Cara Berdebat dan Membuat Argumen Berkualitas

Karawang, Wartacana.com – Debat kerap dipandang sebagai kegiatan yang melelahkan dan mudah berubah menjadi pertengkaran. Kesan itu semakin kuat ketika percakapan di media sosial mempertemukan pendapat yang berlawanan tanpa argumen yang tertata, bahkan disertai serangan terhadap pribadi. Padahal, menurut Aekal Haldane Adinata (kerap disapa Aekal), menyebutkan bahwa masalahnya bukan terletak pada debat, melainkan pada cara orang menyusun dan menyampaikan argumen.

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Singaperbangsa Karawang yang mulai mengenal debat sejak kelas 10 SMA ini menyebut debat sebagai ruang untuk membicarakan isu yang jarang muncul dalam percakapan sehari-hari. Debat, baginya, adalah seni persuasi: Dalam menyampaikan alasan agar orang lain memahami atau menerima suatu pandangan. Untuk mencapai tujuan itu, peserta perlu memahami isu, memakai penalaran yang runtut, dan mendengarkan lawan bicara.

Dalam wawancara bersama Badai Harun Al-Rasyid, Aekal menjelaskan perbedaan debat yang sehat dari debat kusir, cara membangun argumen, hingga sejumlah format yang dikenal dalam kompetisi.

 

Aekal Haldane Adinata (Sumber: @mpk.sman5karawang)
        Aekal Haldane Adinata – Sumber: @mpk.sman5karawang

 

Berikut petikannya:

Q: Apa yang membedakan debat dari perdebatan yang berujung menjadi debat kusir?
A: “Debat adalah ruang untuk membicarakan suatu hal yang mungkin tidak mudah dibicarakan di forum lain. Tujuannya mempersuasi orang melalui argumen. Ketika perdebatan menjadi tidak sehat, persoalannya biasanya ada pada penalaran yang keliru atau sesat pikir (logical fallacy), bukan pada debatnya. Argumen perlu memiliki alur logika yang dapat menjelaskan mengapa sebuah pandangan layak diterima. Fakta dan data juga dapat memperkuat argumen, sesuai dengan isu yang dibahas.”

Q: Apa langkah awal untuk membangun pemikiran yang kuat sebelum berdebat?
A: “Sebelum berbicara, kita perlu menerima dan memahami informasi terlebih dahulu. Jangan baru mengetahui sedikit lalu berbicara panjang lebar. Setelah memahami isu, pikirkan juga siapa yang menjadi lawan bicara dan bagaimana gagasan itu sebaiknya disampaikan. Debat yang baik bukan hanya soal apa yang kita sampaikan, tetapi juga bagaimana orang lain dapat memahaminya.”

Q: Bagaimana menyusun argumen tanpa terkesan merendahkan lawan?
A: “Debat bukan tentang menghancurkan atau menjatuhkan orang lain. Fokuskan kritik pada substansi, yaitu gagasan, kebijakan, atau alasan yang disampaikan, bukan pada pribadi orangnya. Kita juga perlu peka terhadap topik yang menyangkut ras, agama, atau seksisme. Jika pembahasan memang perlu menyentuh hal sensitif, sampaikan konteks atau peringatan terlebih dahulu agar orang memahami arah pembicaraan.”

Q: Mengapa argumentasi menjadi bagian penting dalam debat?
A: “Tanpa argumen, tidak ada hal yang dipertukarkan dalam debat. Argumen memberi arah atau benang merah bagi pembahasan. Pendapat perlu disertai alasan dan fakta yang relevan, sehingga orang dapat menilai dasar pemikiran kita. Dalam debat tentang kebijakan, misalnya, peserta perlu menjelaskan apa masalahnya dan bagaimana alasan mereka berkaitan dengan kebijakan tersebut.”

