Bukan Sekadar FOMO: Mengurai Demam ‘BookTok’ dan Stagnasi Peringkat Literasi Indonesia

Karawang, Wartacana.com — Fenomena baru tengah melanda dunia literasi anak muda. Kehadiran komunitas pembaca online, konten literasi di media sosial, hingga tren BookTok membuat aktivitas membaca tampak lebih estetik dan populer. Namun, di balik semaraknya budaya produktif membaca tersebut, laporan Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan kemampuan literasi membaca Indonesia secara umum masih tergolong rendah.

Untuk mengurai persoalan ini, tim redaksi menghimpun pandangan resmi dari Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Karawang secara daring, serta melakukan wawancara luring langsung bersama Jessica Sukmaya (Runner-up Duta Baca Kabupaten Karawang 2026) untuk melihat eksekusi peran Duta Baca di lapangan.

Berikut petikan wawancara selengkapnya:

WAWANCARA I: PERSPEKTIF REGULATOR (DINAS ARSIP DAN PERPUSTAKAAN KABUPATEN KARAWANG)

(Wawancara durring oleh Fitri Elya Sari bersama H. Wahidin, S.E.,M.Si selaku kepala dinas arsip dan perpustakaan kabupaten Karawang)

1. Budaya membaca di Indonesia saat ini semakin berkembang, ditandai dengan munculnya budaya produktif membaca dan fenomena BookTok. Namun, berdasarkan laporan PISA, kemampuan literasi membaca Indonesia masih tergolong rendah. Menurut pandangan Bapak/Ibu, mengapa meningkatnya budaya membaca belum sejalan dengan peningkatan peringkat literasi Indonesia dalam PISA?

Jawaban: Menurut pandangan saya, meningkatnya budaya membaca belum tentu secara otomatis berbanding lurus dengan peningkatan kemampuan literasi membaca. Saat ini memang terdapat perkembangan positif, seperti munculnya komunitas pembaca, konten literasi di media sosial, hingga fenomena BookTok yang membuat aktivitas membaca lebih menarik, khususnya bagi generasi muda.
Namun, yang perlu dibedakan adalah antara kebiasaan membaca dengan kemampuan memahami dan mengolah informasi. PISA tidak hanya mengukur apakah seseorang mampu membaca, tetapi juga kemampuan memahami isi bacaan, menemukan informasi, menarik kesimpulan, mengevaluasi informasi, dan menggunakan informasi tersebut untuk menyelesaikan persoalan.
Karena itu, tantangannya bukan hanya bagaimana membuat masyarakat mau membaca, tetapi bagaimana menjadikan kegiatan membaca sebagai kebiasaan yang menghasilkan kemampuan berpikir kritis dan pemahaman yang lebih baik. Dalam konteks Kabupaten Karawang, di sinilah menurut saya Duta Baca Kabupaten Karawang memiliki peran strategis. Duta Baca dapat menjadi figur yang mendekatkan budaya membaca kepada masyarakat, khususnya generasi muda, dengan cara yang lebih kreatif, komunikatif, dan sesuai dengan perkembangan zaman.

2. Apa solusi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan budaya dan kemampuan literasi masyarakat, khususnya di Kabupaten Karawang?

Jawaban: Menurut saya, solusi yang diperlukan adalah membangun ekosistem literasi yang melibatkan seluruh unsur masyarakat, bukan hanya perpustakaan atau pemerintah.
Pertama, perlu memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat kegiatan literasi masyarakat. Perpustakaan tidak hanya menjadi tempat meminjam buku, tetapi juga menjadi ruang untuk berdiskusi, belajar, berkarya, dan mengembangkan berbagai keterampilan.
Kedua, akses terhadap bahan bacaan perlu diperluas melalui perpustakaan sekolah, perpustakaan desa, TBM, maupun perpustakaan digital sehingga masyarakat dapat memperoleh bahan bacaan dengan lebih mudah.
Ketiga, kegiatan literasi harus dibuat lebih menarik dan relevan dengan kehidupan masyarakat. Literasi dapat dikembangkan melalui kegiatan membaca, menulis, diskusi, pembuatan konten positif, literasi digital, kewirausahaan, maupun kegiatan kreatif lainnya.
Dalam hal ini, Duta Baca Kabupaten Karawang dapat menjadi salah satu motor penggeraknya. Duta Baca dapat turun langsung ke sekolah, desa, komunitas, dan ruang-ruang publik untuk mengajak masyarakat membaca sekaligus memperkenalkan bahwa literasi bukan sesuatu yang membosankan atau hanya berkaitan dengan buku. Duta Baca juga dapat memanfaatkan media sosial untuk membuat konten literasi yang ringan dan menarik, sehingga budaya membaca dapat masuk ke ruang yang memang dekat dengan generasi muda.

