Karawang, Wartacana.com – Fasilitas umum kampus sering kali menjadi cerminan kepribadian civitas akademiknya. Salah satu fasilitas vital yang kerap menjadi sorotan adalah toilet. Di Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), urusan toilet ternyata bukan sekadar perkara bersih-membersih, melainkan melibatkan pembagian wewenang yang berlapis antara pihak universitas (rektorat) dan fakultas, serta benturan realitas dengan perilaku penggunanya.
Berikut adalah petikan wawancara mendalam bersama Pak Tata, perwakilan dari pihak umum universitas, yang memaparkan secara blak-blakan mengenai tata kelola, anggaran, kendala lapangan, hingga krisis kepribadian mahasiswa dalam menjaga fasilitas negara ini.
Pembagian Ranah dan Jobdesk yang Jelas
Pewawancara: Sebagai salah satu fasilitas yang digunakan oleh civitas akademika, bagaimana pihak universitas melihat pentingnya pemeliharaan toilet di lingkungan Unsika?
Pak Tata: Sangat penting. Kenapa? Karena toilet itu sendiri adalah sebuah kebutuhan. Kebutuhan mau itu dari dosen, tenaga pendidik, dan teman-teman mahasiswa itu sendiri. Tapi terkadang kita sudah semaksimal mungkin. Nah, perlu diketahui bahwa yang ditangani oleh pihak kami (pihak universitas) itu berbeda dengan penanganan di fakultas. Ranahnya beda.
Misalkan contoh area-area luar, seperti ormawa, kelas kabin (GLB), masjid, aula, itu baru kami yang menanganinya. Di luar itu, itu kembali ke fakultasnya masing-masing penanganannya. Karena apa? Di setiap fakultas itu sendiri ada yang namanya operator untuk Barang Milik Negara (BMN). Dia yang akan mencatat, dia yang akan memonitoring fasilitasnya. Itu semua sudah punya job masing-masing.
Krisis Kepribadian dan Perilaku Pengguna
Pewawancara: Jadi selama ini, toilet itu lebih sering rusak karena mahasiswa itu sendiri ya, Pak?
Pak Tata: Iya betul, apalagi yang di luar-luar itu. Kan kita enggak bisa memonitoring semuanya karena pemakaiannya bukan satu mahasiswa saja. Kembali lagi, kalau kita memang sadar diri, kalau memang kita mau, ayo galakkan kebersihan. Tapi tetap saja, di Unsika itu tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan.
Teman-teman mahasiswa kalau dibilang bukan anak kecil lagi. Sekarang kalian itu masuk yang namanya kampus, sudah 75% itu wawasan kalian, 25% itu di kampus pendidikannya. Jadi pola pikir kalian mindset-nya sudah menentukan jati diri kalian sendiri, bukan untuk digembleng lagi.
Pewawancara: Memang harus punya kesadaran sendiri ya?
Pak Tata: Nah, iya betul. Karena apa? Karena yang saya rasakan, yang saya pernah memberikan pengarahan seperti itu sendiri, kita bukan menyampingkan ya. Istilahnya gini: ketika kita Sekolah Dasar (SD) itu 100% digembleng oleh sekolah. Ketika masuk SMP itu 75% di sekolah, 25% di rumah untuk membuka karakter seseorang, dia dapat ilmunya dari sekolah 75%. Masuk ke SMA itu sudah 50-50 karena sudah menentukan jati dirinya sendiri-sendiri. Tapi ketika masuk kampus itu 75% di luar. Nah, pemahaman-pemahaman yang di luar ini baik tidak?
Kalau kata saya, kampus itu cuma 25% untuk menutup legalitas, ya hasilnya ijazah. Tapi rata-rata tadi, salah besar kalau kita berpikir “Oh, ini semua tanggung jawab kampus.” Enggak bisa. Karena kalian sudah menentukan jati diri.
Pewawancara: Karena kita bukan anak SMA lagi ya. Kita ambil contoh konkret kerusakan di lapangan seperti apa, Pak?
Pak Tata: Kita ambil contoh toilet Gedung Bersama Mahasiswa (BMU) yang baru diperbaiki, kurang lebih kisaran 3 bulan atau 6 bulanan lah paling lama, sekarang sudah hancur lagi. Nah, itu bingung kita penanganannya sendiri. Apakah si mahasiswanya memakainya seperti apa? Terkadang si mahasiswa sendiri tidak sadar diri, pembalut dimasukkan ke kloset.
