DI BALIK KEMERIAHAN HUT KE-81 RI: Peran Bendahara Dalam Mengelola Dana

Karawang, Wartacana.com – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi salah satu momentum yang sering diisi dengan berbagai kegiatan untuk mempererat kebersamaan dan memeriahkan suasana kemerdekaan. Di balik terlaksananya berbagai rangkaian kegiatan tersebut, terdapat proses persiapan dan pengelolaan yang perlu diperhatikan, salah satunya dalam hal keuangan. Pengelolaan dana menjadi bagian penting karena setiap kegiatan memiliki kebutuhan yang harus disesuaikan dengan anggaran yang tersedia. Dalam hal ini, bendahara memiliki peran dalam mengatur dan mencatat pemasukan maupun pengeluaran serta memastikan penggunaan dana dapat menunjang keberlangsungan kegiatan.
Berdasarkan hal tersebut, bendahara kegiatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dipilih sebagai narasumber yang bernama Annisa Safitri yaitu Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi Universitas Singaperbangsa karawang.

Nisa sudah 3 periode ( 3 tahun) menjadi bendahara 17 Agustusan, membangun kepercayaan di hadapan masyarakat sehingga Nisa dapat dipercaya oleh masyarakat sebagai bendahara HUT ke-81 RI di kediamannya, perumahan Griya Citra Persada, RT 02/10, Cikampek, Jawa barat.

Karena memiliki keterlibatan langsung dalam proses pengelolaan keuangan selama kegiatan berlangsung. Melalui wawancaranya bersama Chantika Octaviani Putri dengan Nisa ini akan menggali lebih dalam mengenai bagaimana perencanaan dan penggunaan dana dilakukan, pertimbangan dalam menentukan kebutuhan kegiatan, serta kendala yang dihadapi dalam mengelola keuangan. Dengan mengangkat pengalaman bendahara, berita ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai sisi di balik pelaksanaan kegiatan 17 Agustus yang mungkin tidak terlihat oleh peserta maupun masyarakat yang menikmati kemeriahannya.

Dengan mengangkat pengalaman bendahara, berita ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai sisi di balik pelaksanaan kegiatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang tidak banyak terlihat oleh masyarakat. Pengelolaan keuangan menjadi salah satu bagian penting yang mendukung terlaksananya berbagai kegiatan, sehingga pengalaman bendahara dapat memberikan informasi mengenai bagaimana dana dikelola dan dipertanggungjawabkan di balik kemeriahan perayaan kemerdekaaan.

