Karawang, Wartacana.com – Bagi mahasiswa yang menempuh pendidikan jauh dari daerah asal, tempat tinggal menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan. Tinggal jauh dari keluarga membuat mahasiswa harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan menjalani kehidupan secara lebih mandiri.
Di sekitar UNSIKA, kos menjadi salah satu pilihan tempat tinggal bagi mahasiswa perantau. Selain sebagai tempat beristirahat, kos juga menjadi tempat mahasiswa menjalani aktivitas sehari-hari selama menempuh perkuliahan.
Karena itu, pemilik kos memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang nyaman bagi mahasiswa, baik melalui fasilitas maupun komunikasi dan perhatian kepada penghuni. Hal tersebut menjadi topik yang dibahas dalam wawancara dengan Lena, pemilik Kos DND di Perumahan Mahkota Regency, depan UNSIKA, yang telah mengelola kos sejak 2019.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat pagi semuanya. Kali ini saya sedang berada di Perumahan Mahkota, tepatnya di kos … .
Sebelumnya izinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Zahirra Annahwa, Saya dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program Studi Ilmu Komunikasi Kelas 1A Universitas Singapura Bangsa Karawang. Pada kesempatan kali ini, saya akan mewawancarai salah satu pemilik kos yang berada di sekitar UNSIKA untuk mengetahui bagaimana peran pemilik kos dalam mendukung kenyamanan mahasiswa perantau.
Sebelumnya boleh diperkenalkan dulu, Ibu namanya siapa?
Perkenalkan, nama saya Lena. Kebetulan kosannya ada di perumahan Mahkota Regency di depan kampus UNSIKA.
Iya betul. Izin wawancara ya Ibu.
Siap.
Sudah berapa lama Ibu mengelola kos ini dan bagaimana pengalaman Ibu saat menerima mahasiswa perantau sebagai penghuni?
kosan ini dari covid, semenjak covid. Dari covid itu mulai dibangun sampai saat ini. Covid itu tahun berapa ya? 2019 ya, kurang lebih berapa tahun tuh 2019 sampai sekarang 2026 ya.
Kebanyakan penghuni kos berasal dari mana ya bu ?
Kalau untuk anak kos yang merantau ya kan rata-rata kalau di kosan saya ini nggak jauh yang merantaunya, pasti seperti Mbaknya ada yang di Depok, ada yang di Bekasi.
Saya sebagai ibu kos, perannya itu ibu yang kedua ya, sebagai orang tua ibu yang kedua.
Terus tadi memfasilitasinya atau apa?
Ini, bagaimana pengalaman ibu saat menerima mahasiswa perantau sebagai penghuni?
Ya, welcome Tetapi saya, kalau misalnya… Kalau pribadi ya, kalau saya dari diri pribadi biasanya saya kalau menerima anak-anak kos yang rantau itu saya juga memilih gitu. Memilihnya seperti apa, kan kalau kita menerima kosan, anak-anak itu kan pasti banyak memilih ya, pasti ada yang hari ini ada yang datang, besok ada yang datang.
Apalagi kalau pada saat penerimaan mahasiswa baru. Nah, pada saat itu kan kita juga bisa memilih dan memilah, kira-kira anak kos ini oke apa tidak.
Kalau ibu sendiri cara memilihnya seperti apa ?
Kalau dari saya pribadi Kalau dalam memilih anak kos itu Biasanya kalau sama- sama orang tua mencarinya, seperti itu kalau saya menunjangnya. Kalau untuk fasilitasnya Insya Allah semuanya ada ya, seperti tempat tidur segala macam gitu.
Apa aja sih kesulitan yang biasanya dialami mahasiswa ketika pertama kali tinggal jauh dari keluarga?
kesulitan dari mahasiswanya sendiri?
Iya, biasanya dilihat itu mereka tuh kesulitannya gimana gitu kalau di kos ini tuh?
Untuk saat ini sih saya kalau anak-anak kos di tempat saya sih enggak cerita ya kesulitan mereka seperti apa. Soalnya kalau di anak kos saya, yang sakit juga bilang gitu. Misalnya, “ibu saya lagi nggak enak badan.” dan alhamdulillahnya saya punya kontak orang tuanya ya. Terhadap saya sama orang tuanya. Jadi kalau misalnya ada apa-apa terhadap anaknya, ibu tolong ini anak saya misalnya yang bernama Ani ya, lagi nggak enak badan kira-kira gitu.
Jadi saya bisa langsung datang gitu. Alhamdulillahnya juga anak-anak kos juga pada bilang gitu ke saya, misalnya mau pulang juga, mereka selalu bilang “bu izin saya besok pulang.” gitu.
Komunikasinya gampang ya bu?
Alhamdulillah gampang, dan saya punya grup, grup kos-kosan sendiri. Jadinya kalau ada apa-apa, mangga, silakan, kalau misalnya nggak mau, boleh langsung japri ke saya. Alhamdulillah anak-anak kosnya welcome juga ke saya.