Contoh saya ambil kasus lagi di FKIP. Walaupun itu punyanya fakultas, tetap ketika butuh tenaga, pernah nih saya sendiri sampai ‘ngodok’ (mengambil langsung dengan tangan) softex di dalam kloset. Karena ya sudah kewajiban dan tanggung jawab semua untuk memberikan pelayanan yang maksimal atau pelayanan yang terpadu. Sebetulnya, membuat fasilitas itu lebih murah dibanding perawatan. Kenapa? Karena kalau perawatan itu sifatnya continuous (berkelanjutan).
Jadi, kembali kalau mau jaga semuanya ya kita jaga semua. Bukan hanya sifatnya untuk menjaga ketika ada teguran baru dijagain. Kadang-kadang kembali ke mahasiswa sendiri, krisis kepribadian semuanya. Rata-rata seperti itu. Tidak mau menjaga, lupa kalau ini punya kita bersama.

Sistem Pemeliharaan, Jadwal Ketat, dan Kasus Kehilangan
Pewawancara: Terus kalau misalnya untuk sistem pemeliharaan di kampus sendiri itu kayak gimana sih, Pak?
Pak Tata: Kita planning, terjadwal karena di setiap bagian itu sudah ada petugasnya masing-masing. Dari pagi, siang, sore, sampai closing.
Nah tapi ini untuk yang area ormawa nih, bukannya apa-apa ya, saya harus bertindak tegas dong? Kasarnya begitu. Rencana saya akan memonitoring tim baju biru (tim kebersihan). Untuk lapangan berarti nantinya lari ke orang lapangan. Insyaallah saya lagi mengusulkan untuk pembenahan lagi, karena itu baru 6 bulan masalahnya. Enggak tahunya pas itu saya bersihkan, isinya softex semua di dalamnya, dan kacanya pecah. Jadi ya kembali kepada pribadi masing-masing.
Pewawancara: Tapi ada enggak sih Pak toilet yang rusaknya lebih parah dari yang toilet ormawa itu?
Pak Tata: Untuk saat ini alhamdulillah enggak ada sih. Paling ya lampunya tadi. Lampunya ada yang ambil, biasa ada yang butuh buat di kontrakan gitu ya, rata-rata seperti itu.
Gak jauh-jauh, di depan workshop saya aja baru seminggu diganti lampunya sudah ke mana. Bahkan gayung pun suka hilang, seminggu sekali kita beli gayung. Jadi bukan kita dari pihak universitas yang tidak perhatian, tapi kembali teman-teman sendiri yang harus saling menyadari dan menjaga.
Pewawancara: Tapi kan sudah sering ya Bapak kehilangan lampu dan segala macam. Itu kira-kira apakah universitas akan memasang CCTV lebih banyak atau bagaimana, Bapak?
Pak Tata: Kalau di dalam toilet kan enggak mungkin ya dipasang CCTV. Dan di sini CCTV sebenarnya pun sudah disebar banyak di area luar. Takutnya kalau di toilet disalahartikan oleh pengguna, bukannya untuk kenyamanan malah jadi rawan.
Mekanisme Pelaporan: Alur Birokrasi Kampus
Pewawancara: Jadi menurut Bapak, apakah terdapat mekanisme bagi pengguna fasilitas kamar mandi untuk menyampaikan laporan jika toiletnya itu membutuhkan perbaikan?
Pak Tata: Kalau itu ya memang ada teknisnya. Jadi ketika ada permasalahan, misalnya di area sini, dan ada laporan dari petugas planning, tindakan akan diambil. Untuk petunjuk penggunaan toilet itu juga sebenarnya sudah ada. Tapi ya kembali kepada penggunanya. Itu kan sudah jelas kita memberikan arahan, memberikan warning, memberikan imbauan.
Pewawancara: Seperti toilet di kantin depan itu yang dekat gerbang keluar, dan itu belakangnya dibuat cuci piring tukang kantin, itu bagaimana?
Pak Tata: Oh itu beda lagi. Itu yang pegang adalah PUSKA (Pusat Koperasi). Jadi setiap gedung itu sudah ada penanggung jawabnya masing-masing.
