Pengaruh Lingkungan Pertemanan Terhadap Gaya Hidup Mahasiswa: Antara Penyesuaian Diri dan Identitas

Karawang, Wartacana.com – Dinamika kehidupan kampus tidak pernah lepas dari interaksi sosial dan lingkungan pertemanan. Bagi seorang mahasiswa yang berada dalam masa transisi remaja akhir,
kelompok pertemanan memiliki peranan yang sangat signifikan dalam membentuk gaya hidup,
pola perilaku, hingga cara berpakaian sehari-hari.
Membahas fenomena tersebut, pewawancara Meikayla Putrinianti berkesempatan melakukan
sesi wawancara khusus bersama Ibu Nita Rohayati selaku psikologis akademisi. Dalam diskusi
ini, dibahas bagaimana pengaruh kelompok sebaya (peer group) dapat memicu perubahan gaya
hidup mahasiswa serta pentingnya menjaga identitas diri. Berikut kutipannya:

Seberapa besar sebenernya pengaruh lingkungan pertemanan terhadap gaya hidup
mahasiswa saat ini?

Pertemanan terhadap gaya hidup mahasiswa, sebetulnya kalau misalkan kita bilang, mahasiswa ini kan sebetulnya masih dalam tahapan remaja. Memang remaja itu secara psikolog perkembangan membutuhkan kelompoknya. Pada dasarnya individu remaja itu ingin merasa diterima di dalam kelompoknya.
Jadi kalau ditanya seberapa besar pengaruhnya, tentu akan kembali lagi kepada diri individu masing-masing. Ada mahasiswa yang masih bisa mempertahankan jati dirinya tanpa terpengaruh oleh siapapun, tapi juga ada mahasiswa secara individual karena keinginan untuk diterima lebih besar dalam kelompok tersebut. Sehingga dia mengubah gaya hidupnya sesui dengan yang dimau atau diterima oleh kelompok pertemanannya. Jadi seberapa besarnya kembali ke diri masing-masing, namun pengaruhnya memang pasti ada, karena perilaku di pengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu salah satunya faktor lingkungan.

Lalu mengapa mahasiswa cenderung mengikuti kebiasaan atau gaya hidup teman-temannya?

Seperti yang di sampaikan, individu mahasiswa ini berada di masa remaja yang memiliki kebutuhan untuk diterima oleh kelompoknya. Ketika berada dalam suatu kelompok pertemanan mereka berusaha agar bisa diterima dan menyesuaikan diri.
Misalnya, katakanlah gaya berpakaian seseorang awalnya berbeda. Namun untuk masuk dan diterima dalam kelompok tersebut, yang memiliki standar gaya pertemanan tertentu, dia biasanya akan menyesuaikan agar diterima. Keinginan untuk di terima kelompok inilah yang mendorong mereka untuk merubah gaya hidupnya.

Apakah ada dampak positif dan negatif yang dapat muncul ketika mahasiswa terlalu
mengikuti gaya hidup lingkungan pertemanannya?

Tergantung gaya hidup yang di contoh seperti apa. Jika masuk ke dalam kelompok yang memberikan perilaku yang baik, tentu dampaknya menjadi positif. Tapi kalau sampai menghilangkan jati diri dan merubah dirinya secara total hanya demi diterima di kelompok, itu menjadi hal yang tidak baik. Apalagi jika mengikuti hal-hal yang negatif.
Sebagai mahasiswa, ketika mencari teman kita harus mempertimbangkan apakah pertemanan tersebut membawa ke arah positif atau negatif. Kita harus punya batasan tersendiri ketika masuk ke suatu kelompok. Jangan sampai menghilangkan identitas diri. Individu yang baik adalah individu yang tetap memiliki kepribadiannya tanpa harus mengikuti orang lain, tetapi tetap bisa beradaptasi dengan kelompoknya.

Bagaimana cara mahasiswa agar tetap bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan
pertemanan tanpa kehilangan jati dirinya?

Kuncinya adalah dengan mengenali dan menerima diri sendiri (self- acceptance). Bahwa bagaimana pun kondisi dirinya, itulah yang dia miliki. Dengan self-acceptance, ketika bertemu dengan siapapun dan dalam kondisi lingkungan berbeda, dia tidak akan kehilangan dirinya.
Dia tahu bahwa apa pun yang terjadi pada dirinya dan apa pun yang dilakukan, dia sudah siap dan bertanggung jawab. Jadi self-acceptance menjadi salah satu factor penting agar seseorang bisa menyesuaikan diri di lingkungan tanpa kehilangan jati diri.
Kesimpulannya adalah Penyesuaian diri dalam pertemanan kampus merupakan hal yang wajar bagi mahasiswa. Namun, agar tidak terbawa ke arah yang merugikan, setiap mahasiswa diharapkan memiliki fondasi penerimaan diri (self-acceptance) dan batasan personal yang jelas agar mampu beradaptasi secara sehat tanpa kehilangan kepribadian aslinya.

 

Penulis: Waffa Al Aufa, Meikayla Putrinianti, Fadil Muhammad Alkahtani (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unsika Semester  1)

 

Kelas Semester Genap TA 2025-2026

Related Posts

Pengaruh Pola Tidur terhadap Akademik Mahasiswa, Ini Penjelasan Dinkes Karawang

Karawang, Wartacana – Pola tidur menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh mahasiswa. Kesibukan kuliah, tugas, organisasi, hingga aktivitas lainnya sering membuat mahasiswa tidur terlalu larut atau mengurangi waktu…

Read more

You Missed

KULIAH SAMBIL BEKERJA BUKAN HALANGAN UNTUK MENGEJAR CITA-CITA

Hoax di Kampus : Antara Fakta, Literasi, dan Tanggung Jawab

Hoax di Kampus : Antara Fakta, Literasi, dan Tanggung Jawab

PELANGGARAN LALU LINTAS DI KALANGAN REMAJA: POTRET KURANGNYA KESADARAN BERKENDARA DI ERA MODERN

Pengaruh Lingkungan Pertemanan Terhadap Gaya Hidup Mahasiswa: Antara Penyesuaian Diri dan Identitas

Pengaruh Lingkungan Pertemanan Terhadap Gaya Hidup Mahasiswa: Antara Penyesuaian Diri dan Identitas

Pengaruh Pola Tidur terhadap Akademik Mahasiswa, Ini Penjelasan Dinkes Karawang

Pengaruh Pola Tidur terhadap Akademik Mahasiswa, Ini Penjelasan Dinkes Karawang

Menepis Label Apatis: Mengurai Pola Kepedulian Sosial Generasi Muda di Era Digital

Menepis Label Apatis: Mengurai Pola Kepedulian Sosial Generasi Muda di  Era Digital