Kalau dari ibu sendiri, bagaimana cara ibu menanggapi apa yang disampaikan anak-anak kos?
Kalau saya Alhamdulillah welcome aja, apapun yang dibilang sama anak kos asal ngomong sama saya hayulah gitu, menganggap seperti anak sendiri. Asal bilang gitu, mau pulang dari kampus juga misalnya, ,”Bu malam ini saya pulangnya telat karena ada kegiatan di kampus.” gitu, “boleh mangga, silakan.” seperti itu, “yang penting komunikasi ya, neng.’
Iya, yang penting komunikasi. Sebagai pemilik kos, sejauh mana Ibu merasa memiliki peran dalam membantu mahasiswa beradaptasi?
Ya komunikasi lagi ya, peran sebagai Ibu kos. Saya sebagai ibu kos, peran terhadap anak-anak kos itu saya menyesuaikan diri sebagaimana mereka menganggap.. walaupun saya sebenarnya orang lain ya, tapi saya menginginkan anak-anak kos juga menganggap saya adalah ibu yang kedua dari orang tua mereka. Agar mereka nyaman juga. Agar mereka nyaman dan saya bikin nyaman insya Allah, yang penting komunikasi.
Kira-kira biasanya bentuk dukungan seperti apa yang biasanya ibu berikan kepada mahasiswa yang mengalami kesulitan beradaptasi?
Paling bertanya. “Teteh..” atau “kakak..” awal- awalnya itu. Kita kan kalau ibu kos itu pasti ngelihat nih anak-anak kos saya itu kok nggak pernah kelihatan, kemana ya? Ternyata emang ada yang pendiam, ada yang ceria, ada juga kalau yang ketemu “ibuu!” ada juga yang nggak.
Nah kalau misalnya udah beberapa hari tidak kelihatan gitu “teh ada di kosan gak?” Gitu ya.
Oh iya, takutnya kenapa-kenapa ya?
Iya, takutnya kenapa-kenapa. Kalau nggak tetap aja diajak komunikasi, intinya komunikasi gitu ya.
Menurut ibu, apakah lingkungan kos dan hubungan antara pemilik kos dengan penghuni dapat mempengaruhi kenyamanan mahasiswa perantau? Kenapa demikian?
Hubungan ibu kos dengan anak kos bisa mempengaruhi? Itu pasti ya. Kenyamanan kan kalau kos-kosan itu kan banyak ya, pasti bukan hanya satu kamar. Ada dua, tiga, sampai lima kamar, bahkan ada yang tiga belas kamar ya.
Iya, ada yang lebih juga.
Iya ada yang lebih juga. Untuk kenyamanan sendiri sesama teman biasanya.
Ya dia kalau punya teman jadi nyaman tinggal di kos ini gitu ya?
Bukan. Biasanya kan yang ngekos itu sendiri-sendiri. Ada yang berdua.
Oh ada yang berdua?
Nah maksudnya teteh yang kenyamanan itu kenyamanan terhadap sesama teman atau dari saya sendiri?
Dia, kenyamanan di kosnya, dengan penghuni kos.
Dengan penghuni kos sesama sampingkan kamar kan? Biasanya kalau di sini, menurut pengalaman saya, kalau ada temannya yang satu kamar terlalu berisik. Nah itu biasanya langsung WA juga ke saya, tidak akan langsung menegur temannya.
Nah peran saya sebagai ibu kos juga seperti itu ya. Jadi saya.. nanti mungkin gak enak ya teman sebelah mau langsung negur ke teman sebelahnya, takutnya nanti ada masalah jadi langsung ke saya “ibu tolong ya teman sebelah ini berisik banget.” seperti itu.
Berarti semuanya dikomunikasikan ya?
Iya dikomunikasikan. Jadi enak gitu.
Menurut ibu, menurut pengalaman ibu, apa yang paling dibutuhkan mahasiswa perantau agar mereka dapat merasa nyaman dan akhirnya terbiasa tinggal jauh dari keluarga?
Fasilitas, bisa jadi fasilitas sama yang tadi, ibu kosnya juga harus baik, suasananya, sesama teman samping kosannya juga. Kadang kita sudah merasa nyaman, tapi kalau sampingnya agak-agak bawel, ibu kosnya yang bawel juga kan gak… Sebenarnya gini teh, kalau saya sendiri ya, saling. Istilahnya itu ada yang mutualisme ya seperti itu, saya juga menginginkan anak kos yang soleh.. yang soleha maksudnya dan mungkin anak-anak kos juga pengen ibu kosnya jangan terlalu cerewet gitu ya.
Tapi harus tetap peduli gitu ya bu ?
Iya tetap, seperti itu.
Oke.. udah sih ibu, itu aja pertanyaannya. Terima kasih ya ibu waktunya.
Sama-sama.
Penulis : Intan Shafa Aqilah Yumnaputri, Zahirra Annahwa, Intan Maulidya (Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNSIKA Semester 1)