Q: Seperti apa ciri argumen yang kuat?
A: “Argumen perlu memiliki penalaran yang jelas dan dikembangkan secara bertahap. Jangan berhenti pada satu pernyataan; jelaskan alasan di baliknya, akibat yang mungkin muncul, dan hubungan tiap alasan dengan kesimpulan. Salah satu cara untuk memeriksa kelengkapan penjelasan adalah memakai pertanyaan 5W+1H: apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana. Fakta yang relevan membantu membuat argumen lebih kokoh.”

Q: Bagaimana mengubah gagasan menjadi penyampaian yang runtut?
A: “Bayangkan sedang melakukan presentasi: mulai dari latar belakang, jelaskan urgensi dan keadaan yang terjadi, lalu sampaikan argumen. Struktur seperti itu membantu pendengar memahami mengapa isu tersebut penting dan bagaimana kesimpulan kita dibangun. Dalam debat, tujuan akhirnya tetap persuasi dan kejelasan.”

Q: Apa yang sebaiknya dilakukan ketika menanggapi argumen lawan?
A: “Dengarkan terlebih dahulu. Dalam debat parlemen ada istilah delta, yaitu inti atau tujuan akhir yang hendak dicapai oleh pihak lawan. Pahami tujuan itu, lalu uji apakah cara yang mereka tawarkan benar-benar dapat mencapainya. Dengan begitu, tanggapan kita menjawab inti argumen lawan, bukan sekadar mengulang pendapat sendiri.”

Q: Bisa diberikan contoh penggunaan cara tersebut?
A: “Misalnya, satu pihak menyatakan bahwa memperbolehkan semua negara memiliki senjata nuklir akan mencegah perang. Pihak yang menanggapi perlu mengidentifikasi tujuan lawan, yaitu mencegah perang, lalu menguji apakah kepemilikan nuklir universal benar-benar membuat dunia lebih aman atau justru menambah risiko. Kuncinya adalah menanggapi hubungan antara usulan dan tujuan yang dijanjikan.”

Q: Apa saja format debat yang dikenal?
A: “Dalam debat parlemen ada beberapa format, di antaranya Asian Parliamentary (AP), British Parliamentary (BP), dan Australian Parliamentary. Ada pula debat hukum yang memiliki aturan waktu dan interupsi tersendiri. Aturan rinci dapat berbeda bergantung pada kompetisi, jadi peserta perlu memahami format yang digunakan sebelum bertanding.”

Q: Apa perbedaan umum antara Asian Parliamentary dan British Parliamentary?
A: “AP biasanya melibatkan dua tim sehingga bagi banyak peserta menjadi format pengantar. BP melibatkan empat tim dalam dua sisi, dengan tim pembuka dan penutup pada masing-masing sisi. Karena ada tim lain yang berada di sisi yang sama, setiap tim harus mengembangkan kontribusi yang berbeda dan menjelaskan keunikan argumennya. Menurut saya, BP terasa lebih menantang karena kita harus mendengarkan beberapa tim sekaligus.”

Q: Bagaimana dengan debat hukum dan Australian Parliamentary?
A: “Dalam pengalaman saya, debat hukum memiliki susunan waktu bicara yang berbeda, terutama untuk pembicara pertama, dan aturan interupsinya juga khusus. Australian Parliamentary memiliki kemiripan tertentu dengan AP, tetapi aturan waktunya berbeda. Peserta sebaiknya merujuk panduan kompetisi masing-masing karena format dapat memiliki ketentuan teknis tersendiri.”

Q: Bagaimana cara menganalisis mosi debat?
A: “Perhatikan kata-kata dalam mosi. Jika mosinya menggunakan kata “menyesali”, misalnya, kita perlu melihat peristiwa atau keadaan yang sudah terjadi dan dampaknya. Selanjutnya, pahami konteks atau status quo: isu itu sedang berlangsung dalam keadaan seperti apa, siapa saja aktornya, dan latar belakang apa yang memengaruhinya. Istilah atau gagasan yang sama dapat memiliki konteks berbeda pada masa yang berbeda.”

