
Rajab Ali Nurdin, Ketua Angkatan Duta Pendidikan Persahabatan Jawa Barat 2026
Karawang, wartacana.com- Derasnya arus media sosial kerap membuat anak muda sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Namun, di Jawa Barat hadir sebuah ruang berbeda tempat generasi muda diajak untuk berhenti sejenak, menoleh ke dalam diri, dan bertanya: “Apa yang sebenarnya bisa saya berikan untuk lingkungan?”
Melalui wadah Duta Pendidikan Jawa Barat, hadir gelar Duta Pendidikan Persahabatan yang menjadi jembatan sosial serta perekat hubungan antar siswa di seluruh pelosok Jawa Barat. Ajang ini mempromosikan nilai-nilai inklusivitas, keramahan, dan solidaritas di lingkungan pendidikan.
Duta Pendidikan bukan sekadar kompetisi kecantikan atau ajang unjuk bakat semata, melainkan sebuah wadah pengembangan generasi muda untuk menggali potensi diri. Di dalamnya, para peserta tidak hanya belajar teori, tetapi juga ditantang untuk berbicara di depan umum (public speaking), bekerja sama dalam tim, dan berpikir kritis mengenai persoalan pendidikan di sekitar. Proses ini membantu para remaja mengenali kelebihan dan bakat terpendam yang selama ini belum mereka sadari.
Selain itu, Duta Pendidikan berfungsi sebagai ruang untuk membentuk karakter kepemimpinan. Kepemimpinan yang dimaksud bukanlah sekadar posisi atau jabatan, melainkan kemampuan untuk menginspirasi teman sebaya, mendengarkan, dan menggerakkan perubahan positif. Nilai-nilai seperti empati, integritas, dan kepedulian sosial ditanamkan agar peserta tumbuh sebagai pribadi yang berprestasi sekaligus bermanfaat bagi lingkungannya.
Di antara para peserta yang menjalani proses tersebut, Rajab Ali Nurdin menjadi contoh nyata bahwa potensi diri dapat ditemukan, jiwa kepemimpinan dapat dilatih, dan dampak bagi sesama dapat dijaga selama seseorang konsisten melangkah.
Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) ini merupakan finalis sekaligus ketua angkatan Duta Pendidikan Persahabatan Jawa Barat 2026. Baginya, Duta Pendidikan Persahabatan tidak hanya sebagai tempat untuk berkompetisi, melainkan juga sebagai rumah untuk terus bertumbuh. Melalui ajang ini, Kak Rajab mendapatkan relasi dan pengalaman yang luar biasa.
“Kalau ditanya apa arti Duta Pendidikan Jawa Barat untuk saya sendiri, sebetulnya mungkin itu adalah rumah saya, teman-teman. Karena memang saya dibesarkan di situ, di mana saya mendapatkan personal branding yang bagus, mendapatkan undangan-undangan untuk mengisi materi, dan juga tentunya mendapatkan relasi, pengalaman, dan ilmu yang sangat luar biasa di sana,” ujar Rajab saat diwawancarai langsung.
Keikutsertaannya dalam ajang ini sebenarnya berawal dari hal yang sederhana. Dorongan dari guru di sekolah menjadi pemicu awal yang membawanya melangkah hingga sejauh ini.
“Awalnya saya disuruh oleh guru untuk mendukung saya ketika kuliah, siapa tahu bisa menjadi jalan untuk berkuliah. Dan ternyata memang cukup membantu untuk saya yang saat ini berkuliah. Jadi kalau ditanya latar belakang, lebih ke awalnya disuruh dan enggak sengaja juga,” tambahnya.
Berangkat dari pengalaman tersebut, Kak Rajab kemudian menginisiasi sebuah gerakan personal yang berfokus pada pengembangan diri anak muda, yaitu Project SELF. Program ini hadir untuk mendampingi remaja dalam mengenali minat dan bakat mereka.
