Perjuangan Tukang Becak Bertahan di Karawang

Karawang, Wartacana.com – Di tengah laju perkembangan transportasi berbasis aplikasi yang sangat cepat, kondisi tukang becak di Karawang semakin terdesak. Penurunan pendapatan yang signifikan

Berkurangnya jumlah penumpang, dan usia yang semakin bertambah menjadi tantangan yang mereka hadapi setiap hari. Situasi ini mencerminkan bagaimana kemajuan teknologi mengubah kehidupan para penggiat transportasi tradisional.

Transportasi becak telah ada di Indonesia sejak sekitar tahun 1930-an dan dulu menjadi salah satu sarana transportasi utama bagi masyarakat di kota. Namun, kemajuan teknologi membawa masuk berbagai moda transportasi baru yang lebih efisien dan cepat.

Kehadiran layanan berbasis aplikasi seperti Gojek pada tahun 2010 dan Grab pada tahun 2012 perlahan-lahan mereduksi peran becak di masyarakat.

Transformasi Kota Karawang juga memberi pengaruh yang besar terhadap para tukang becak. Munculnya ojek online semakin membuat transportasi tradisional itu kehilangan penggemar. Sebagai akibatnya, para tukang becak harus lebih berjuang untuk menarik penumpang.

Seorang tukang becak bernama Mursyid (80 tahun) yang telah menjalani pekerjaan ini selama bertahun-tahun mengakui bahwa ia mulai menarik becak ketika Karawang didominasi oleh lahan pertanian. Ia merasakan perubahan yang terjadi sepanjang waktu secara langsung.

“Sejak sekitar tahun 1965 saya sudah ada di sini. Dulu banyak sawahnya,” ujarnya, Senin (20/4/2026) saat diwawancarai.

Dalam beberapa dekade terakhir, Karawang mengalami perkembangan yang sangat pesat. Daerah yang dulunya dipenuhi sawah kini bertransformasi menjadi pusat industri, tempat belanja, hingga area pemukiman.

Infografis perkembangan transportasi dari becak hingga ojek online Gojek dan Grab (05/05/2026)
Infografis perkembangan transportasi dari becak hingga ojek online Gojek dan Grab (05/05/2026)

Perubahan ini juga berpengaruh pada pola mobilitas masyarakat yang kini lebih mengandalkan kendaraan pribadi ataupun transportasi berbasis aplikasi. Mursyid menjalani rutinitas sehari-harinya dengan cara yang sama. 

Meskipun usianya sudah (80 tahun),  Mursyid menjalani rutinitas sehari-harinya dengan cara yang sama.

Ia merawat jok becaknya, memeriksa kondisi ban, dan menunggu calon penumpang di pangkalan. Walaupun umurnya sudah tua, dia tetap berusaha mencari nafkah dari pekerjaan yang sudah dilakoninya selama puluhan tahun.

Namun, jalanan kota telah berubah, begitu juga dengan nasib para tukang becak. Jika sebelumnya mereka menjadi pilihan utama untuk perjalanan jarak dekat, kini keberadaan mereka semakin terabaikan. Mursyid pun perlu lebih sabar dalam menunggu penumpang.

Saat ini, hari-harinya dihabiskan dengan mengamati kendaraan modern yang melintas dengan cepat. Sementara itu, becak yang digunakannya semakin terpinggirkan. Menunggu penumpang tidak lagi sebentar, melainkan bisa berjam-jam di bawah sinar matahari yang terik.

Dalam sehari, Mursyid mencatat penghasilan sekitar Rp70.000. Namun, jumlah ini tidak tetap karena semakin sulit untuk mendapatkan penumpang. “Sekarang banyak saingan, dahulu cuma angkot, kini ada grab motor. Penumpang ada, tapi sulit mencarinya,” jelasnya, Senin (20/04/2026)

Ketika penghasilan dari menarik becak tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Mursyid mencari peluang lain untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Ia memanfaatkan waktu luangnya dengan mengumpulkan botol plastik bekas di sekitar perumahan untuk dijual kepada pengepul. “Kalau sedang sepi, saya mencari botol untuk dijual. Yang penting halal,” ucapnya, Senin (20/04/2026)

Hal serupa juga dialami oleh Nana (60 tahun), tukang becak yang beroperasi di Alun-Alun Karawang. Dia merasakan betul bahwa pergeseran kota sangat signifikan dibanding beberapa tahun yang lalu. Ia mengakui bahwa semakin sulit untuk mendapatkan penumpang sejak adanya transportasi online.

Nana (60) menunggu penumpang di kawasan Alun-Alun Karawang, Jawa Barat (24/04/2026)
Nana (60) menunggu penumpang di kawasan Alun-Alun Karawang, Jawa Barat (24/04/2026)

“Dulu gampang nyari penumpang. Sekarang sangat sulit,” ujarnya, Senin (20/4/2026) saat diwawancarai. Sebelum munculnya transportasi berbasis aplikasi yang melesat, profesi sebagai tukang becak masih bisa memberikan pendapatan yang cukup baik. Saat ini, Nana mengungkapkan bahwa dia terkadang kesulitan untuk mendapatkan satu penumpang dalam sehari.

