Karawang, wartacana.com – Nama Karawang selama ini lebih sering dikenal sebagai kota industri. Kawasan pabrik yang membentang luas, UMR buruh besar, lalu lintas kendaraan pekerja yang padat, serta geliat ekonomi yang terus tumbuh menjadi wajah yang akrab bagi banyak orang.
Namun dibalik citra tersebut, terdapat sisi lain Karawang yang jarang terlihat. Di tengah kawasan hutan Dusun Cilele, Desa Wanajaya, Kecamatan Telukjambe Barat, berdiri sebuah sekolah sederhana, yaitu SDN Wanajaya 3 Kelas Jauh.
Selama lebih dari dua dekade, sekolah ini menjadi satu-satunya harapan pendidikan bagi anak-anak di wilayah terpencil. Untuk mencapai lokasi sekolah, perjalanan tidak semudah menuju sekolah-sekolah pada umumnya di Karawang.
Jalan yang harus dilalui sebagian besar, masih berupa tanah dan bebatuan. Ketika musim hujan datang, jalan berubah menjadi lumpur yang licin dan sulit dilalui kendaraan.
Kondisi itu membuat perjalanan menuju sekolah menjadi tantangan tersendiri. Baik bagi siswa maupun guru yang setiap hari harus datang untuk belajar dan mengajar. Sekolah ini menjadi simbol perjuangan masyarakat yang tidak ingin anak-anak mereka kehilangan hak untuk memperoleh pendidikan.
Cerita sekolah ini bermula pada akhir 1990-an, ketika Indonesia dilanda krisis moneter. Pada masa itu banyak keluarga datang dan menetap di kawasan hutan Cilele untuk mencari penghidupan baru.
Bersamaan dengan perpindahan tersebut, muncul persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni pendidikan anak-anak. Banyak anak yang terpaksa putus sekolah, bahkan ada yang belum pernah merasakan bangku pendidikan sama sekali.

Melihat kondisi tersebut, Oman (56 tahun), yang saat itu bekerja sebagai sopir, merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu. Kepeduliannya terhadap pendidikan tidak muncul begitu saja.
Sejak muda, ia memang memiliki keinginan besar untuk melanjutkan sekolah. Namun keterbatasan ekonomi membuat mimpinya terhenti. Selama bertahun-tahun bekerja sebagai sopir, keinginan untuk terus belajar tidak pernah benar-benar hilang dari dalam dirinya.
Ketika melihat banyak anak di kawasan Cilele tumbuh tanpa akses pendidikan yang layak, ia seolah melihat kembali dirinya sendiri pada masa lalu. Karena itulah, ia memilih membuka tempat belajar sederhana agar anak-anak tidak mengalami nasib yang sama.
Perasaan itu masih diingat jelas oleh Oman hingga sekarang. “Dulu waktu kecil, saya ingin melanjutkan sekolah, tetapi karena keterbatasan ekonomi tidak bisa setelah SMA. Keinginan untuk belajar itu tidak pernah hilang,” ujarnya, (29/04/2026).
Kondisi bangunan sekolah awalnya sangat memprihatinkan. Tidak ada dinding permanen, lantainya masih berupa tanah, sementara atapnya dibuat dari bahan seadanya hasil swadaya masyarakat.
Menurut Oman, ketika itu anak-anak belajar tanpa meja dan kursi yang memadai. Mereka duduk di atas bambu dan menggunakan papan sederhana untuk menulis. Namun keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan semangat mereka untuk belajar.
Perlahan, sekolah mulai berkembang. Dari yang awalnya hanya memiliki belasan siswa, kini jumlah peserta didik terus bertambah.
Saat ini terdapat sekitar 85 siswa sekolah dasar yang belajar di SDN Wanajaya 3 Kelas Jauh. Selain itu, kawasan tersebut juga memiliki layanan pendidikan setara SMP dan SMA melalui PKBM Bunga Bangsa yang menjadi solusi bagi anak-anak agar tidak berhenti sekolah setelah lulus SD.

