Karawang, Wartacana.com – Saat melakukan penelusuran terhadap peredaran alat olahraga palsu, tim liputan menemukan berbagai produk yang dijual secara bebas melalui toko daring dan media sosial.
Sejumlah perlengkapan olahraga ditawarkan dengan harga jauh lebih murah dibandingkan produk resmi, bahkan beberapa di antaranya menggunakan kemasan, logo, dan tampilan yang sangat mirip dengan produk asli sehingga sulit dibedakan oleh konsumen yang tidak berpengalaman.
Maraknya peredaran alat olahraga palsu di Indonesia menjadi perhatian serius di kalangan atlet dan pelaku industri olahraga. Produk-produk tiruan yang dijual dengan harga jauh lebih murah memang terlihat menguntungkan bagi sebagian konsumen.
Namun di balik harga yang terjangkau tersebut, terdapat risiko besar yang dapat memengaruhi performa atlet, menimbulkan kerugian finansial, hingga mengancam keselamatan saat berolahraga.

Fenomena ini ditemukan pada berbagai cabang olahraga. Salah satunya panahan.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara tim liputan, penggunaan alat olahraga yang tidak sesuai standar masih cukup sering ditemukan di kalangan atlet. Kondisi tersebut terutama terjadi pada komponen-komponen kecil yang mudah diperoleh melalui toko daring maupun jalur distribusi tidak resmi.
Dalam observasi yang dilakukan selama proses peliputan, ditemukan bahwa kualitas peralatan memiliki peran yang sangat penting dalam menunjang performa atlet. Perbedaan antara produk asli dan produk tiruan tidak hanya terlihat dari daya tahannya, tetapi juga berpengaruh terhadap akurasi, konsistensi, serta kenyamanan saat digunakan dalam latihan maupun pertandingan.
Salah satu komponen panahan yang paling sering ditemukan dalam bentuk tiruan adalah nock, yaitu bagian kecil pada anak panah yang berfungsi menghubungkan panah dengan tali busur. Meskipun ukurannya relatif kecil, komponen ini memiliki peran penting dalam menentukan kualitas tembakan seorang atlet.
Berdasarkan hasil observasi, penggunaan nock palsu dapat menyebabkan hasil tembakan menjadi kurang konsisten. Pada jarak tembak yang jauh, perbedaan kualitas antara produk asli dan palsu dapat dirasakan secara langsung.

Produk tiruan cenderung lebih cepat rusak dan memiliki kualitas bahan yang lebih rendah. Dampaknya, memengaruhi kestabilan anak panah saat meluncur menuju target.
Atlet panahan tingkat Provinsi DKI Jakarta, Arya Hutama Dhermawan, mengaku pernah menggunakan nock palsu untuk kebutuhan latihan tertentu. Menurutnya, harga menjadi alasan utama mengapa sebagian atlet memilih menggunakan produk tersebut.
“Kalau misalnya nock asli biasanya lebih mahal. Untuk latihan jarak dekat ada yang menggunakan nock palsu karena lebih murah. Tapi untuk akurasi pasti beda. Yang asli berat dan bentuknya lebih konsisten, sedangkan yang palsu tidak bisa dijamin kualitasnya,” ujarnya, (24/05/26).
Penggunaan alat palsu tidak hanya berdampak pada aspek teknis, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis atlet. Dalam observasi yang dilakukan, ditemukan bahwa ketika hasil tembakan tidak sesuai harapan, atlet sering kali menganggap penyebabnya berasal dari kemampuan diri sendiri.
Padahal, kualitas peralatan yang digunakan juga dapat menjadi faktor yang memengaruhi performa. Kondisi tersebut dapat menurunkan rasa percaya diri atlet, terutama ketika mereka sedang menjalani persiapan kompetisi atau mengikuti pertandingan penting.
Akibatnya, atlet harus menghadapi dua tantangan sekaligus. Pertama, memperbaiki performa teknik. Kedua, mengatasi masalah yang sebenarnya berasal dari kualitas alat yang digunakan.
Direktur PT Pro Archery Equipment, Faiz Daud, menjelaskan bahwa peredaran alat panahan palsu masih cukup banyak ditemukan di pasar Indonesia. Menurutnya, produk yang paling sering dipalsukan adalah komponen kecil seperti nock dan vanes karena memiliki permintaan yang tinggi di kalangan pemanah.
Ia menilai banyak konsumen kesulitan membedakan produk asli dan palsu karena secara tampilan fisik keduanya terlihat hampir sama. Perbedaan biasanya baru terlihat setelah produk digunakan dalam jangka waktu tertentu.
“Untuk atlet yang sudah berada di level tinggi, penggunaan barang palsu sangat berpengaruh terhadap performa. Selain itu ada juga aspek keselamatan karena kualitas materialnya berbeda dan lebih mudah rusak,” kata Faiz, (04/05/2026).

