Karawang, Wartacana.com- Disiplin bukan hanya tentang datang tepat waktu, memakai seragam sesuai aturan, atau mengerjakan tugas tepat waktu. Lebih dari itu, disiplin merupakan kebiasaan yang dapat membentuk sikap tanggung jawab dan kemandirian siswa dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, membangun karakter disiplin sejak di bangku sekolah menjadi hal yang penting.
Dalam prosesnya, guru BP (Bimbingan dan Penyuluhan) memiliki peran yang cukup besar dalam membantu siswa memahami pentingnya kedisiplinan. Melalui bimbingan, arahan, dan pendekatan yang tepat, guru BP dapat membantu siswa menyadari kesalahan sekaligus mendorong mereka untuk menjadi lebih bertanggung jawab. Pendekatan yang dilakukan pun tidak hanya berupa teguran, tetapi juga komunikasi yang membuat siswa merasa didengar dan dipahami.
Lalu, bagaimana sebenarnya peran guru BP dalam membangun karakter disiplin siswa? Apa saja cara yang dilakukan untuk menghadapi siswa yang masih kesulitan menerapkan kedisiplinan? Hal tersebut menjadi salah satu hal menarik yang dibahas dalam wawancara mengenai “Membangun Karakter Disiplin Siswa Melalui Peran Guru BP.”

Menurut Ibu, apa peran Guru BK dalam membantu membangun karakter siswa di sekolah?
Peran Guru BK dalam membangun karakter siswa, ya berarti Guru BK ini bisa sebagai pembimbing, sebagai fasilitator, sebagai kolaborator, yang tujuannya untuk memahami… memahami siswa dalam menjelaskan kepada mereka makna dan pentingnya karakter.
Itu dia ada pembimbing, kita ada kolaborator juga dengan siswa, sebagai motivators juga. Terus kita kan juga di sini ada pemberian layanan bimbingan klasikal, berarti pemberian layanan itu di kelas, gitu ya, secara umum, secara keseluruhan siswa. Ada juga konseling individu dengan siswa, gitu ya, ada dengan konseling kelompok. Nah, di situ kita jadi mengetahui apa permasalahan yang mereka alami, gitu ya.
Di sini kita bersama-sama dengan siswa mengatasi… bagaimana solusinya. Kita berbicara, ngobrol di layanan konseling itu, baik individu maupun kelompok, permasalahan apa yang dialami siswa mengenai karakter mereka, gitu kan ya. Terus nanti kita cari sama-sama solusinya supaya nanti mereka ada perubahan di karakternya, bisa menjadi lebih baik, seperti itu.
Dan Guru BK juga di sini bisa sebagai fasilitator, gitu . Kita bisa memberikan masukan kepada mereka bahwa karakter itu penting untuk masa depan mereka. Contohnya penerapan disiplin dalam kehidupan mereka, tanggung jawab, terus jujur, seperti itu.
Ya kita juga bekerja sama dengan pihak sekolah, misalkan dengan kesiswaan, dengan wali kelas untuk memantau perkembangan siswa. Contohnya misalkan memantau siswa yang datang terlambat ke sekolah. Terdata, gitu. Nanti tugas kita sebagai Guru BK itu berarti mengadakan konseling individu, menanyakan, dari hati ke hati, gitu kan. Tidak hanya langsung sanksi. Oh, tidak, kalau Guru BK tidak seperti itu, gitu ya. Itu tugas nanti dari pembina OSIS atau kesiswaan. Tugas kita sebagai Guru BK itu berarti kita ingin tahu nih penyebab dia terlambat itu apa, seperti itu.
Apakah dia mengalami masalah di keluarganya, masalah dengan teman-temannya, atau apakah dia ada yang sedang dirasakan dalam arti fisiknya, mentalnya yang menyebabkan dia terlambat, seperti itu.
Jadi kalau menurut Ibu sih pribadi memang peran kita sebagai Guru BK ya lumayan banyak, gitu. Ada yang motivatornya, ada kolaborator dengan siswanya, dengan teman-teman guru juga. Motivator juga kepada siswa biar tahu untuk apa sih disiplin sekolah itu ada.Kenapa sih siswa misalkan harus melaksanakan peraturan sekolah, ya kan? Tujuannya apa sih siswa harus disiplin, gitu. Terus dengan kita tadi ada pemberian layanan klasikal di kelas 1 jam pelajaran. kalau Guru BK lumayan 45 menit. Itu kita bisa memberikan layanan bimbingan belajar, pribadi, karir, sosial kepada siswa. Dengan harapan ketika mereka mendapatkan materi seperti itu, gitu ya, mereka menjadi lebih memahami, gitu. Oh, ternyata saya ingin jadi apa nih ke depannya? Terus karakter seperti apa yang harus saya miliki untuk saya bisa mencapai cita-cita? Kira-kira ada hambatan tidak, gitu kan? Nah, terus bagaimana saya mengatasinya, seperti itu.
Dalam membangun karakter siswa biasanya siapa saja yang terlibat atau bekerja sama dengan guru BK, Bu?
