Semangat Generasi Muda Merawat Tradisi Seren Taun Kuningan

Kuningan, wartacana, com – Awan kelabu menggantung di langit Cigugur sore itu. Di bawah atap bambu Paseban Tri Panca Tunggal, sebuah bangunan cagar budaya di Kuningan Jawa Barat yang menjadi saksi perjalanan panjang sejarah dan tradisi. Tepat di sudut-sudut pelataran, anak-anak dan remaja masih tekun berlatih tari dan kesenian tradisional untuk menyambut Seren Taun.

Air hujan perlahan turun membasahi tanah. Aroma kayu dan tanah basah bercampur dengan tawa para remaja yang sedang berlatih. Malam belum benar-benar turun, tetapi denyut Seren Taun sudah terasa hidup.

Seren Taun merupakan upacara adat masyarakat Sunda Wiwitan yang diselenggarakan sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan keberkahan hidup. Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun di Cigugur, Kabupaten Kuningan, ini menjadi salah satu warisan budaya yang masih bertahan hingga kini.

Di tengah derasnya arus modernisasi, Seren Taun tetap hidup berkat tangan-tangan yang merawatnya. Bukan hanya para sesepuh adat, melainkan juga generasi muda yang memilih tetap berjalan di jejak tradisi.

“Karena saya lahir di lingkungan ini, jadi kayak punya tanggung jawab sendiri buat meneruskan Seren Taun,” ujar Ika Kartika, anak muda yang berpartisipasi sebagai Penari Buyung.

Bagi Ika, Seren Taun bukan sekadar perayaan adat tahunan. Ia adalah identitas. Rumah dan cerita yang ingin terus dibawa ke mana pun ia pergi.

“Kalau merantau, saya jadi bisa cerita ke teman-teman tentang budaya di tempat saya,” katanya sambil tersenyum.

Tak jauh berbeda, Dwi Kurniawati, siswi SMK kelas 11, mengaku keterlibatannya lahir dari rasa ketertarikan pada budaya sendiri. “Kalau bukan oleh kita, oleh siapa lagi yang melestarikan budaya sendiri?” tuturnya.

Keterlibatan mereka ternyata bukan sesuatu yang hadir tiba-tiba. Semua dimulai sejak kecil. Dari kaulinan barudak, permainan dan pertunjukan tradisional anak-anak, mereka perlahan dikenalkan pada ruang budaya.

Dari panggung kecil itulah langkah mereka tumbuh: mulai belajar menari, mengikuti latihan, hingga akhirnya menjadi bagian penting dalam prosesi Seren Taun.

Di Paseban, regenerasi tidak dibangun lewat paksaan. Anak-anak dibiarkan jatuh cinta pada budaya dengan caranya sendiri.

Ratu Juwita Djatikusumah, selaku Girang Pangaping Masyarakat Adat Sunda Wiwitan atau sebagai tokoh adat setempat percaya bahwa budaya harus disentuh melalui rasa.

“Kalau mereka nyaman, mereka pasti ingin kembali lagi tahun depan,” ujar Ratu Juwita Djatikusumah.

Ratu Juwita Djatikusumah, selaku Girang Pangaping Masyarakat Adat Sunda Wiwitan
Ratu Juwita Djatikusumah, selaku Girang Pangaping Masyarakat Adat Sunda Wiwitan (02/05/2026).

Karena itu, ruang untuk anak muda selalu dibuka lebar. Tidak ada yang ditolak. Bahkan ketika peserta kaulinan barudak membludak hingga ratusan anak, semuanya tetap diberi tempat.

Bagi masyarakat Cigugur, mencintai budaya bukan soal kewajiban semata. Ia tumbuh dari kedekatan emosional antara manusia dengan tradisinya.

Namun, menjaga tradisi di tengah zaman modern bukan perkara mudah. Di sela kesibukan sekolah dan kuliah, Ika dan Dwi harus membagi waktu antara belajar, latihan, dan aktivitas lainnya.

Latihan bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan sebelum puncak Seren Taun digelar. Kadang lelah, kadang juga ingin menyerah. “Tantangannya di konsistensi,” kata Dwi. “Kadang sekolah ada kegiatan lain juga.”