Menurutnya, beberapa atlet bahkan pernah membeli produk palsu tanpa menyadari bahwa barang yang mereka gunakan bukanlah produk asli. Dalam beberapa kasus, produk tiruan dijual dengan harga yang mendekati produk asli sehingga konsumen merasa tertipu setelah mengetahui kualitas sebenarnya.
Faiz menjelaskan bahwa salah satu penyebab sulitnya memberantas peredaran alat panahan palsu adalah karena sebagian besar merek perlengkapan panahan berasal dari luar negeri.
Akibatnya, perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual di Indonesia belum sepenuhnya mampu menekan peredaran barang tiruan yang masuk ke pasar domestik.
Selain panahan, persoalan alat olahraga palsu juga ditemukan dalam cabang olahraga bulu tangkis. Mantan atlet sekaligus pelatih bulu tangkis, Samuel Hamunangan, mengungkapkan bahwa dirinya pernah menemukan bahkan menggunakan beberapa perlengkapan olahraga tiruan.
Menurut Samuel, perbedaan antara produk asli dan palsu cukup terasa ketika digunakan secara langsung. Pada raket bulu tangkis, misalnya, produk palsu cenderung memiliki daya tahan yang lebih rendah dan tidak mampu menahan tarikan senar yang tinggi.
“Kalau yang KW biasanya daya tahannya kurang. Untuk raket, kalau ditarik dengan tegangan tinggi biasanya tidak kuat. Kalau dipakai main juga terasa berbeda, terutama saat melakukan pukulan dan smash,” ujarnya, (24/05/2026).
Tidak hanya raket, sepatu olahraga palsu juga dinilai memiliki kualitas yang lebih rendah dibandingkan produk asli. Samuel menjelaskan bahwa sepatu tiruan umumnya memiliki sol yang lebih cepat aus.
Sudah itu, daya cengkramnya buruk, dan bantalan yang kurang nyaman sehingga berpotensi meningkatkan risiko cedera saat bermain. Menurutnya, atlet pemula menjadi kelompok yang paling rentan menggunakan produk palsu.
Hal tersebut terjadi karena minimnya pengalaman serta kurangnya pengetahuan mengenai cara membedakan produk asli dan tiruan.
“Kalau pemula biasanya beli yang penting bisa dipakai dulu. Mereka belum banyak tahu dan belum punya pengalaman untuk membedakan mana yang asli dan mana yang palsu,” katanya.
Selain faktor kurangnya edukasi, harga juga menjadi alasan utama mengapa alat olahraga palsu masih diminati masyarakat. Selisih harga yang cukup besar membuat banyak konsumen tergoda untuk membeli produk yang lebih murah tanpa mempertimbangkan risiko yang mungkin muncul di kemudian hari.
Kemudahan akses melalui platform perdagangan elektronik juga menjadi faktor yang memperluas peredaran barang palsu. Saat ini, berbagai produk olahraga dapat dengan mudah ditemukan di toko daring dengan harga yang jauh lebih rendah dibandingkan distributor resmi.
Sayangnya, tidak semua konsumen memiliki kemampuan untuk memverifikasi keaslian produk yang mereka beli. Produsen, distributor, pemerintah, pelatih, hingga atlet perlu berperan aktif dalam menekan peredaran alat olahraga palsu.
Edukasi mengenai ciri-ciri produk asli, peningkatan pengawasan terhadap jalur distribusi, serta penindakan terhadap penjual barang tiruan menjadi langkah yang dinilai penting untuk dilakukan.
Peredaran alat olahraga palsu akhirnya mempengaruhi kualitas pembinaan olahraga nasional. Penggunaan alat yang tidak sesuai standar dapat menghambat perkembangan atlet, menurunkan performa saat bertanding, serta meningkatkan risiko keselamatan dalam berbagai cabang olahraga.
Karena itu, masyarakat termasuk atlet, diimbau untuk lebih berhati-hati saat membeli perlengkapan olahraga dan memastikan produk yang digunakan berasal dari distributor resmi. Dengan penggunaan peralatan yang berkualitas dan sesuai standar, atlet dapat berlatih serta bertanding secara optimal tanpa harus khawatir terhadap risiko yang ditimbulkan oleh produk palsu.
Penulis: Agni Naura Putri, Azmi Aurellia Diniari, Mahsya Barindri Alfiyani (Mahasiswa Unsika Semester 6)






https://shorturl.fm/qL7gs