Di atas kertas, Karawang memiliki ratusan sekolah dasar yang tersebar di berbagai kecamatan. Bahkan kawasan Telukjambe menjadi salah satu wilayah dengan jumlah SD terbanyak.
Namun bagi anak-anak di Cilele, keberadaan sekolah tidak selalu berarti akses pendidikan mudah didapatkan. Di tengah jalan tanah, kawasan hutan, dan jarak tempuh yang panjang, pendidikan masih harus diperjuangkan setiap hari.
Tantangan yang dihadapi dalam pendidikan ini masih sangat besar. Akses jalan menjadi persoalan utama yang belum sepenuhnya terselesaikan. Bahkan hingga saat ini masih ada siswa yang harus menempuh perjalanan panjang untuk sampai ke sekolah.
Seorang siswi kelas enam bernama Delima (12 Tahun) mengungkapkan bahwa beberapa temannya membutuhkan waktu lebih dari satu jam berjalan kaki untuk datang ke sekolah setiap hari. Perjalanan tersebut sudah menjadi bagian dari rutinitas yang harus mereka jalani demi mendapatkan pendidikan.
“Ada juga yang lebih dari satu jam jalannya,” kata Delima saat menceritakan teman-temannya yang setiap hari berjalan kaki menuju sekolah (29/04/2026).

Keterbatasan jumlah tenaga pengajar juga menjadi tantangan tersendiri. Dalam kondisi tertentu, siswa kelas atas bahkan ikut membantu mengajar adik-adik kelas ketika guru sedang berhalangan hadir.
Delima mengaku pernah mengajar siswa kelas satu dan dua untuk membantu mereka belajar membaca. Situasi tersebut mungkin jarang ditemui di sekolah lain, tetapi di Cilele hal itu menjadi bentuk gotong royong yang tumbuh karena keterbatasan yang ada.
Di balik berbagai keterbatasan tersebut, secercah perubahan mulai terlihat. Salah satu pihak yang ikut berkontribusi adalah Komunitas Taman Baca Pelosok Bumi yang mulai hadir di kawasan tersebut sejak 2019.
Saat pertama kali datang, para relawan menemukan kondisi sekolah yang masih kurang layak. Bangunan belajar masih sederhana, fasilitas sangat minim, dan kemampuan literasi sebagian anak masih rendah. Bahkan terdapat anak usia sekolah dasar hingga menengah yang belum mampu membaca dengan lancar.
Melalui berbagai program, komunitas tersebut membantu menyediakan sarana belajar yang lebih layak. Kursi dan meja diperbaiki, papan tulis diganti, serta anak-anak mulai dikenalkan dengan teknologi seperti laptop dan komputer. Bagi sebagian siswa, pengalaman melihat laptop untuk pertama kalinya menjadi momen yang membuka wawasan mereka terhadap dunia yang lebih luas.
Menurut salah satu Founder Taman Baca Pelosok Bumi, Devi, perubahan terbesar yang terjadi bukan hanya terlihat dari bangunan sekolah, melainkan dari cara pandang anak-anak terhadap masa depan. “Dulu anak-anak di sana itu lulus SMP langsung nikah. Sekarang mereka mulai punya cita-cita, ingin sekolah lebih tinggi, dan berani punya mimpi,” ujar Devi (21/05/2026).
Perubahan pola pikir tersebut menjadi pencapaian yang paling berharga dari seluruh proses pendampingan yang dilakukan selama bertahun-tahun. Bagi Devi dan para relawan, keberhasilan tidak hanya diukur dari bangunan yang berdiri atau fasilitas yang bertambah, tetapi juga dari keberanian anak-anak untuk membayangkan masa depan yang lebih baik daripada generasi sebelumnya.
Sementara itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Karawang menjelaskan bahwa keberadaan kelas jauh merupakan bentuk upaya agar hak pendidikan tetap dapat diakses oleh masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil. Sistem tersebut memungkinkan proses pembelajaran tetap berjalan tanpa memaksa siswa menempuh perjalanan yang lebih jauh menuju sekolah induk.
