Purwakarta, Wartacana.com – Desa Parakan Garokgek, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta, memiliki beragam kesenian tradisional yang masih lestari hingga saat ini. Melalui Kuliah Kerja Nyata, mahasiswa KKN Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) berupaya mendukung pelestarian budaya daerah tersebut dengan memperkenalkan kekayaan budaya kepada masyarakat luas.
Berdasarkan hasil wawancara kepada kepala Desa Parakan Garokgek dan Tokoh Kesenian setempat, mahasiswa KKN Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) berhasil menggali informasi mengenai sejarah, perkembangan, serta tantangan dalam melestarikan kesenian daerah. Kesenian Desa Parakan Garokgek telah ada sejak puluhan tahun yang lalu dan berhasil diwariskan secara turun-temurun. Berbagai kesenian berkembang di Desa Garokgek ini, seperti Sisingaan, Jaipong, Pencak Silat dan Calung.
Menurut penjelasan kepala desa, salah satu kesenian yang terus berkembang di Desa Parakan Garokgek ialah Sisingaan, kesenian tersebut berkembang sekitar tahun 2000-2001 melalui kelompok seni yang dipimpin oleh Bapak Obul. Kesenian tersebut berasal dari Kabupaten Subang, karena Desa Parakan Garokgek berbatasan dengan wilayah Subang sehingga budaya Sisingaan ikut berkembang di desa ini.
Secara historis, kesenian Sisingaan dikenal sebagai simbol perjuangan masyarakat pada masa kolonial. Boneka singa yang diusung dalam pertunjukan melambangkan kekuasaan penjajah, sedangkan para pengusungnya menjadi simbol semangat rakyat yang mampu bangkit dan melawan penindasan.
Di balik atraksi yang meriah, Sisingaan juga menyimpan filosofi yang mendalam. Boneka singa melambangkan kekuatan, keberanian, dan keteguhan hati dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Sementara itu, kekompakan para pengusung menggambarkan pentingnya persatuan, gotong royong, dan kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai tersebut masih terus dijaga oleh kelompok seni Sisingaan Desa Parakan Garokgek sebagai pesan moral yang diwariskan kepada generasi muda.
Kelompok seni Sisingaan Desa Parakan Garokgek kerap tampil dalam berbagai kegiatan masyarakat, seperti peringatan Hari Besar Nasional (PHBN), Hari Jadi Kabupaten Purwakarta, acara hajatan warga, syukuran tanah, syukuran kelahiran, dll. kehadiran kesenian ini menjadi penting dalam berbagai kegiatan adat maupun sosial bermasyarakat di Desa Parakan Garokgek.

Dalam proses regenerasi, latihan bagi anggota baru tidak memerlukan waktu yang terlalu lama. Peserta umumnya dapat mengikuti pertunjukan setelah menjalani latihan sebanyak dua hingga tiga kali. Sebelum tampil, kelompok seni juga masih mempertahankan sejumlah tradisi sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya leluhur, seperti membakar kemenyan, menyiapkan telur ayam sebagai sesajen sederhana, serta memanjatkan doa sebagai bentuk permohonan keselamatan dan kelancaran pertunjukan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi tersebut diyakini sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan adat yang telah diwariskan sejak lama.
“Sebelum tampil kami selalu berdoa bersama. Biasanya juga ada tradisi membakar kemenyan, menyiapkan telur ayam, dan sanuk-sanuk sebagai bentuk permohonan keselamatan kepada Yang Maha Kuasa agar pertunjukan berjalan lancar,” jelas Bapak Obul.
Meski demikian, pelestarian kesenian tradisional tidak terlepas dari berbagai tantangan. Minat generasi remaja dinilai mulai menurun karena maraknya pengaruh budaya modern. Sebaliknya, anak-anak usia sekolah dasar dan sekolah menengah pertama masih menunjukkan antusiasme untuk belajar dan mengikuti kegiatan kesenian. Selain itu, kesibukan masing-masing anggota juga menjadi kendala dalam menjaga konsistensi latihan.
Ke depan, kelompok seni tersebut berharap kesenian Desa Parakan Garokgek dapat dikenal lebih luas, tidak hanya di tingkat daerah tetapi juga nasional hingga internasional. Mereka juga bercita-cita memiliki sanggar seni sendiri sebagai pusat pelatihan dan pelestarian budaya.
Melalui kegiatan KKN, mahasiswa UNSIKA berharap informasi mengenai kesenian lokal Desa Parakan Garokgek dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas. Pengenalan budaya ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya melestarikan kesenian tradisional sebagai identitas daerah sekaligus warisan budaya yang harus dijaga bersama.
Penulis : Iko Matus Suniah, Abdullah Faqih Jihadi, Rakha Octa Putra, Davia Zamanda, Winda Wati Agustin, Moch Fikry Haekal I.H (Mahasiswa KKN UNSIKA 2026 Parakan Garokgek)





