Waspada, Diabetes pada Remaja Karawang Semakin Tinggi

Karawang, Wartacana.com – Meningkatnya kasus diabetes pada anak muda di Karawang menjadi perhatian serius di tengah perubahan pola hidup masyarakat modern. Kebiasaan mengonsumsi minuman manis, makanan cepat saji, serta pola aktivitas yang kurang seimbang memberikan dampak terhadap meningkatnya risiko diabetes pada usia remaja hingga dewasa muda.

Kondisi ini menunjukkan bahwa diabetes tidak lagi hanya menyerang kelompok usia lanjut, tetapi mulai mengancam generasi produktif. Fenomena meningkatnya kasus diabetes pada anak muda di Karawang menjadi perhatian serius, baik dari masyarakat maupun pemerintah daerah. Perubahan pola hidup, tingginya konsumsi gula, serta kurangnya aktivitas fisik disebut menjadi beberapa faktor yang mendorong peningkatan risiko penyakit ini.

Di Karawang, seorang pelajar berinisial W (21 Tahun) yang kini menjadi pengidap diabetes muda mengaku tidak pernah menyangka dirinya akan terkena penyakit tersebut di usia sekolah. Ia baru mengetahui dirinya mengidap diabetes saat duduk di eklas 11 pada awal tahun 2024

Awalnya, gejala yang muncul dianggap sebagai kelelahan biasa akibat aktivitas sekolah dan perrsiapan ujian. Namun kondisi tubuhnya perlahan menunjukkan perubahan yang tidak biasa.

“Aku sering haus banget sampai botol 1,5 liter habis tiga sampai empat kali sehari. Malam juga bolak-balik ke kamar mandi, jadi tidur nggak nyenyak,” ungkapnya, (24/06/2026)

Tak hanya itu, berat badannya turun sekitar tujuh kilogram dalam waktu dua bulan meski pola makan masih tetap banyak. Setelah melakukan pemeriksaan, kadar gula darahnya diketahui mencapai 280 mg/dL, angka yang sudah berada jauh di atas batas normal yaitu 100-140 mg/dL

Menurutnya, kasus diabetes yang diidapnya tidak lepas dari pola hidup yang kini menjadi kebiasaan banyak anak muda, terutama di Karawang. Salah satunya minuman manis.

“Anak Karawang gampang banget nemu boba, es teh manis jumbo, sama minuman kemasan murah. Nongkrong tanpa minuman manis rasanya kayak kurang lengkap,” ujarnya.

Selain itu, pola makan instan dan minim aktivitas fisik juga menjadi faktor yang mempengaruhi kesehatan remaja. Kebiasaan membeli gorengan, mi instan, hingga kurangnya konsumsi sayur disebut semakin umum terjadi, ditambah aktivitas fisik yang mulai berkurang karena lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai.

Setelah didiagnosis diabetes, perubahan gaya hidup menjadi tantangan tersendiri baginya. Salah satu hal paling sulit adalah mengubah kebiasaan saat berkumpul bersama teman.

“Teman-teman pesan boba, aku cuma bisa air mineral. Awalnya malu, takut dibilang sok sehat atau sok beda,” katanya.

Kondisi tersebut juga memaksanya lebih disiplin dalam menjaga pola makan, termasuk membawa bekal sendiri ke sekolah karena keterbatasan pilihan makanan sehat di kantin.

Meski begitu, ia melihat kesadaran remaja terhadap bahaya diabetes perlahan mulai meningkat, terutama setelah adanya program pemeriksaan kesehatan gratis dari puskesmas yang masuk ke sekolah-sekolah.

“Banyak yang mikir masih muda nggak mungkin kena diabetes. Tapi setelah tahu anak SMA juga bisa kena, mereka mulai kaget,” ujarnya.

Di akhir wawancara, ia menyampaikan pesan kepada remaja lain agar tidak menunggu sakit untuk mulai menjaga kesehatan.

“Jangan nunggu sakit dulu baru sadar. Nikmatin masa muda boleh, tapi jangan semua lari ke gula. Coba ganti satu gelas boba seminggu jadi air putih atau jalan kaki 15 menit sehari. Kedengarannya kecil, tapi pengaruhnya besar buat badan kita ke depan.”

Meski sudah banyak kasus, kesadaran anak muda terhadap kesehatan dinilai masih beragam. Sebagian mulai memahami pentingnya menjaga pola hidup sehat, namun sebagian lainnya masih belum terlalu memperhatikan risiko yang mungkin muncul di kemudian hari.

Hal tersebut terlihat dari kebiasaan konsumsi makanan dan minuman tinggi gula yang masih cukup tinggi di lingkungan anak muda. “Kalau menurut saya beberapa ada yang peduli, beberapa juga ada yang belum. Kelihatannya saja dari banyaknya orang yang masih minum-minuman manis atau makan makanan manis, apalagi Karawang panas, jadi enaknya minum yang segar-segar terus manis,” ujar Aldi salah satu anak muda Karawang (19/05/2026)

Cuaca panas yang identik dengan Karawang seringkali menjadi alasan mengapa minuman tinggi gula menjadi pilihan utama masyarakat, khususnya anak muda. Mulai dari es kopi susu, minuman kemasan, teh manis, hingga berbagai jenis minuman kekinian dengan tambahan gula dan krimer menjadi konsumsi sehari-hari.