Q: Bisa diperkenalkan nama dan sebagai apa Anda dalam kepanitiaan 17 Agustus?
A: “Halo semuanya, perkenalkan nama saya Anisa Safitri. Saya sebagai bendahara panitia 17 Agustus di Perumahan Griya Citra Persada, RT 02/RW 10 selama tiga periode.”
Q: Kenapa Anda bisa dipercaya menjadi bendahara dan bersedia menerima tanggung jawab tersebut?
A: “Sebenarnya awal-awalnya saya suka ikut teman-teman saya. Di lingkungan rumah, teman-teman saya sudah lebih dulu terlibat dalam kepanitiaan dan jarak usia kami sekitar lima sampai enam tahun. Dari situ saya sering mengikuti bendahara dan membantu-bantu. Memang dari kecil saya suka mengelola keuangan. Kemudian pada 2023 saya dipercaya dan ditunjuk langsung oleh ketua RT. Setelah dirembukkan bersama semuanya dan mereka setuju, akhirnya saya mencoba hal baru dan menjalankan tanggung jawab tersebut.”
Q: Selama menjadi bendahara, apa kendala terbesar yang pernah dihadapi dalam mengelola keuangan acara 17 Agustus?
A: “Biasanya kendala muncul menjelang hari H dan setelah hari H. Di RT saya, setelah 17 Agustus biasanya ada acara malam puncak. Pada hari H 17 Agustus terkadang ada pengeluaran yang tidak terduga sehingga uang menjadi minus. Jadi, kondisi uang yang minus itu menjadi kendala terbesar.”
Q: Kalau kondisi keuangan mengalami kekurangan, bagaimana cara Anda mengatasinya?
A: “Setiap masalah pasti ada solusinya. Ketika mengalami kekurangan dana, pertama saya melaporkannya kepada ketua. Setelah itu kami bersama-sama melakukan rembukan untuk mencari solusi. Saya mengusulkan agar kami mengurangi pengeluaran yang sekiranya kurang penting. Misalnya, uang untuk perlombaan dikurangi atau dipres lagi supaya bisa menutupi kekurangan di kebutuhan lainnya.”
Q: Bagaimana perasaan Anda setelah menjalani tugas sebagai bendahara selama tiga tahun?
A: “Jujur memang capek dan pusing, tetapi saya merasa ini sudah menjadi passion saya karena saya suka mengelola keuangan. Pusingnya pasti ada, tetapi saya tetap merasa senang menjalaninya.”
Q: Bagaimana cara mencukupi semua kebutuhan 17 Agustus dengan dana yang tersedia?
A: “Biasanya dana 17 Agustus memang sangat pas-pasan. Jadi, sejak awal ketika panitia dibentuk, kami merencanakan kegiatan apa saja yang akan dilaksanakan. Setelah kegiatan dirancang, kami baru membuat anggaran. Kemudian kami menentukan skala prioritas, mulai dari kebutuhan yang paling penting sampai yang kurang penting. Jadi, kami sudah melakukan budgeting sejak awal.”
Q: Kalau dana yang tersedia masih kurang, strategi apa yang biasanya dilakukan?
A: “Biasanya kami kembali memutar otak dengan menekan dana untuk kebutuhan yang sekiranya kurang penting. Kalau masih kurang juga, kami melaporkannya kepada Pak RT. Kalau kekurangannya cukup banyak, biasanya Pak RT akan mencari dana tambahan dari warga, misalnya melalui open donasi.”
Q: Mengingat masalah keuangan cukup sensitif, bagaimana warga bisa mengakses informasi pemasukan dan pengeluaran?
A: “Biasanya ketika mengelola keuangan saya mencatatnya di spreadsheet. Link spreadsheet tersebut saya bagikan di grup bersama bapak-bapak. Selain itu, saya juga membagikannya ketika ada rapat besar bersama panitia dan bapak-bapak.”
Q: Bagaimana cara Anda menyajikan laporan keuangan agar mudah dipahami warga?
A: “Di spreadsheet, datanya bisa dipisah-pisah. Biasanya saya menyajikannya secara terpisah antara pemasukan, pengeluaran, dan RAB. Dengan begitu, warga menjadi lebih mudah mengakses dan mengetahui kondisi keuangannya. Kalau ada yang tidak mengerti, biasanya mereka bertanya dan saya akan menjelaskannya.”
Q: Selama tiga periode menjadi bendahara, apakah ada masalah serius yang sering dihadapi?
A: “Yang paling sering adalah keuangan yang minus. Karena kebutuhan banyak sedangkan uang yang tersedia pas-pasan, pengeluaran bisa menjadi banyak, terutama pada hari H. Selain itu, saya terkadang suka lupa mencatat. Ketika melakukan balancing, kadang data pengeluaran menunjukkan jumlah tertentu, tetapi uang aslinya berbeda.”
Q: Bagaimana Anda mengatasi masalah pencatatan agar jumlah uang sesuai dengan data?
A: Untungnya, setiap ada pengeluaran saya mewajibkan semuanya memiliki struk. Kalau tidak ada struk, saya akan meminta atau menagih bukti tersebut. Dengan begitu, saya bisa melakukan balancing antara uang yang tersedia dengan data pengeluaran.”
Q: Bagaimana cara Anda menghadapi kritik dari warga terkait pengelolaan uang?
A: “Biasanya warga meminta transparansi. Mereka terkadang bertanya, seperti kenapa uang sudah habis. Saya menjelaskan apa adanya mengenai pengeluarannya. Saya juga menunjukkan bukti-bukti seperti struk, catatan, dan saksi yang membeli barang-barang tersebut. Pada awalnya warga memang sering mengkritik, tetapi semakin ke sini mereka mulai percaya kepada saya. Jadi, saya berusaha membangun kepercayaan mereka.”
Q: Dari mana biasanya dana untuk kegiatan 17 Agustus diperoleh?
A: “Di RT saya setiap bulan ada uang kas. Jadi, setiap 17 Agustus pasti ada dana yang bisa digunakan. Namun memang jumlahnya pas-pasan karena setiap keluarga biasanya memiliki uang kas bulanan. Untuk nominal pastinya saya kurang tahu karena bagian tersebut diurus oleh Pak RT. Kami yang remaja biasanya tinggal menerima dana yang diberikan untuk kegiatan.”
Q: Apakah ada sponsor dari brand atau pihak tertentu untuk kegiatan 17 Agustus?
A: “Kalau sponsor seperti brand untuk lingkungan RT yang hanya terdiri dari tiga gang rasanya terlalu besar. Biasanya bukan sponsor, tetapi lebih kepada donasi dari warga. Misalnya ada warga yang mengatakan bahwa saat malam puncak mereka ingin mendonasikan konsumsi untuk tamu. Ada juga yang membantu membayar biaya panggung. Jadi bentuknya lebih kepada donasi warga, bukan sponsor seperti dari sebuah brand.”
Q: Setelah tiga periode menjadi bendahara, apa harapan Anda untuk bendahara selanjutnya?
A: “Semoga yang menjadi bendahara tahun depan bisa menjalankan tugas dengan baik dan bahkan bisa lebih baik dari saya. Saya juga ingin berpesan agar setiap pengeluaran dicatat dengan teliti karena pencatatan biasanya menjadi salah satu hal yang bisa menimbulkan masalah, terutama ketika melakukan balancing. Selain itu, jangan lupa memberikan transparansi kepada warga agar mereka tidak bingung uangnya digunakan untuk apa saja.”

