KARAWANG, wartacana.com – Di era digital saat ini, promosi melalui media sosial seolah menjadi keharusan bagi pelaku usaha. Namun, aturan ini rupanya tidak berlaku bagi A Wendi. Ia adalah pedagang Seblak dan Lumpia Basah khas Bandung di depan kampus Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA).
Sejak merintis usaha pada tahun 2013, pria asal Garut ini sukses mempertahankan pelanggannya. Bahkan, ia mampu menjual rata-rata 100 porsi per hari meski tanpa bantuan promosi media sosial sama sekali.
Alasan Tidak Menggunakan Media Sosial
Untuk mengetahui strategi usahanya, tim liputan berkesempatan mewawancarai Wendi di sela-sela kesibukannya melayani pembeli. Dalam wawancara tersebut, Wendi mengungkapkan alasan sederhana di balik keputusannya itu.
Secara terang-terangan, ia mengaku memang tidak terbiasa menggunakan platform digital tersebut. “Enggak bisa Neng yang gituan mah, enggak bisa main sosial media,” ungkap Wendi.
Kualitas Rasa Sebagai Kunci Utama
Sebagai gantinya, Wendi mengandalkan strategi pemasaran yang sangat mendasar. Ia selalu konsisten menjaga kualitas dan cita rasa masakannya. Menurutnya, kunci utama pelanggan datang kembali adalah rasa makanan yang cocok dan terjaga sejak dulu.

(sumber: dokumen wartacana.com)
“Karena yang pertama ya menjaga rasa lah. Cita rasa itu yang harus dipertahanin. Kalau rasanya sudah cocok, pelanggan yakin kembali lagi,” jelas Wendi.
Oleh karena itu, ia terus mempertahankan cara lamanya. Wendi secara konsisten meracik sendiri bumbu rahasianya agar rasa seblak dan lumpianya tetap mantap.
Berawal dari Iseng Hingga Jadi Favorit Mahasiswa
Kedai ini beroperasi mulai pukul 11.00 WIB hingga 20.00 WIB. Target pasar utamanya adalah mahasiswa, pelajar (SMP dan SMA), serta para karyawan. Dari sekian banyak menu, Lumpia Basah menjadi hidangan best seller.
Menurut Wendi, lumpia buatannya laku keras karena porsi sayurannya sangat berlimpah. Selain itu, makanan khas ini memang masih jarang ditemui di sekitar kampus. Lebih lanjut, ia bercerita bahwa usahanya bermula dari coba-coba dan menunya tidak langsung banyak.
“Awalnya mah iseng-iseng Neng, malah banyak yang suka. Ya, jalanin aja jualan,” kenangnya.
“Awal-awal mah cuma telur doang sama bakso dan sosis. Karena banyak masukan dan request dari pelanggan, yaudah saya tambahin menunya,” tambahnya.
Lokasi Strategis dan Bertahan Lintas Tahun
Pria yang merantau dari Garut pada usia 20 tahun ini sengaja memilih lokasi tersebut. Pasalnya, ia melihat lingkungan di sana sangat menjanjikan untuk berdagang.
Setelah tiga belas tahun berjualan, Wendi sangat bersyukur. Usahanya ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Walaupun kerap mengalami pasang surut penjualan dan sedikit penyesuaian harga, kedainya tetap kokoh berdiri.
Bagi Anda yang penasaran dengan cita rasanya, silakan mampir langsung. Kedai Seblak dan Lumpia Basah ini terletak tepat di depan kampus Unsika, bersebelahan dengan gerai Momoyo Es Krim.
Penulis: Muhammad Ikhsan Zaki, Annisa Safitri, Amanda Ratna Putri (Mahasiswa ilmu komunikasi semester 1)