Kebiasaan tersebut tanpa disadari dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk diabetes.Bagi sebagian anak muda, diabetes bahkan dipandang sebagai penyakit yang menakutkan.

Saat mendengar kata diabetes, hal pertama yang terlintas dalam pikiran bukan sekedar gula darah tinggi, melainkan dampak serius yang ditimbulkan. “Satu kata yang terlintas pas mendengar kata diabetes itu amputasi,” ungkap Hafiz, remaja Karawang lainnya.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa diabetes sudah dipahami sebagai penyakit dengan dampak serius. Namun, pemahaman mengenai penyebab dan langkah pencegahannya masih menjadi tantangan tersendiri. Banyak anak muda menyadari bahwa pola hidup memiliki pengaruh besar, tetapi belum sepenuhnya mampu mengubah kebiasaan sehari-hari.

Sumber: Dinas Kesehatan Karawang 2026
Sumber: Dinas Kesehatan Karawang 2026

Menurut Aldi dan Hafiz, pola nongkrong, kebiasaan makan, hingga kurangnya waktu istirahat turut berkontribusi terhadap meningkatnya risiko diabetes di usia muda. “Pola nongkrong, pola makan, pola istirahat juga ngaruh semua menurut saya. Soal minuman manis karena lebih menggugah atau menarik dibanding konsumsi yang pahit-pahit,” ujar Aldi.

Kebiasaan konsumsi gula berlebih juga mulai disadari sebagian anak muda sebagai sesuatu yang perlu dikurangi. Beberapa mulai mencoba mengubah pola konsumsi, seperti mengurangi nasi atau memilih minuman dengan kadar gula lebih rendah. “Kalau sekarang mulai ngurangin konsumsi nasi juga, terus paling minum americano walaupun pahit. Tapi sehari bisa sampai tiga gelas kopi,” kata Hafiz.

Fenomena meningkatnya diabetes pada usia muda ini turut dibenarkan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, Yayuk Sri Rahayu. Menurutnya, diabetes tipe 2 yang sebelumnya banyak ditemukan pada kelompok usia dewasa, kini mulai muncul pada usia remaja akibat perubahan pola hidup.

“Dulu diabetes kebanyakan pada usia di atas 30 tahun. Sekarang remaja juga sudah mulai terkena diabetes tipe 2,” jelasnya.

Yayuk Sri Rahayu Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P)(28 April 2026)
Yayuk Sri Rahayu Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P)
(28 April 2026)

Ia menjelaskan bahwa diabetes tipe 2 erat kaitannya dengan gaya hidup tidak sehat, seperti pola makan tinggi gula, obesitas, kurangnya aktivitas fisik, serta pola tidur yang tidak teratur. Ketidakseimbangan antara asupan makanan dan aktivitas tubuh menyebabkan kadar gula dalam darah sulit dikendalikan sehingga meningkatkan risiko penyakit diabetes.

Sebagai langkah pencegahan, Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang telah menjalankan berbagai program, salah satunya Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi masyarakat termasuk remaja dan pelajar. Edukasi mengenai pola hidup sehat juga terus dilakukan melalui sekolah dan puskesmas dengan mendorong masyarakat menerapkan prinsip CERDIK, yakni Cek kesehatan rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres.

Meningkatnya kasus diabetes pada anak muda di Karawang menjadi pengingat bahwa perubahan gaya hidup membawa dampak besar terhadap kesehatan. Di tengah maraknya tren makanan dan minuman manis, kesadaran menjaga kesehatan sejak dini menjadi langkah penting agar generasi muda terhindar dari ancaman diabetes di masa depan.

Penulis: Tinaya Fitra Nabila, Tri Lestari, Yukie Shafitri

Kelas Semester Genap TA 2025-2026

Related Posts

Stigma dan Sisi Lain Kehidupan Anak Punk di Karawang

Karawang, wartacana.com – Ketika mendengar kata “anak punk”, sebagian masyarakat mungkin langsung membayangkan sekelompok orang dengan rambut mohawk, pakaian lusuh, tato, dan kehidupan jalanan. Tidak sedikit yang menilai mereka sebagai…

Read more

One thought on “Waspada, Diabetes pada Remaja Karawang Semakin Tinggi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Missed

KRL Karawang-Jakarta, Cuma Omon-omon

KRL Karawang-Jakarta, Cuma Omon-omon

Pemda Karawang Belum Punya Juknis Implementasikan PP Tunas

Pemda Karawang Belum Punya Juknis Implementasikan PP Tunas

Waspada, Diabetes pada Remaja Karawang Semakin Tinggi

Waspada, Diabetes pada Remaja Karawang Semakin Tinggi

Stigma dan Sisi Lain Kehidupan Anak Punk di Karawang

Stigma dan Sisi Lain Kehidupan Anak Punk di Karawang

Semangat Generasi Muda Merawat Tradisi Seren Taun Kuningan

Semangat Generasi Muda Merawat Tradisi Seren Taun Kuningan

Tersisihkan, Ada Sekolah Tak Layak di Tengah Hutan Karawang

Tersisihkan, Ada Sekolah Tak Layak di Tengah Hutan Karawang