“Untuk Project SELF, target sasaran utama saya adalah anak-anak remaja yang masih dalam masa sekolah, mulai dari SD, SMP, SMA, bahkan tidak menutup kemungkinan tingkat perguruan tinggi jika memang bisa diajak berkolaborasi. Caranya dengan mendukung potensi diri mereka melalui mentoring, serta bimbingan secara perlahan untuk meningkatkan bakat mereka,” jelasnya.
Aksi nyata ini tidak hanya berjalan secara individu. Dalam wadah Duta Pendidikan Jawa Barat, berbagai sinergi lintas lembaga juga terus dibangun, termasuk bekerja sama dengan pemerintah daerah hingga lembaga sosial seperti Yayasan Biruku Indonesia yang membina anak-anak berkebutuhan khusus.
Kegiatan mentoring dan edukasi tersebut dilakukan secara fleksibel, baik melalui media digital maupun interaksi langsung di lapangan.
“Untuk mentoring seringnya dilaksanakan secara online, teman-teman bisa cek di Instagram @belajarbarengrajab. Tapi untuk offline, dulu saya melaksanakannya di sekolah, di kelas saya sendiri dengan men-support potensi teman-teman, lalu mengembangkannya saat mengisi materi di sekolah lain,” tutur Rajab.
Melalui program tahunan Goes to School & Goes to Campus, tim Duta Pendidikan Jawa Barat gencar menjangkau sekolah-sekolah di berbagai daerah guna mencari pemuda yang memiliki passion di dunia pendidikan. Menariknya, tahun ini menghadirkan sebuah gebrakan baru berupa kategori Duta Anak/Duta Cilik yang dapat diikuti oleh siswa mulai dari kelas 5 SD.
Perjalanan Kak Rajab dalam memfokuskan diri pada self-development dimulai ketika ia menyadari pentingnya keluar dari zona nyaman. Kesadaran itu tumbuh menjelang kelulusan sekolah menengah atas, yang kemudian mendorongnya aktif dalam berbagai kegiatan positif hingga dipercaya memimpin rekan-rekannya sebagai ketua angkatan.

Rajab Ali Nurdin, Mahasiswa FKIP sekaligus Ketua Angkatan Duta Pendidikan Persahabatan Jawa Barat 2026, saat membagikan pengalamannya dalam mengembangkan potensi generasi muda
Kegiatan sosial dan mentoring pengembangan diri bersama Duta Pendidikan Jawa Barat
Sebagai ketua angkatan, nilai persahabatan dan merangkul menjadi prinsip utama yang selalu dipegangnya. Ia menceritakan bagaimana dinamika selama masa kompetisi membutuhkan empati dan rasa saling mendukung antar sesama peserta.
“Nilai persahabatan dan merangkul itu sangat penting, Teman-teman. Yang saya rasakan di Duta Pendidikan Jawa Barat, dari 58 finalis, banyak yang hampir menyerah, dan saya jadi salah satu orang yang menguatkan mereka bisa berdiri sampai tahap akhir. Walaupun saat itu posisi saya sendiri belum tentu aman, tapi saya benar-benar harus mengutamakan orang lain terlebih dahulu. Dalam organisasi, kita saling membutuhkan dukungan dan dorongan,” ungkapnya.
Menutup perbincangan, Rajab membagikan pesan mendalam bagi mahasiswa atau generasi muda yang ingin mulai melangkah dan mengasah potensi dirinya. Menurutnya, kunci utama dari sebuah perubahan terletak pada niat, komitmen, dan konsistensi.
“Langkah awal ketika menjadi mahasiswa yang ingin aktif berprogram adalah harus punya niat yang kuat dulu. Cari informasi tentang kegiatan positif, lalu jalani dengan konsisten. Jangan cuma mengandalkan motivasi, karena saat konsisten, sesusah atau secapek apa pun, kita punya komitmen untuk tetap melangkah. Kalau mau berkembang, tanya lagi ke diri sendiri: apakah kita benar-benar ingin berkembang atau merasa belum cukup?” pungkas Rajab.




