi-lagi sebenarnya kan organisasi itu sekumpulan orang yang punya tujuan yang sama, tapi dari sekumpulan orang ini dari setiap kepala itu berbeda-beda yaa, dari paradigmanya, pemikirannya. Nah kiranya menyatukan atau mensalaraskan pemikiran yang berbeda ini yang menjadi tantangannya, kadang ada yang pengen A pengen B kita harus dewasa memilih jalan tengah baiknya seperti apa. Apalagi dalam konteks BEM Universitas kita tidak hanya selesai di BEM Universitas saja tetapi kita harus mmengayomi BEM Fakultas. Kita harus mengakomodir teman-teman BEM Fakultas, pengennya seperti apa dan sebagainya. Itu sii paling tantangannya.

Mengenai relevansi juga saya sempat menemukan beberapa statement dari netizen atau masyarakat bahwasannya lebih relevan organisasi eksternal daripada organisasi internal, nah kaka sendiri yang sedang menjalani organisasi internal apakah statement seperti itu dibetulkan atau ada respond sendiri dari kaka?

Bagi saya, dari saya mahasiswa baru semenjak maba saya sudah gabung organisasi eksternal dan saya sudah tahu sebelumnya dari SMA organisasi eksternal itu apa. Bagi saya, saya selalu menganggap organisasi eksternal ini adalah suatu rumah atau tempat les. Kalau dulu teman-temen ada yang les di kumon atau ada yang les di GO (Ganesha Operation) dan sebagainya, saya melihat organisasi eksternal ini adalah tempat membaca, tempat belajar. Nah tempat internal itu adalah tempat praktik bagaimana kita mengimplementasikan nilai-nilai yang sudah kita terima selama kita di eksternal itu. Bahkan tak jarang bahwasannya pembelajaran yang ada di eksternal itu malah mempengaruhi nilai akademik di perkuliahan, karena sebagian dari dosen-dosen terkhusus di Fisip pun banyak dosen-dosen yang dulunya pernah di eksternal.

Menurut kaka kapan si kami sebagai mahasiswa baru sebaiknya mulai berorganisasi, apalagi untuk mahasiswa baru yang masih bingung terkait organisasi?

Sebelum teman-teman punya planing untuk ikut organisasi atau tidak, saya rasa teman-teman harus dulu nge planing di kuliah ini mau apa. Teman-teman harus punya great tujuan nya terlebih dahulu. Tujuannya mau lulus tepat waktu kah?, atau mau lulus dengan cari relasi yang banyak kah?, atau mau seperti apa. Sekiranya teman-teman sudah punya tujuan disana relevannnya dulu saya gabung organisasi itu di himpunan sekitar semester 2, lalu saya pernah mencalonkan diri menjadi calon wakil BEM Fisip waktu itu, cuman karena takdir belum mengizinkan kemudian saya tidak jadi dan alhasil join eksternal waktu itu. Nah pasca dari situ sekarang di amantkan menjadi Wakil Ketua BEM Universitas. Dan itulah sekiranya teman-teman mau ber join atau bergabung organisasi seenggaknya teman-teman bertahap terlebih dahulu saja, dari himpunan terus ke BEM Fakultas dan tingkat lebih lanjutnya di BEM Universitas.

Ada nggak kak orang atau sekiranya badan yang di tugaskan sebagai pengampu untuk membentuk keterampilan mahasiswa di dalam organisasi?

Dalam berorganisasi siapa yang bakal mengayomi dan sebagainya itu saya rasa BPH (Badan Pengurus Harian) itu menjadi sosok dan tokoh bagaimana pola yang di lakukan BPH ke anggotanya itu yang akan menjadi ingatan oleh anggotanya di perlakukan seperti apa. Yang biasa nya saya lakukan di organisasi adalah perawatan secara emosional, yang dimana dalam konteks lain kita memiliki birokrasi a, b, c dan sebagainya. Cuma dalam rapat-rapat bagaimana kita bisa mengapresiasi pengurus, memberikan keleluasaan pengurus dalam merancang program kerja supaya ide-ide mereka terakomodir oleh teman-teman BEM Universitas. Pun kalau saya pribadi berbicara tokoh ada beberapa tokoh yang saya rangkumin, seperti Ali Syari’ati dari Iran, di satu sisi beliau agamis di satu sisi juga dia orang yang fokus dalam isu kemanusiaan. Dan banyak buku-buku atau referensi-referensi yang di ambil dari buku beliau.

Bagaimana peran organisasi terhadap masyarakat sekitar?