Ika pun merasakan hal serupa. Karena kuliah di luar daerah, ia hanya bisa mengikuti latihan setiap akhir pekan.

Tetapi justru dari proses panjang itulah mereka menemukan makna kebersamaan. Mereka bertemu teman-teman baru dari berbagai sekolah dan daerah. Mereka belajar bahwa Seren Taun bukan hanya milik Cigugur, tetapi ruang tempat banyak budaya saling menyapa.

Di sela latihan, tawa dan candaan bercampur dengan gerakan tari yang terus diulang hingga larut sore.

“Yang paling seru itu proses latihannya,” kata Ika. “Capek, tapi seru.”

Di Seren Taun, anak muda bukan sekadar penonton. Mereka adalah denyut kehidupan tradisi itu sendiri. Mereka menari di bawah cahaya damar, memainkan angklung dan menghidupkan kembali lagu-lagu lama yang nyaris tenggelam oleh zaman.

Bahkan media sosial, yang sering dianggap menjauhkan generasi muda dari budaya, justru dipakai sebagai jembatan untuk mengenalkan Seren Taun kepada dunia luar. “Kadang suka share latihan di story WhatsApp,” ujar Ika.

Dari unggahan sederhana itu, teman-temannya di luar Kuningan mulai penasaran. “Mereka suka nanya, lagi latihan apa? Acara apa?” katanya.

Dan ketika hari pelaksanaan tiba, banyak dari mereka datang langsung ke Cigugur untuk menyaksikan Seren Taun. Budaya akhirnya menemukan jalannya sendiri untuk tetap hidup, bahkan melalui layar ponsel.

Bagi Ratu Juwita, ancaman terbesar hari ini bukanlah modernisasi, melainkan hilangnya kesadaran manusia terhadap akar budayanya sendiri. Ia melihat banyak anak muda mulai terbiasa dengan segala sesuatu yang instan.

Proses dianggap melelahkan. Waktu sering disepelekan. Namun, di tengah kekhawatiran itu, ia tetap percaya bahwa generasi muda sebenarnya masih memiliki rasa ingin tahu terhadap budaya. “Mereka itu bukan tidak peduli,” katanya tegas. “Justru kadang kita yang kurang memberikan ruang budaya untuk mereka.”

Di Cigugur, budaya bukan benda mati yang disimpan di museum. Ia hidup, menari, bernyanyi dan tumbuh bersama generasi mudanya. Di balik setiap gerakan, tawa, dan kebersamaan, ada generasi muda yang menjadi nadi tradisi Seren Taun agar denyut budaya itu terus hidup, hari ini dan di masa yang akan datang.

Tim Penulis

Amelia Febriyanti, Annisa Ridwan, dan Ukhtina Nabila Khanun

Kelas Semester Genap TA 2025-2026

Related Posts

Waspada, Diabetes pada Remaja Karawang Semakin Tinggi

Karawang, Wartacana.com – Meningkatnya kasus diabetes pada anak muda di Karawang menjadi perhatian serius di tengah perubahan pola hidup masyarakat modern. Kebiasaan mengonsumsi minuman manis, makanan cepat saji, serta pola…

Read more

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Missed

KRL Karawang-Jakarta, Cuma Omon-omon

KRL Karawang-Jakarta, Cuma Omon-omon

Pemda Karawang Belum Punya Juknis Implementasikan PP Tunas

Pemda Karawang Belum Punya Juknis Implementasikan PP Tunas

Waspada, Diabetes pada Remaja Karawang Semakin Tinggi

Waspada, Diabetes pada Remaja Karawang Semakin Tinggi

Stigma dan Sisi Lain Kehidupan Anak Punk di Karawang

Stigma dan Sisi Lain Kehidupan Anak Punk di Karawang

Semangat Generasi Muda Merawat Tradisi Seren Taun Kuningan

Semangat Generasi Muda Merawat Tradisi Seren Taun Kuningan

Tersisihkan, Ada Sekolah Tak Layak di Tengah Hutan Karawang

Tersisihkan, Ada Sekolah Tak Layak di Tengah Hutan Karawang