Karawang, Wartacana.com – Penyebaran berita hoaks di lingkungan kampus masih kerap terjadi di kalangan mahasiswa. Hal itu disampaikan Irfan Fadhilah, anggota Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Resonan yang dikenal aktif menyuarakan isu-isu sosial di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA). Dalam wawancara yang dilakukan tim
penulis di area kampus, Irfan membagikan pandangannya soal akar masalah, dampak, hingga langkah
yang semestinya diambil mahasiswa ketika berhadapan dengan informasi yang belum jelas
kebenarannya.
Hoaks yang Kerap Terjadi di Lingkungan Mahasiswa
Ditanya soal pandangannya terhadap fenomena berita hoaks, Irfan mengakui bahwa persoalan ini kerap
terjadi di kalangan mahasiswa.
“Menurut saya berita hoax tuh buat di lingkupan mahasiswa itu kerap terjadi, banyak gitu di
sini, cuman berita hoax sendiri itu ya emang bisa menimbulkan banyak hal sih setahu saya
ya.” Irfan menyebut hoaks bukan sekadar isu sepele karena dampaknya nyata dirasakan di lingkungan
kampus.
Dua Akar Masalah: Minimnya Literasi Digital dan Sikap Abai Mahasiswa
Pertanyaan berikutnya menyoroti akar masalah di balik maraknya penyebaran hoaks: apakah disebabkan oleh kurangnya literasi digital mahasiswa, atau justru lambatnya arus informasi resmi dari pihak kampus? Menurut Irfan, keduanya sama-sama berkontribusi, namun ia menekankan bahwa persoalan literasi digital menjadi faktor yang paling menonjol.
“Menurut saya ya, menurut saya itu sebenarnya ada dua sih, ada dua hal. Yang pertama
emang masih banyak mahasiswa yang minim literasi, apalagi literasi digital ya, ketika ada
informasi-informasi yang sampai melalui grup-grup atau saluran-saluran itu, kadang tuh
mahasiswa jarang banget buat membaca gitu info-info tersebut. Makanya banyak banget
yang menimbulkan hal-hal berita-berita hoax gitu. Dan yang terpercaya, tapi juga dari
sumber-sumber tertentu biasanya kayak dari Instagram BEM atau apa, itu informasi selalu
ada selalu jalan gitu, cuman memang kadang mahasiswa terlalu abai untuk melihatnya sih.”
Ia menambahkan, sikap abai mahasiswa terhadap kanal informasi resmi kerap menjadi celah bagi berita
bohong untuk menyebar lebih cepat, meski informasi yang benar sudah tersedia.
Mengapa Mahasiswa Lebih Percaya Pesan Berantai daripada Sumber Resmi?
Tim penulis kemudian mendalami alasan di balik kecenderungan mahasiswa yang lebih mudah percaya
pada informasi yang beredar di grup percakapan ketimbang menunggu konfirmasi dari kanal resmi. Irfan menjelaskan fenomena ini lewat contoh kasus yang kerap ia temui.
“Menurut saya ya yang kayak gitu tuh, banyak kasus yang terjadi, case-nya tuh kayak misal
ada informasi-informasi, seperti contohnya informasi kepanitiaan deh, ada informasi
kepanitiaan nih, itu sumbernya belum kredibilitas gitu, belum ada hal-hal yang mencakup
resmi gitu. Itu biasanya tuh mahasiswa langsung menyebarluaskan informasi tersebut gitu,
tanpa menggali informasi tersebut lebih dalam gitu. Takutnya kan emang ada orang-orang
yang iseng gitu membuat suatu informasi melalui WhatsApp atau sosial media lainnya, nah
itu biasanya masih itu kayak langsung melihat atasnya aja gitu, kayak judulnya tentang ini
dan langsung di-share ke mahasiswa-mahasiswa lain gitu, akhirnya di situ menimbulkan
berita-berita hoax gitu, kan enggak terpercaya, kan kredibelnya. Makanya harus nunggu
informasi yang ada dulu gitu dari pihak-pihak yang tertentu, yang terkait, supaya
informasinya menjadi resmi kayak gitu.”