Pewawancara: Tapi mereka itu berhubungan juga enggak sama pihak universitas, atau jika punya masalah mereka selesaikan sendiri?
Pak Tata: Karena itu PUSKA jadi itu dikelola sendiri. Karena kalau PUSKA itu kalau di Pemda mah koperasinya lah. Nah, koperasi itu yang menangani pendapatan Unsika karena kita di sini sudah BLU (Badan Layanan Umum). Jadi, kita harus sebanyak-banyaknya mencari uang. Jadi mau kantin rusak mereka yang tanggung jawab, kantin mau renovasi, mereka yang tanggung jawab.
Pewawancara: Jadi tadi seperti yang Bapak bilang, kalau misal ada toilet yang rusak kita bisa lapor. Nah kalau di FISIP kan kita punya link pengaduan gitu, kalau misal tingkat universitas apakah ada link pengajuan atau seperti apa?
Pak Tata: Nah kalau itu sistemnya sedang dibuat. Ya mudah-mudahan ke depannya itu nanti jadi kalian melapor tetap ke fakultas terlebih dahulu. Jadi nanti dari fakultas baru laporan ke kami. Tapi kalau untuk penangannya itu kembali ke fakultas masing-masing kalau ranahnya di dalam fakultas.
Misalkan fisik, contoh misalkan ada yang bocor, kalau saya mah cuma cek doang, pengecekan doang. Kembali kami sampaikan, “Pak ini harus diganti ini, ini, ini.” Tetap laporan masuk ke kami. Ditangani dari pihak BMN, operator BMN pelaporan ke kami ke bagian umum. Kami mengecek ke sana ke lokasi. Setelah dicek, kami kembalikan lagi ke fakultas karena ranahnya ada di fakultas. Kecuali seperti yang saya bilang tadi, di luar dari fakultas baru kami yang menindaklanjuti.
Pewawancara: Tapi kalau untuk ormawa kayak misalnya BEM FISIP, BEM Fasilkom itu masuknya ke fakultas atau ke universitas?
Pak Tata: Kalau BEM ya di bawah penanganan kami. Kalau organisasi mahasiswa (ormawa) masuknya kategori kami, walaupun tadi perawatan AC-nya maupun penerangannya. Tinggal kalian lapornya bukan langsung ke bagian umum, bukan. Alurnya ke kemahasiswaan dulu, dari kemahasiswaan baru tindak lanjut ke Wakil Rektor (Warek) 1, Warek 2, lanjut ke Warek 3. Barulah turun ke bagian umum baru kita eksekusi. Seperti itu alurnya.
Jadi, kalau kalian mau komplain misalkan, “Itu toilet WC rusak kenapa enggak dibenerin?” Jangan langsung ke kami. Laporannya ke fakultas dulu kalau ranahnya memang ada di dalam fakultas.
Pewawancara: Bapak, kalau ada kerusakan dan segala macam, apakah proses perbaikannya akan lama? Karena kan birokrasinya seperti itu, Bapak.
Pak Tata: Kalau yang di tingkat kami (universitas), ya insyaallah cepat. Tapi kalau yang di fakultas, sebetulnya dicek dulu tingkat kerusakannya. Apakah sifatnya bisa diswakelola atau harus benar-benar dipanggil istilahnya pihak ketiga (vendor) karena anggarannya banyak.
Kalau misalkan hanya keran copot atau cleaning itu misalkan ada yang macet, itu biasanya diswakelola. Karena memang sudah ada tim di sini. Ada bagian PIC listrik, PIC mekanik, IESI, dan sipil. Nah, mereka larinya ke situ, jadi sudah masing-masing. Makanya kenapa workshop saya dibongkar? Nah, karena sudah ada orang-orangnya sekarang.
Makanya kan sekarang lagi dibagusin tuh area Ormawa, dipasang kanopi. Barang-barang yang kasar sudah hancur baru kita bersihin. Karena kan sekecil apapun aset negara enggak bisa hilang, enggak boleh sebelum ada proses penghapusan aset.
Rencana Peningkatan Fasilitas dan Kendala Usia Bangunan
Pewawancara: Untuk saat ini apakah ada rencana untuk peningkatan fasilitas toilet di Unsika ini enggak, Bapak?