“Setengah hari dulu sudah dapat. Sekarang hampir satu hari paling dua jalan,” ucapnya, Senin (20/04/2026). Pendapatan yang ia peroleh pun jauh menurun dalam sehari, Nana hanya bisa mendapatkan sekitar Rp35.000. Sebuah nominal yang sangat tipis untuk bertahan hidup di tengah merangkaknya harga-harga kebutuhan pokok saat ini.

“Jauh menurun. Sehari paling Rp35.000,” katanya (20/04/2026). Dengan penghasilan tersebut,  dia mencoba untuk mengelola pengeluaran seefisien mungkin agar kebutuhan setiap hari tetap dapat dipenuhi. Dengan penghasilan tersebut,  dia mencoba untuk mengelola pengeluaran seefisien mungkin agar kebutuhan setiap hari tetap dapat dipenuhi, “Ya dipas-pasin sama istri,” tambahnya, tersenyum getir.

Berbeda dengan Mursyid yang masih dapat mencari tambahan penghasilan dari mengumpulkan botol bekas, kondisi tubuh Nana tidak lagi memungkinkan untuk melakukan pekerjaan lain. Di usianya yang ke-60, ia lebih memilih untuk tetap fokus menarik becak meskipun pendapatannya terus menurun. “Sudah tua, jadi fokus becak saja,” ujarnya dengan rasa pasrah.

Kesunyian di pangkalan becak tidak hanya dirasakan oleh para pengemudinya, tetapi juga disadari oleh masyarakat yang dulu menjadi pelanggan setia. Lia (60), penduduk Karawang, mengenang saat-saat ketika becak merupakan alat transportasi utama sebelum ojek online hadir. Menurutnya, keberadaan becak dulunya sangat membantu dalam aktivitas sehari-hari masyarakat.

“Dulu kan belum ada ojek grab gitu, becak utamanya,” ungkap Lia, (21/5/2026) pada saat diwawancarai. Lia berpendapat bahwa becak memiliki keunggulan tersendiri, terutama bagi para ibu rumah tangga yang membawa banyak barang dari pasar. Kapasitas becak dianggap lebih praktis dibandingkan kendaraan bermotor. “Kalau ke pasar kan bawanya harus banyak. Kalau naik motor ribet,” ujarnya.

Namun, sekarang ini, keberadaan becak semakin sulit ditemukan di berbagai daerah Karawang. Jumlah tukang becak yang terus berkurang membuat masyarakat mencari pilihan transportasi lain. “Jarang malah nggak ada sekarang tinggal satu dua. Jauh-jauh lagi tempatnya,” paparnya.

Menurut Lia, becak sesungguhnya masih diperlukan untuk aktivitas tertentu. Moda transportasi ini tetap dianggap relevan bagi sebagian orang, terutama bagi ibu rumah tangga dan orang tua. “Masih banget dibutuhkan, terutama buat ibu rumah tangga,” tambahnya.

Ia juga merasa prihatin melihat kondisi para tukang becak yang semakin tersisih akibat kemajuan dalam transportasi modern. Persaingan dengan kendaraan berbasis aplikasi membuat mereka kehilangan banyak pelanggan. “Kasihan juga tukang becaknya. Sekarang kalah sama yang motor,” ujarnya.

Kisah Mursyid dan Nana menjadi gambaran nyata ketimpangan antara transportasi tradisional dan modern yang terjadi di tengah kemajuan teknologi transportasi. Mereka terus berusaha di jalur yang sama, berharap roda kehidupan dapat terus berputar meskipun zaman terus berubah.

Penulis: Azmi Lutfiah Ramadanti, Nurul Aini, Nurul Aulia (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Semester 6)

Kelas Semester Genap TA 2025-2026

Related Posts

Tradisi Nyalin Kian Langka, Warisan Budaya Tani Karawang Terancam Hilang

Karawang, Wartacana.com – Perkembangan teknologi di sektor pertanian membawa berbagai kemudahan bagi para petani dalam mengelola lahan dan melakukan panen. Namun di balik kemajuan tersebut, sejumlah tradisi yang telah lama…

Read more
Underpass Gorowong Karawang Sering Berlubang

Karawang, wartacana.com – Pembangunan Underpass Gorowong di Kabupaten Karawang yang menghubungkan wilayah Klari dan Warung Bambu sempat menjadi pusat perhatian publik. Setelah munculnya kerusakan berupa lubang parah pada badan jalan…

Read more

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Missed

Narkotika di Cairan Vape

Narkotika di Cairan Vape

Tradisi Nyalin Kian Langka, Warisan Budaya Tani Karawang Terancam Hilang

Tradisi Nyalin Kian Langka, Warisan Budaya Tani Karawang Terancam Hilang

Underpass Gorowong Karawang Sering Berlubang

Underpass Gorowong Karawang Sering Berlubang

Jejak Konflik Agraria Telukjambe Karawang dan Luka yang Tertinggal

Jejak Konflik Agraria Telukjambe Karawang dan Luka yang Tertinggal

Pelecehan Seksual pada Laki-laki ternyata Membeludak

Pelecehan Seksual pada Laki-laki ternyata Membeludak

Peredaran Alat Olahraga Palsu Meningkat, Ancam Keselamatan & Performa Atlet

Peredaran Alat Olahraga Palsu Meningkat, Ancam Keselamatan & Performa Atlet