3. Pendekatan apa yang menurut Bapak/Ibu paling efektif untuk menerapkan solusi tersebut agar dapat meningkatkan minat dan kemampuan literasi masyarakat di Kabupaten Karawang?

Jawaban: Menurut saya, pendekatan yang paling efektif adalah pendekatan berbasis komunitas dan kolaborasi, dengan memanfaatkan teknologi digital. Kita tidak bisa lagi menggunakan pendekatan yang hanya bersifat satu arah, misalnya sekadar mengimbau masyarakat untuk membaca. Masyarakat harus diberikan pengalaman bahwa literasi itu dekat dengan kehidupan mereka dan memberikan manfaat nyata.
Karena itu, pemerintah melalui Dinas Arsip dan Perpustakaan dapat membangun kolaborasi dengan sekolah, pemerintah desa, komunitas literasi, perguruan tinggi, dunia usaha, media, dan tentunya Duta Baca Kabupaten Karawang. Duta Baca dapat berperan sebagai role model, komunikator, sekaligus penggerak literasi. Mereka dapat menjadi contoh bagi generasi muda bahwa membaca, menulis, berdiskusi, dan menghasilkan karya merupakan aktivitas yang positif dan menyenangkan.
Menurut saya, keberadaan Duta Baca juga penting karena mereka dapat menjadi jembatan antara program pemerintah dengan masyarakat. Bahasa dan pendekatan yang digunakan oleh Duta Baca dapat dibuat lebih dekat dengan anak-anak dan generasi muda, sehingga pesan literasi lebih mudah diterima. Dengan demikian, Duta Baca bukan hanya hadir pada saat kegiatan seremonial, tetapi memiliki peran berkelanjutan dalam menghidupkan kegiatan literasi di berbagai wilayah Kabupaten Karawang.
Pada akhirnya, tujuan kita bukan sekadar meningkatkan jumlah orang yang membaca, tetapi membangun masyarakat Karawang yang gemar membaca, mampu memahami dan menyaring informasi, berpikir kritis, serta mampu mengubah pengetahuan yang diperoleh menjadi sesuatu yang bermanfaat. Dan Duta Baca Kabupaten Karawang dapat menjadi salah satu wajah sekaligus penggerak untuk mewujudkan tujuan tersebut.

4. Terkait poin nomor 3, masyarakat harus diberikan pengalaman bahwa literasi itu dekat dengan kehidupan mereka dan memberikan manfaat nyata. Apa contoh nyata program di Kabupaten Karawang yang saat ini betul-betul dapat membuat masyarakat merasa dekat dengan literasi?

Jawaban: Dengan adanya era digital dan untuk mendukung pernyataan tersebut, Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Karawang memiliki layanan Perpustakaan Digital (Sikancil dan Spotbaca) untuk mendekatkan masyarakat yang jauh dari akses buku. Layanan tersebut memberikan kemudahan akses bahan bacaan buku secara digital.
Selain itu, kami juga ada layanan Perpustakaan Keliling yang dapat dimanfaatkan masyarakat luas, khususnya masyarakat Kabupaten Karawang.

WAWANCARA II: PERSPEKTIF PRAKTISI LAPANGAN (DUTA BACA KABUPATEN KARAWANG)

(Wawancara Luring oleh Muhammad Ihksan Ilman Navian bersama Jessica Sukmaya, Runner-up Duta Baca Kabupaten Karawang 2026)

5. Boleh diperkenalkan terlebih dahulu Teteh namanya siapa dan merupakan Duta apa?

Jessica Sukmaya: “Sebelumnya perkenalkan saya Jessica Sukmaya, Runner-up Duta Baca Kabupaten Karawang Tahun 2026.”

6. Sebetulnya Duta Baca itu apa sih Teh? Apakah sekadar mengenakan selempang saja?

Jessica Sukmaya: “Duta Baca ini bukan sekadar cuma pakai selempang atau dengan titel ‘Oh Duta Baca nih, pasti sering baca buku atau sering bawa buku setiap hari,’ enggak. Duta Baca sendiri itu adalah role model. Orang yang dipandang dan dipercaya pantas untuk ditiru, baik dalam berbicara, bertutur kata, maupun bersikap.
Selain itu, Duta Baca adalah katalisator yang mengajak teman-teman untuk berliterasi dan mau membaca tanpa kesan menggurui. Kami juga bertugas menyambangi pelosok-pelosok daerah yang literasinya masih kurang. Di situlah peran Duta Baca.”