Pak Tata: Kalau toilet itu sendiri kayaknya menginduknya ke gedung. Cuma kalau untuk penanganan atau kasarnya ini kita agar lebih efisien penggunaan anggaran itu sendiri, makanya teman-teman penjaga untuk alur kebersihannya mereka sudah kita terapkan semaksimal mungkin.
Dari yang tadi dibilang jadwalnya pagi, siang, sore sampai jam closing jam 4 atau sampai jam 5 sore. Kadang jam kerja mereka lebih dari jamnya. Mereka kadang dari jam 7 pagi pulang jam 5 atau jam 6 sore, bahkan kadang sampai jam 8 malam. Itu tidak dihitung lembur, itu loyalitas. Saya mengajarkan ke situ, tanggung jawab.
Pewawancara: Jadi Unsika ini memastikan kebersihan tiap-tiap toilet itu dengan yang tadi ya Bapak, dibagi-bagi jadwal?
Pak Tata: Iya betul, sudah ada job desk-nya masing-masing. Misalkan lantai satu nih berapa orang, lantai dua berapa orang. Biasanya untuk lantai satu dua orang, lantai dua dua orang, lantai tiga dua orang, nah lantai empat dua orang. Sudah terbagi semuanya. Nah, kalau di fakultas kembali ke petugasnya di fakultas yang memonitor ini, kan bukan kita. Kan sudah bagi-bagi.
Pewawancara: Kirain kalau dulu ya di SMA saya tuh kan Pak, dibersihinnya pagi-pagi doang atau sore doang gitu.
Pak Tata: Enggak bisa kalau di bawah saya, kalau saya orangnya keras enggak bisa. Harus terawat. Cuma karena jangan lihat, “Oh, ini enggak dibersihin, ini enggak,” tahunya kan karena usia keramik. Kalau namanya usia keramik semakin kena air, mau diapain kalau sudah tua, mau gimana? Ini kan bangunan sudah tua lah disebutnya. Ini gedung rektorat ini kan bangunan sudah dari tahun 2010. Makanya jangan kaget kalau masuk ke lantai ini, “Oh, kok masih kotor ya?” Karena usia keramik kan ada batasannya mau disikat pakai apa juga. Apalagi kan air di sini kualitasnya kurang bagus.
Pewawancara: Kalau kondisi fasilitas saat ini sudah baik gitu, pihak kampus mempertahankannya selain yang tadi itu bagaimana, Pak?
Pak Tata: Evaluasi bareng. Ya, tetap kita ada evaluasi. Mana yang kasar yang harus dibenahi, mana yang kasarnya perlu diperbaiki. Setiap hari saya pasti—bukan setiap hari ya, kadang seminggu sekali saya pasti keliling. Mau saya, mau Pak Warya, mau Pak Reja. Tujuannya apa tadi? Memberikan kenyamanan. Begitu.
Jadi kan kita sudah—kita kan enggak bisa memonitoring langsung teman-teman, betul enggak? Nah, kalau ada laporan ya kita mana tahu yang rusaknya apa di sana. Apalagi kalau sudah pada tua-tua kan kalau diomongin malah iya-iya saja orangnya, betul enggak? Nah, seperti itu.
Tapi jadi jelas ada perbedaan mana yang kasarnya wewenang fakultas, mana yang sifatnya rektorat. Nah, kalau berarti kalau di rektorat atau umum berarti baru kita yang tangani. Tapi tetap saja kalau sudah ada tugas, ada perintah, walaupun itu tugasnya di fakultas, tetap kita cek, kita bantu kalau memang sifatnya diswakelola.
Pewawancara: Tapi ada yang kekeh (keras kepala) gitu enggak, Pak? Kalau misalnya toilet atau fasilitas lain ada yang rusak tapi mereka malah kayak marah gitu karena mungkin perbaikannya disangka mereka tuh lama gitu dipikir mereka tuh?
Pak Tata: Nah, kita tadi kan enggak tahu kronologisnya harus alurnya ke mana. (Masyarakat kampus sering kali komplain tanpa memahami alur birokrasi dan asal-usul kerusakan). Yang bisanya cuma komplain doang, padahal mereka sendiri yang tidak ikut menjaga fasilitas yang ada.
Penulis: Nafalia Rizky Putri, Tasya Kamila, Jelita Banurea