Kalau bicara peran mahasiswa Unsika terhadap Karawang, itu jelas berderek mahasiswa itu punya beban moral kalau bagi saya. Bahwa hari ini dari sekian juta masyarakat Indonesia atau pemuda Indonesia yang bisa mengakses dunia perkuliahan itu bagi saya adalah orang beruntung. Nah orang-orang beruntung ini yang punya akses terhadap sosial, pendidikan, politik, dan sebagainya. Pada akhirnya ini akan menjadi bermata pisau, bahwasannya ilmu-ilmu selama di perkuliahan ini akan digunakan untuk membantu masyarakat atau untuk menindas masyarakat. Seperti contoh pejabat-pejabat daerah yang ada di nasional atau kabupaten kota itu terlebih dahulu pernah menjadi mahasiswa, tapi sangat disayangkan sekali ketika keluar dari perkuliahan mereka tidak punya keberpihakan kepada masyarakat. Bagi saya mahasiswa juga adalah masyarakat yang dimana harus saling bahu-membahuketika mendapat suatu persoalan. Karena suatu bangsa maju atau tidaknya akan dilihat dari bagaimana pemudanya. Kalau hari ini pemudanya tidak mempunyai kepedulian kepada masyarakat bagaimana masa depan bangsa kita. Jadi, beberapa dampak yang pernah kita lakuin bareng bareng bersama teman teman unsika, seperti kemarin baru saja mungkin yang teman teman lihat kita pernah melakukan aksi membersamai teman teman masyakarat Karawang Selatan mengadvokasi jalanan loji yang berlubang yang di biarkan oleh negara. Kami melihat, di situlah kita harus saling bantu dan saling dukung.

Bagaimana politik kampus dapat berperan secara nyata dalam mendorong kebijakan pemerintah daerah agar lebih berpihak kepada kebutuhan masyarakat?

Kita bisa melihat bahwa hari ini Unsika adalah salah satu kampus negeri di Kabupaten Karawang yang memang jumlah mahasiswanya tuh kurang lebih sekitar 18 ribu atau 19 ribu bersama mahasiswa S2. Kalau memang hari ini kursi yang paling saya trising itu adalah organisasi mahasiswa yang ada di Unsika, itu pada akhirnya akan menjadi pertarungan antara elit-elit yang ada di kabupaten Karawang untuk siapa cepat siapa yang bisa bertarung untuk mempunyai kekuasaan di BEM Unsika ini atau di Unsika ini. Karena kenapa? Karena di masa yang kuat dengan kekuatan yang besar, ketika seorang pemimpin di Unsika ini yang tidak punya keberpihakan kepada masyarakat, pada akhirnya hanya membawa Unsika ini ke jalan yang seperti apa. Tapi ketika seorang pemimpin itu punya integritas dan keberpihakan kepada masyarakat, pada akhirnya unsika ini, karena tadi saya bilang bahwa mahasiswa penyumbang moral kepada masyarakat, seharusnya punya keperpihakan terhadap masyarakat. Ketika masyarakat Karawang hari ini menjerit dengan segala kasus pendidikan, kesehatan, dan sebagainya, nah disitulah seharusnya mahasiswa Unsika itu harus hadir dan berani mengadvokasi teman teman kita atau saudara saudara kita meman di luar kampus atau di luar kepala gading, itulah kenapa memang pentingnya organisasi mahasiswa untuk merubah kebijakan. Karena kalau misalkan kaum pemudanya atau mahasiswanya sudah lagi tidak punya kepedulian terhadap masyarakat kecil atau masyarakat sekitar, secara kan siapa lagi yang bakal memperhatikan kebijakan negara, siapa yang bakal mengkritisi? Ya saya perlu sampaikan bahwa organisasi mahasiswa itu adalah kawan strategis dan kawan kritis, di satu sisi kita bisa bareng bareng membangun bersama pemerintah atau bersama yang terkait, tapi di satu sisi kita juga harus mengawasi kebijakan kebijakan mereka.

Penulis: Muhamad Raihan, Vio Naura Adina, Masliana Harahap (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Semester 1)

Kelas Semester Genap TA 2025-2026

Related Posts

Menuju Kelurahan Nagasari Yang Infrastrukturnya Kian Memadai

Karawang, Wartacana.com – Pembangunan infrastruktur di Kelurahan Nagasari terus dilakukan secara bertahap guna mendukung kebutuhan masyarakat. Sejak 2018, sejumlah pembangunan telah dilaksanakan, dan di antaranya jalan setapak serta drainase yang…

Read more

You Missed

Menuju Kelurahan Nagasari Yang Infrastrukturnya Kian Memadai

Menuju Kelurahan Nagasari Yang Infrastrukturnya Kian Memadai

ORGANISASI DI ERA MODERN APAKAH MASIH RELEVAN?

ORGANISASI DI ERA MODERN APAKAH MASIH RELEVAN?
Cara Berdebat dan Membuat Argumen Berkualitas

Benteng Kesehatan Usia Remaja: Cerita SMPN 4 Kotabaru Edukasi Siswi Melawan Takut Vaksin HPV

Benteng Kesehatan Usia Remaja: Cerita SMPN 4 Kotabaru Edukasi Siswi Melawan Takut Vaksin HPV

Dosen Filsafat Unsika: Kampus Harus Beri Fasilitas AI Detector

Dosen Filsafat Unsika: Kampus Harus Beri Fasilitas AI Detector

Peran Pemilik Kos dalam Mendukung Kenyamanan Mahasiswa Perantau di Sekitar UNSIKA

Peran Pemilik Kos dalam Mendukung Kenyamanan Mahasiswa Perantau di Sekitar UNSIKA