Q: Apakah argumen juga perlu dikembangkan berlapis?
A: “Ya. Bangun argumen utama, lalu jelaskan alasan yang mendukungnya dan antisipasi tanggapan yang mungkin muncul. Sejak awal, pembicara perlu memberi definisi, latar belakang, urgensi, gambaran keadaan, dan aktor yang terlibat. Lapisan penjelasan itu membuat hubungan antara masalah, argumen, dan kesimpulan lebih terlihat.”

Q: “Apa yang bisa dilakukan saat menghadapi lawan yang terlihat lebih berpengalaman?”
A: “Kalau lawan memang memiliki wawasan lebih luas, kita perlu terus belajar: membaca buku dan berita serta mengamati cara orang berdebat. Namun, jangan biarkan rasa minder menguasai sebelum debat dimulai. Orang yang kita anggap sangat kuat pun bisa merasa cemas. Ikuti debat dengan kesiapan dan keinginan berdiskusi; jangan menjadikan menang sebagai satu-satunya tujuan.”

Bagi Aekal, debat yang baik memberi ruang untuk menyampaikan hal penting tanpa menyerang pribadi. Dengan memahami isu, menata alasan, serta mendengarkan tujuan pihak lain, perbedaan pandangan dapat menjadi percakapan yang lebih terarah. Dari sana, debat dapat digunakan bukan hanya di ruang kompetisi, tetapi juga dalam komunikasi sehari-hari.

 

 

Penulis: Badai Harun Al Rasyid, Cahaya Mawar Indah, Deni Rahmat.

  • Kelas Semester Genap TA 2025-2026

    Related Posts

    Benteng Kesehatan Usia Remaja: Cerita SMPN 4 Kotabaru Edukasi Siswi Melawan Takut Vaksin HPV

    KARAWANG, Wartacana.com — Maraknya kasus kanker serviks pada wanita menjadi perhatian serius bagi dunia kesehatan saat ini. Sebagai langkah preventif sejak dini, pemerintah melalui puskesmas setempat bekerja sama dengan SMPN…

    Read more
    Dosen Filsafat Unsika: Kampus Harus Beri Fasilitas AI Detector

    Karawang, wartacana.com- Kehadiran kecerdasan buatan (AI) di ruang-ruang kuliah kini bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas sehari-hari. Mahasiswa memakainya untuk mencari referensi, menyusun kerangka tulisan, bahkan menyelesaikan tugas dalam hitungan…

    Read more

    You Missed

    Cara Berdebat dan Membuat Argumen Berkualitas

    Benteng Kesehatan Usia Remaja: Cerita SMPN 4 Kotabaru Edukasi Siswi Melawan Takut Vaksin HPV

    Benteng Kesehatan Usia Remaja: Cerita SMPN 4 Kotabaru Edukasi Siswi Melawan Takut Vaksin HPV

    Dosen Filsafat Unsika: Kampus Harus Beri Fasilitas AI Detector

    Dosen Filsafat Unsika: Kampus Harus Beri Fasilitas AI Detector

    Jeritan Warung Nasi Padang: “Tolong Normalkan Lagi Harga Bahan Pokok”

    Jeritan Warung Nasi Padang: “Tolong Normalkan Lagi Harga Bahan Pokok”

    Peran Pemilik Kos dalam Mendukung Kenyamanan Mahasiswa Perantau di Sekitar UNSIKA

    Peran Pemilik Kos dalam Mendukung Kenyamanan Mahasiswa Perantau di Sekitar UNSIKA

    Mengintip Bisnis Coffee Cafe Di Stasiun Karawang: Omzet Harian Capai Ratusan Ribu Rupiah

    Mengintip Bisnis Coffee Cafe Di Stasiun Karawang: Omzet Harian Capai Ratusan Ribu Rupiah