Karawang, wartacana.com- Kehadiran kecerdasan buatan (AI) di ruang-ruang kuliah kini bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas sehari-hari. Mahasiswa memakainya untuk mencari referensi, menyusun kerangka tulisan, bahkan menyelesaikan tugas dalam hitungan menit. Kampus-kampus pun mulai bereaksi beragam: sebagian merangkulnya sebagai alat bantu belajar, sebagian lain mewaspadainya sebagai ancaman terhadap orisinalitas dan kejujuran akademik. Di tengah perdebatan itu, satu hal jelas: cara mahasiswa belajar dan berpikir sedang berubah, entah menuju arah yang lebih baik atau justru sebaliknya.
Pertanyaan mendasar yang muncul kemudian adalah apakah kemudahan yang ditawarkan AI benar-benar mempertajam nalar mahasiswa, atau justru menumpulkan kebiasaan berpikir kritis yang selama ini menjadi inti pendidikan tinggi. Ketergantungan pada jawaban instan berisiko menggeser esensi belajar dari proses bergulat dengan ide menjadi sekadar mengumpulkan hasil akhir. Namun di sisi lain, ada pula argumen bahwa AI, jika digunakan secara tepat, dapat menjadi mitra berpikir yang memperluas cakrawala mahasiswa dan membebaskan waktu mereka untuk refleksi yang lebih dalam.

Untuk mengurai persoalan ini, tim liputan dari Program Studi Ilmu Komunikasi menemui Fajar Imam Zarkasyi, S.IP., M.Si., dosen filsafat di Program Studi Hubungan Internasional. Sebagai pengajar yang sehari-hari bergelut dengan logika, epistemologi, dan cara manusia mengonstruksi pengetahuan, ia memiliki perspektif tersendiri soal bagaimana teknologi ini mengubah relasi antara mahasiswa dan proses belajarnya. Di sela kesibukannya mengajar, ia menyempatkan diri berbincang santai namun mendalam mengenai fenomena ini.
Tim liputan dari Program Studi Ilmu Komunikasi, Rahma Ayuningtyas, Ahmad Dany Faisal, dan Almalani Nuurunnihayah berkesempatan mengikuti sesi wawancara tersebut secara langsung. Berikut petikannya:
Bagaimana Anda melihat mahasiswa menggunakan AI tanpa memahami jawabannnya?
AI seharusnya digunakan untuk membantu dan memperkuat hasil kerja, bukan menggantikan proses berpikir. Mahasiswa sebaiknya menggunakan AI sebagai teman berdiskusi untuk mengelaborasi dan mempertajam ide yang sudah dimiliki.
Apakah AI menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran?
Ya. AI dapat membantu mahasiswa memahami konsep atau teori yang rumit, menghemat waktu, dan membuat proses belajar jadi lebih efisien.
Bagaimana AI menjadi ancaman bagi kemampuan berpikir mahasiswa?
AI menjadi ancaman ketika digunakan sebagai eksekutor dari awal sampai akhir. Jika terlalu bergantung pada AI, mahasiswa dapat kehilangan daya kritis dan kemampuan berpikir.
Mengapa AI memengaruhi motivasi dan kemandirian belajar mahasiswa?
Karena AI memberikan informasi dengan lebih mudah dan cepat. Namun, mahasiswa tetap harus mencari dan memverifikasi sumber secara mandiri agar tidak hanya menerima informasi dari AI.
Keterampilan apa yang penting dimiliki mahasiswa di tengah perkembangan AI?
Mahasiswa perlu memiliki kemampuan berpikir sistematis, kritis, radikal, reflektif, dan integral.
Mengapa keterampilan tersebut penting?
Karena keterampilan tersebut membuat mahasiswa mampu berpikir secara sistematis, mempertanyakan informasi, memahami masalah sampai ke akarnya, menguji asumsi, dan melihat sesuatu secara menyeluruh.
Siapa yang paling bertanggung jawab mencegah penyalahgunaan AI di Pendidikan?
Tanggung jawabnya bersifat kolektif. Dosen, mahasiswa, dan pihak kampus harus bersama-sama membangun budaya penggunaan AI yang cerdas.
Apakah Universitas Singaperbangsa Karawang memiliki aturan penggunaan AI?
Kampus seharusnya memberikan fasilitas seperti AI detector dan membuat ketentuan penggunaan AI.
Kapan penggunaan AI mulai berdampak pada kualitas lulusan?
Ketika mahasiswa menggunakan AI bukan sebagai alat bantu, tetapi sebagai pengganti proses berpikir. Pada kondisi tersebut, mahasiswa dapat kehilangan daya kritis dan sisi kemanusiaannya.
Apa pesan Anda agar mahasiswa memanfaatkan AI tanpa ketergantungan?
Teknologi tidak bisa dihentikan, sehingga yang penting adalah memiliki sikap yang bijak dalam menggunakannya. AI harus dimanfaatkan untuk memberikan manfaat, bukan sampai penggunaannya bersifat destruktif.