7. Apa yang sebetulnya ingin Duta Baca bawa untuk masyarakat, khususnya bagi Kabupaten Karawang?

Jessica Sukmaya: “Khusus untuk Kabupaten Karawang karena Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) masih tergolong rendah, peran Duta Baca adalah ingin agar literasi di Karawang ini lebih meningkat. Terutama di daerah-daerah terpencil yang masih kurang akses bacaan, bisa kita fasilitasi agar literasi di Karawang bisa merata.”

8. Pihak Dinas sempat menyinggung bahwa tantangan literasi saat ini bukan lagi sekadar membaca, melainkan bagaimana masyarakat bisa memahami dan berpikir kritis. Menurut Teteh sendiri, apa yang membuat masyarakat saat ini kesulitan memahami isi bacaan mereka?

Jessica Sukmaya: “Karena masyarakat sekarang kebanyakan mengonsumsi konten-konten pendek yang cepat di era digital. Segalanya ingin serba instan, dan hal instan itu membuat orang jadi malas.
Menurut saya, kalau ingin memahami sesuatu saat membaca informasi atau buku, kita harus bisa bertanya pada diri sendiri: ‘Berita ini benar enggak sih? Hal yang diomongin buku ini benar enggak sih?’ Jadi harus lebih dikritisi. Selain itu, bisa dengan berdiskusi buku. Dari berbagai pandangan orang yang berbeda-beda saat diskusi, kita bisa menyatukannya sehingga cara berpikir kita bisa meningkat.
Ke depannya, saya punya program sebagai Duta Baca bernama ‘Book Insight’. Program ini menjadi wadah untuk berkumpul dan berdiskusi buku, sehingga setiap individu bisa saling menarik kesimpulan dari akumulasi informasi tersebut.”

9. Untuk anak-anak atau remaja yang sudah punya modal mau membaca, langkah tepat apa yang bisa dilakukan agar mereka bisa naik ke tingkat lebih lanjut hingga bisa berpikir kritis?

Jessica Sukmaya: “Fasilitas kan sudah ada dari pemerintah, nah yang terpenting pastinya adalah pendampingan. Peran Duta Baca di sini adalah mendampingi, membimbing, dan mengajak mereka mengenal hal-hal baru. Sebab literasi itu bukan sekadar membaca buku, tetapi banyak macamnya. Dengan memperkenalkan berbagai macam literasi, pengetahuan mereka pun akan meningkat dan menjadi lebih luas.”

Penulis: Fitri Elya Sari, Jehan Putri Madani, dan Muhammad Ikhsan Ilman Navian (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Semester 1)

Kelas Semester Genap TA 2025-2026

Related Posts

Hoax di Kampus : Antara Fakta, Literasi, dan Tanggung Jawab

Karawang, Wartacana.com – Penyebaran berita hoaks di lingkungan kampus masih kerap terjadi di kalangan mahasiswa. Hal itu disampaikan Irfan Fadhilah, anggota Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Resonan yang dikenal aktif menyuarakan…

Read more
PELANGGARAN LALU LINTAS DI KALANGAN REMAJA: POTRET KURANGNYA KESADARAN BERKENDARA DI ERA MODERN

Karawang, Wartacana.com — Pelanggaran lalu lintas di kalangan remaja masih menjadi persoalan yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak menggunakan helm, tidak memasang plat nomor, menggunakan knalpot brong, hingga tidak…

Read more

You Missed

KULIAH SAMBIL BEKERJA BUKAN HALANGAN UNTUK MENGEJAR CITA-CITA

Hoax di Kampus : Antara Fakta, Literasi, dan Tanggung Jawab

Hoax di Kampus : Antara Fakta, Literasi, dan Tanggung Jawab

PELANGGARAN LALU LINTAS DI KALANGAN REMAJA: POTRET KURANGNYA KESADARAN BERKENDARA DI ERA MODERN

Pengaruh Lingkungan Pertemanan Terhadap Gaya Hidup Mahasiswa: Antara Penyesuaian Diri dan Identitas

Pengaruh Lingkungan Pertemanan Terhadap Gaya Hidup Mahasiswa: Antara Penyesuaian Diri dan Identitas

Pengaruh Pola Tidur terhadap Akademik Mahasiswa, Ini Penjelasan Dinkes Karawang

Pengaruh Pola Tidur terhadap Akademik Mahasiswa, Ini Penjelasan Dinkes Karawang

Menepis Label Apatis: Mengurai Pola Kepedulian Sosial Generasi Muda di Era Digital

Menepis Label Apatis: Mengurai Pola Kepedulian Sosial Generasi Muda di  Era Digital