Karawang, Wartacana.com – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) saat ini telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan tinggi. Di satu sisi, AI menawarkan kemudahan dan efisiensi dalam belajar, namun di sisi lain berpotensi mengikis kemampuan berpikir kritis mahasiswa jika tidak disikapi dengan bijak. Untuk memahami bagaimana sebaiknya mahasiswa dan akademisi menyikapi fenomena ini, berikut adalah pandangan dan arahan dari Bapak Taufik Ridwan, S.T., M.T dosen FASILKOM mengenai penggunaan serta etika pemanfaata
n AI dalam proses pembelajaran.
Bagaimana pandangan Bapak mengenai semakin banyaknya mahasiswa yang menggunakan AI dalam kegiatan pembelajaran?
Penggunaan AI tidak dilarang maupun diwajibkan, tetapi harus ada aturan dan etika. Jika AI digunakan langsung dari awal, kemampuan critical thinking mahasiswa akan tumpul. Untuk mahasiswa semester awal, sebaiknya hindari AI agar terlatih berpikir kritis. Sedangkan untuk mahasiswa tingkat akhir, AI boleh digunakan sebatas membantu merapikan tulisan atau memperhalus paper, dengan catatan kontrol dan ide utama tetap pada mahasiswa.
Menurut Bapak sebagai dosen FASILKOM, apa manfaat utama AI bagi mahasiswa dalam proses belajar?
Manfaat utamanya adalah sebagai alat bantu, teman berdiskusi, serta sarana untuk bertukar ide dan mempercantik hasil karya tulisan. AI sifatnya hanya pendukung, bukan alat utama. Sebagus apa pun AI yang digunakan, kunci utamanya tetap terletak pada kemampuan mahasiswa itu sendiri dalam mengendalikannya.
Bagaimana batasan penggunaan AI yang menurut Bapak masih dapat dianggap sebagai bagian dari proses belajar?
Batasannya meliputi transparansi dan orisinalitas ide. Ide dasar harus murni dari mahasiswa, sementara AI hanya bertugas membantu menyempurnakan atau merapikan. Jika suatu karya dibuat dengan bantuan AI, mahasiswa wajib mendeklarasikannya secara jujur.
Menurut Bapak apa yang sebaiknya dilakukan dosen untuk mengarahkan mahasiswa agar menggunakan AI secara bijak?
Dosen perlu membatasi penggunaan AI pada mata kuliah critical thinking di semester awal agar mahasiswa terlatih berpikir mandiri, namun memperbolehkannya di tingkat lanjut untuk mencari ide atau mempercantik karya. Dosen juga mengarahkan mahasiswa untuk tetap membaca dan memahami materi secara manual, lalu menjadikan AI sebatas alat penyempurna.
Apa pesan Bapak kepada mahasiswa agar dapat memanfaatkan AI tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir dan belajar secara mandiri?
Mahasiswa harus menjadikan AI sebagai teman diskusi, bukan “joki” untuk pasrah mengerjakan tugas instan yang bisa menumpulkan daya kritis. Mahasiswa wajib menguasai proses belajar secara manual terlebih dahulu agar otak tetap terasah sebelum mulai mengandalkan bantuan AI.
AI pada dasarnya hadir sebagai alat pendukung yang dapat memperluas wawasan dan mempermudah proses belajar, bukan untuk menggantikan proses berpikir mahasiswa itu sendiri. Dengan menerapkan etika, menjaga kejujuran akademis, serta mengasah kemampuan dasar secara mandiri, mahasiswa dapat memanfaatkan kecerdasan buatan secara optimal tanpa harus kehilangan daya kritis dan orisinalitas pemikirannya.
Penulis: Khaila Khairani Sitompul, Mutiara Megawati, Asriana Husaenur Diansyah