Penulis: Chantika Octaviani Putri, Rakha Atean Wiharja, dan Reyfran Stevanus Mewengkang

Kelas Semester Genap TA 2025-2026

Related Posts

PENGARUH PENGGUNAAN AI TERHADAP PEMBELAJARAN MAHASISWA

Karawang, Wartacana.com – Penggunaan Artificial Intelligence (AI) di lingkungan perguruan tinggi semakin masif dan menjadi tren di kalangan civitas akademika.  Meski memberikan kemudahan dalam menyusun bahan ajar hingga tugas perkuliahan,…

Read more
Krisis Kesadaran dan Dilema Perawatan Fasilitas Toilet di Lingkungan Unsika

Karawang, Wartacana.com – Fasilitas umum kampus sering kali menjadi cerminan kepribadian civitas akademiknya. Salah satu fasilitas vital yang kerap menjadi sorotan adalah toilet. Di Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), urusan toilet…

Read more

You Missed

PENGARUH PENGGUNAAN AI TERHADAP PEMBELAJARAN MAHASISWA

PENGARUH PENGGUNAAN AI TERHADAP PEMBELAJARAN MAHASISWA

Krisis Kesadaran dan Dilema Perawatan Fasilitas Toilet di Lingkungan Unsika

Krisis Kesadaran dan Dilema Perawatan Fasilitas Toilet di Lingkungan Unsika

DI BALIK KEMERIAHAN HUT KE-81 RI: Peran Bendahara Dalam Mengelola Dana

DI BALIK KEMERIAHAN HUT KE-81 RI: Peran Bendahara Dalam Mengelola Dana

Dishub Karawang Pastikan CFD Berjalan Tertib, Aman, dan Nyaman bagi Masyarakat

Dishub Karawang Pastikan CFD Berjalan Tertib, Aman, dan Nyaman bagi Masyarakat

Harga Bahan Pokok Melejit: Ini Strategi Pedagang Ayam Cabe Ijo di Sekitar UNSIKA

MENGGALI POTENSI GENERASI MUDA BERSAMA DUTA PENDIDIKAN JAWA BARAT 2026