Oke, kalau di sekolah berarti kita koordinasinya dengan wali kelas, terus nanti dengan guru mata pelajarannya, gitu ya. Atau dengan ya kesiswaan, wakasek semua terlibat. Kalau di SMA itu kan ada empat ya wakasek itu. Nanti biasanya lebih ke kita ke wakasek kesiswaan, dalam pembinaan OSIS gitu ya. Terus ya kalau memang diperlukan, dengan kepala sekolah juga kita koordinasi. Setelah memutuskan suatu hal berkaitan dengan siswa, itu harus memang kita melibatkan banyak pihak gitu ya. Dan tidak lupa juga dengan orang tua, gitu ya. Kita juga ajak untuk berdiskusi bersama, berhubungan dengan ya perkembangan siswalah. Kan belum tentu siswanya punya masalah ya, siapa tahu dia memang hanya cerita ingin rencana melanjutkan, gitu kan. Kita juga bisa ngobrol dengan orang tua, gitu kan. Dengan wali kelas juga biar tahu, juga di kelas lebih dekat, gitu kan. Kalau wali kelas istilahnya ibunya anak-anak atau bapaknya anak-anak ya. Mesti lebih banyak juga informasi yang diberikan wali kelas kepada kita, seperti…
Selain di ruang BK, di mana biasanya Ibu memberikan bimbingan atau arahan terkait pembangunan karakter?
Kalau itu kan tadi bisa di kelas. Di kelas itu berarti kita memberikan layanan bimbingan klasikal. Itu ada pertemuan tatap muka 1 minggu 1 kali, 1 jam. Itu bisa., sebetulnya kalau bimbingan itu bisa di mana saja sih ya, kayak kita misalkan pas istirahat, karena saya tidak keluar sekolah. Jadi pas istirahat itu sambil ngobrol dengan anak, itu bisa. Ceritanya anak-anak malah lebih apa ya, lebih terbuka. ‘Bu, aku enggak bekal’, gitu. ‘Bu, sakit perut aku deh, Bu, karena belum sarapan’, seperti itu. Sekarang sudah mulai seperti itu sekarang. Jadi sengaja istirahat enggak ke ruang BK, ingin tahu nih. Ada anak-anak ketika makan buang sampah sembarangan, kan kayak gitu-gitu. Apalagi sekarang ada MBG ya. Kalau udah makan MBG, ya Allah, sampah di mana-mana. Nah, itu kita harus ingatkan. ‘Ayo makan duduk’. Nah, gitu ya. ‘Jangan berdiri, nanti lempar-lemparan kulit jeruk’. Karena jadi kita tahu, oh mana si A nih, si B, si C yang secara karakternya sudah bagus ya. Dia buang sampahnya dikumpulkan dan dirapikan lagi omprengnya. Ada yang seperti itu kelihatan, Kak. Jadi banyak tempat yang bisa saja kita jadikan untuk tempat bimbingan. Kalau misalkan salat nih, salat Zuhur di masjid, kan ada bisa sambil gitu ngobrol dengan anak, seperti itu. Bisa di mana saja sebetulnya ya, selain di ruang BK.
Kapan biasanya guru BK mulai memberikan bimbingan?
Kalau bimbingan bisa setiap saat. Tidak setiap hari siswanya bermasalah. Jadi bisa kapan pun kita memberikan bimbingan kepada siswa. Beda dengan konseling, kalau konseling itu berarti diberikannya setelah siswa ada masalah. Kalau bimbingan setiap saat, setiap waktu, bisa.
Mengapa pembentukan karakter itu penting bagi siswa?
Kenapa? Karena ya bisa kita tahu ya Kak, orang pintar ada banyak ya. Tapi juga suka membuktikan bahwa kepintaran itu secara akademik hanya 20%. Yang menentukan kesuksesan seseorang itu yang lebih banyak karakternya, gitu. Yang tadi, disiplin, tanggung jawab, gitu kan ya. Terus dia jujur, dia bersikap adil, terus dia misalkan memiliki empati yang bagus, gitu kan. Hal-hal seperti itu yang membuat seseorang akan lebih bisa menghargai orang. Akan lebih membuat persisnya dia nyaman gitu kerjanya, seperti itu. Jadi pembentukan karakter menurut saya penting sekali. Jadi kita kalau memang niatnya gitu ya, guru-guru itu tidak hanya mendidik, eh tidak hanya mengajar tapi mendidik kan. Karena untuk mendidik itu lebih susah dibandingkan kita ngasih materi.”
Gimana cara Ibu sebagai guru BK dalam membangun karakter siswa, terutama ketika menghadapi siswa yang memiliki masalah atau perilaku kedisiplinan?
Oke, tadi saya bilang contohnya ada siswa yang terlambat. Biasanya itu informasinya itu kita dapatkan dari anak-anak OSIS dulu tuh. Biasanya anak-anak OSIS koordinasi dengan pembina OSIS mendata. Misalkan si A udah terlambat minggu ini 3 kali. Ada kan yang direkap. Nanti oleh pembina OSIS kan dikoordinasikan dengan wali kelas. Wali kelas nanti memanggil orang tua, seperti itu. Nah, biasanya nih ketika orang tua datang, guru BK dilibatkan juga untuk ikut bersama-sama. Jadi kita ikut berdiskusi dengan wali kelas, ya, dengan siswa yang terlambatnya, dengan orang tuanya juga. Ayo sama-sama kita nyari solusi. Apa penyebab siswa terlambat, apakah orang tuanya tahu tidak siswa terlambat, gitu ya. Seperti itu, nah setelah itu biasanya kita juga memanggil anaknya juga secara pribadi. Kita ajak juga konseling gitu kan, supaya lebih jelas permasalahannya, seperti itu.”
Penulis: (Dellia Hertanti, Sinta Olivia, dan Muhammad Haryo Priambudhi)