Meski berada di kawasan yang sulit dijangkau, para siswa tetap memperoleh hak pendidikan yang sama seperti anak-anak di wilayah lain. Meski berada di kawasan yang sulit dijangkau, para siswa di SDN Wanajaya 3 Kelas Jauh tetap memperoleh hak pendidikan yang sama seperti anak-anak di wilayah lain. Menurut Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Karawang, keberadaan kelas jauh merupakan solusi agar anak-anak di Dusun Cilele tetap dapat bersekolah tanpa harus menempuh perjalanan yang lebih jauh menuju sekolah induk.
Kepala Seksi Kelembagaan dan Kesiswaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Karawang, Dadang, menjelaskan bahwa kondisi geografis menjadi alasan utama pemerintah mempertahankan sistem kelas jauh tersebut. Jika seluruh siswa diwajibkan belajar di sekolah induk, mereka harus menghadapi medan yang cukup sulit, terutama saat musim hujan.
“Kalau saat ini muridnya datang ke pusat, ke induk, nanti kendalanya di jalan, apalagi saat musim hujan, sangat sulit. Makanya pemerintah berinovasi, gurunya yang datang,” kata Dadang saat ditemui di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Karawang, Senin (19/5/2026).
Keberadaan kelas jauh ini juga kerap memunculkan pertanyaan dari masyarakat mengenai alasan pemerintah tidak membangun sekolah negeri yang berdiri sendiri di lokasi tersebut. Menanggapi hal itu, Dadang menjelaskan bahwa terdapat sejumlah pertimbangan yang harus dipenuhi sebelum mendirikan satuan pendidikan baru.
Menurutnya, lahan yang digunakan masih berstatus tanah Perhutani. Selain itu, jumlah peserta didik yang ada di wilayah tersebut relatif sedikit sehingga belum memenuhi pertimbangan untuk pendirian sekolah baru.
“Tanahnya masih tanah hutani. Kedua, warganya sedikit-sedikit, bahkan satu rombongan belajar hanya beberapa siswa. Makanya pemerintah tidak berani mendirikan sekolah,” ujarnya.
Meski demikian, pemerintah memastikan bahwa kualitas layanan pendidikan yang diterima siswa kelas jauh tidak berbeda dengan sekolah induk. Seluruh proses kegiatan belajar mengajar mengikuti kurikulum yang sama, sementara guru-guru dari sekolah induk secara bergantian datang untuk mengajar di lokasi tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai bantuan pendidikan juga mulai menjangkau sekolah tersebut, termasuk perangkat pendukung pembelajaran digital. Langkah itu menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan akses dan kualitas pendidikan bagi anak-anak yang tinggal di daerah terpencil.
Bagi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Karawang, keberadaan kelas jauh bukan sekadar solusi sementara, melainkan bentuk komitmen untuk memastikan tidak ada anak yang kehilangan kesempatan belajar hanya karena keterbatasan jarak dan akses. “Pendidikan itu merupakan hak dasar setiap warga negara. Kita tidak bisa membedakan, semuanya sama untuk mendapatkan hak pendidikan,” tegas Dadang.
Di tengah gemerlap kawasan industri Karawang yang terus berkembang, keberadaan SDN Wanajaya 3 Kelas Jauh menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak selalu berjalan merata. Masih ada anak-anak yang harus berjalan jauh melewati jalan tanah dan kawasan hutan demi bisa duduk di bangku sekolah.
Masih ada guru yang bertahan mengajar puluhan tahun karena percaya pendidikan dapat mengubah masa depan. Dan masih ada mimpi-mimpi kecil yang tumbuh di ruang kelas sederhana, menunggu kesempatan untuk berkembang lebih jauh.
Di antara pepohonan dan jalan yang belum sepenuhnya ramah dilalui, pendidikan tetap berlangsung di SDN Wanajaya 3. Ini membuktikan bahwa semangat belajar bisa tumbuh di mana saja selama masih ada orang-orang yang peduli menjaganya.
Tim Penulis: Annisa Amalia Putri || Ajeng Aliyah || Riski Fitria





