Karawang, Wartacana.com – Penggunaan Artificial Intelligence (AI) di lingkungan perguruan tinggi semakin masif dan menjadi tren di kalangan civitas akademika. Meski memberikan kemudahan dalam menyusun bahan ajar hingga tugas perkuliahan, AI dinilai perlu disikapi secara bijak agar tidak mengikis proses berpikir kritis mahasiswa. Hal ini terungkap dalam wawancara yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) program studi Ilmu Komunikasi, Ray Hanz Zephaniah dan Lucky Fiyonda Rohmandita, bersama akademisi serta mahasiswa di lingkungan kampus.
Peran AI dalam Pembelajaran dan Tantangannya
Dosen Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Singaperbangsa Karawang, Soni Okabrian, menegaskan bahwa AI sejatinya adalah alat bantu (assistant tool) yang sangat bermanfaat, baik bagi tenaga pengajar maupun mahasiswa.
Bagi dosen, AI dapat membantu menyusun materi pembelajaran agar tampil lebih menarik bagi mahasiswa. Sedangkan bagi mahasiswa, AI bermanfaat untuk mengumpulkan referensi bacaan hingga mempermudah pemahaman materi melalui konversi teks ke suara.
Namun, Soni juga menyoroti dampak negatif yang kerap terjadi. Menurutnya, banyak mahasiswa yang memanfaatkan AI sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan tugas secara instan dengan metode copy-paste demi mengejar nilai bagus.
“AI itu membantu kita untuk berpikir, bukan membuat kita tidak berpikir. Jika mahasiswa hanya asal copy-paste tanpa membaca dan memahami, proses berpikirnya menjadi tidak berjalan. Sesuatu yang instan dapat mendorong kita menjadi malas, dan ketergantungan itu yang berbahaya,” ujar Soni.
Ia mengibaratkan AI seperti sepeda motor sebagai alat transportasi untuk memindahkan kita dari satu titik ke titik lain, namun penggunanya tetap harus mengendarainya secara bijak dan tidak melenceng dari tujuan utama pembelajaran.
Sudut Pandang Mahasiswa
Dari sudut pandang mahasiswa, Dhafa Mykila, mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Singaperbangsa Karawang, mengakui bahwa AI sangat membantu efisiensi waktu, terutama saat pembuatan presentasi (PowerPoint) dan pencarian referensi istilah-istilah ilmiah.
Meski demikian, Dhafa sepakat bahwa penggunaan AI kembali kepada kesadaran pribadi masing-masing pengguna. Ia menilai pengembangan teknologi yang pesat di Indonesia perlu diimbangi dengan kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) dan sosialisasi agar tidak menimbulkan ketergantungan yang menurunkan minat belajar.
Kegiatan wawancara ini dipandu oleh Ray Hanz Zephaniah dan Lucky Fiyonda Rohmandita sebagai pewawancara, serta Siti Fatimah Azahra di balik kamera. Diskusi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran para mahasiswa untuk tetap mengedepankan proses belajar dan mengasah kompetensi mandiri di era kemajuan teknologi.
Penulis : Lucky Fiyonda Rohmandita, Ray Hanz Zephaniah, Siti Fatimah Azahra