Menurutnya, kebiasaan membaca informasi hanya dari judul tanpa menelusuri sumber lebih jauh
menjadi salah satu pemicu utama tersebarnya kabar yang belum tentu benar di kalangan mahasiswa.
Menyebarkan atau Menyimpan? Sikap Kritis Jadi Kunci
Salah satu pertanyaan dalam wawancara ini menyangkut sikap yang seharusnya diambil mahasiswa
ketika menerima informasi mencurigakan melalui pesan pribadi, apakah perlu disebarluaskan sebagai
peringatan atau disimpan sendiri. Irfan menegaskan pentingnya sikap kritis sebelum mengambil
keputusan apa pun.
“Kalau misalkan emang kamu nerima suatu informasi yang belum pasti, kita kan sebagai
mahasiswa itu harus berpikir kritis kan, jadi kita harus mengkaji terlebih dahulu nih
informasinya, kayak gimana, jangan sampai informasi yang emang gak kredibel itu kita
share ke teman-teman dan akhirnya menimbulkan berita hoax. Maksudnya, mendingan kamu
tuh cari dulu nih, kamu kaji dulu nih informasinya, kalau informasi tersebut resmi dari
kanal-kanal tertentu itu baru boleh kamu share ke teman-teman gitu, harus ada informasi
resminya gitu dari yang menaungi informasi tersebut. Karena kalau misalnya enggak kayak
gitu ya, itu akan menimbulkan berita-berita hoax ya kan, karena yang enggak ada informasi
resminya gitu loh.”
Irfan menekankan bahwa tanggung jawab menyaring informasi tidak hanya berada di tangan pihak
kampus, tetapi juga di tangan setiap mahasiswa sebagai penerima sekaligus calon penyebar informasi.
Mengenal Kanal Informasi Resmi di FISIP UNSIKA
Menutup wawancara, tim penulis menanyakan kanal informasi resmi apa saja yang bisa diandalkan
mahasiswa FISIP UNSIKA untuk memverifikasi kebenaran suatu kabar. Irfan pun memaparkan
sejumlah saluran yang selama ini sudah berjalan.
“Menurut saya di FISIP tuh udah ada banyak channel-channel yang menaungi informasi
resmi, salah satu dari BEM. BEM itu punya divisi Adkesma yaitu kesejahteraan mahasiswa,
nah dari situ tuh informasi-informasi resmi itu udah masuk gitu dari Adkesma sendiri,
enggak hanya berbentuk divisi yang ada di media sosial saja, bisa secara langsung juga,
misalkan ada informasi-informasi kayak UTS, itu tuh ada di postingan dan juga di
WhatsApp, ada channel-nya kalau di WhatsApp tuh kalau enggak salah ada channel-nya.
Nah, mungkin buat mahasiswa umum dan juga buat mahasiswa 26 nih, itu mungkin bisa join
ke saluran-saluran yang ada di WhatsApp tentang Adkesma, nah itu biasanya banyak banget
informasi-informasi resmi dari fakultas FISIP kayak gitu.”
Ia berharap kanal-kanal resmi seperti Instagram BEM dan saluran WhatsApp Divisi Advokasi dan
Kesejahteraan Mahasiswa (Adkesma) dapat lebih dimanfaatkan mahasiswa, khususnya mahasiswa baru,
sebagai rujukan utama sebelum mempercayai maupun menyebarkan sebuah informasi.
Irfan menilai persoalan hoaks di lingkungan kampus berkaitan dengan dua hal, yakni minimnya literasi
digital di kalangan mahasiswa dan sikap abai terhadap kanal informasi resmi yang sebenarnya sudah
tersedia. Menurutnya, sikap kritis dalam mengkaji informasi sebelum menyebarkannya serta kebiasaan
merujuk pada sumber resmi seperti media sosial BEM dan Divisi Adkesma menjadi kunci agar
mahasiswa tidak turut menjadi bagian dari rantai penyebaran berita bohong di lingkungan kampus.
Narasumber: Irfan Fadhilah — Anggota LPM Resonan, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, FISIP UNSIKA
Pewawancara: M. Ramadeliana Putra
Penulis: Aulia Zulmi Azzahra, M. Ramadeliana Putra, Thalia Putri Utari


