Korban Bullying: Saya Trauma Hingga Sempat Ingin Pindah Sekolah

Karawang, Wartacana.com – Kasus perundungan (bullying) di lingkungan akademis masih menjadi ancaman nyata yang dapat berdampak pada kondisi psikologis siswa dan mahasiswa. Dari anggapan sekadar “bercanda” hingga intimidasi verbal dan fisik, korban terkadang harus menghadapi dampaknya seorang diri tanpa penanganan yang memadai. Melalui wawancara dengan korban berinisial RJEB yang dilakukan pada 18 September 2026 pukul 19.00 WIB, laporan ini mengungkap pengalaman perundungan yang dialaminya serta perjuangannya untuk bangkit dari pengalaman tersebut.
Narasumber: RJEB

Perundungan di dunia pendidikan kerap bersembunyi di balik dalih “bercandaan anak sekolah.” Padahal, dampaknya dapat merusak kesehatan mental, meruntuhkan kepercayaan diri, hingga menyisakan trauma mendalam yang terbawa hingga dewasa. RJB (nama Samara) membagikan kisah perjuangan dan masa-masa kelam yang pernah dihadapinya:

Bila boleh tahu, di mana dan kapan Anda pertama kali mengalami perundungan tersebut?

Kejadian itu saya alami sewaktu masih duduk di bangku SMP, di lingkungan sekolah sendiri. Ironisnya, pelaku yang merundung saya adalah teman-teman bermain saya sendiri.

Bagaimana awal mula hubungan Anda dengan mereka sebelum perundungan itu terjadi?

Dulu kami sangat dekat. Kami sering berkumpul bareng, pergi ke kantin bersama, dan jalan-jalan (hangout). Semua terasa normal pada awalnya.

Lalu, seperti apa bentuk perundungan yang mulai Anda dapatkan dari mereka?

Perlakuannya mulai berubah menjadi tidak menyenangkan. Saya mulai didiamkan tanpa alasan, dijelek-jelekan di belakang, dan mereka menciptakan suasana yang membuat saya merasa sangat tidak nyaman berada di dekat mereka.

Apakah ada kejadian fisik atau perlakuan langsung yang paling berbekas dalam ingatan Anda?

Ada beberapa kejadian yang sangat menyakitkan. Suatu hari saat mau duduk di kelas, kursi saya ditarik oleh mereka sampai saya jatuh tersungkur. Saat itu, tidak ada satu pun yang menolong, rasanya benar-benar sedih dan terisolasi. Kejadian lain, sewaktu saya jalan sendirian dan berpapasan dengan mereka, mereka berbisik-bisik membicarakan saya. Tiba-tiba, salah satu dari mereka yang memegang botol air melemparkan airnya ke arah saya sambil berseru “Mampus!”. Saya langsung lari ke kamar mandi sambil menangis.

Menurut Anda, apa yang menyebabkan teman-teman Anda tega melakukan tindakan tersebut?

Pemicunya sebenarnya masalah asmara khas anak sekolah. Salah satu dari mereka menyukai seorang anak laki-laki, tetapi laki-laki tersebut justru menyukai saya. Karena cemburu, dia menghasut dan mengajak teman-teman yang lain agar ikut memusuhi dan tidak menyukai saya.

Setelah mendapat perlakuan seperti itu, apakah Anda sempat menceritakannya kepada orang lain atau melapor?

Awalnya saya tidak berani cerita ke siapa-siapa karena mendapat intimidasi dari mereka. Mereka mengancam dan bilang, “Jangan cerita ke siapa-siapa, kita cuma bercanda.” Hingga pada suatu hari, terjadi puncak perundungan yang sangat parah yang bahkan membuat saya tidak sanggup untuk menceritakannya kembali.

Apakah Anda pernah berusaha meminta pertolongan kepada pihak sekolah, seperti guru atau wali kelas?

Saya sempat memberanikan diri berbicara kepada wali kelas dan meminta beliau untuk menegur teman-teman agar menghentikan perundungan itu. Namun, responsnya sangat mengecewakan. Wali kelas saya malah menganggap perbuatan mereka hanya bercandaan biasa. Di situ saya merasa benar-benar sendirian; tidak ada satu pun pihak yang membela atau mengambil tindakan saat saya sudah memberanikan diri untuk bersuara (speak up).

Sampai kapan perundungan ini berlangsung dan bagaimana dampaknya terhadap keputusan sekolah Anda?

Perundungan ini terus terjadi sampai saya kelas 9 SMP. Karena merasa sudah tidak sanggup lagi bersekolah di sana akibat terus-menerus ditertawakan dan diintimidasi, saya memberanikan diri minta pindah sekolah kepada orang tua. Saat orang tua menanyakan alasannya, saya menceritakan apa yang terjadi, meski tidak semuanya.

Bagaimana dampak perundungan tersebut terhadap kondisi psikologis dan kehidupan Anda secara keseluruhan?

Mental saya benar-benar jatuh (down), rasa sedihnya luar biasa, dan banyak hal dalam diri saya yang berubah. Momen sekolah yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi tekanan berat.

Apakah trauma tersebut masih terasa setelah Anda pindah sekolah dan beranjak dewasa?

Meskipun saya sudah pindah sekolah dan berusaha keras untuk melupakan kejadian itu, ternyata sangat sulit. Bahkan sampai saya tumbuh dewasa sekarang, bayang-bayang perundungan itu masih sering teringat dan menjadi trauma tersendiri dalam hidup saya.

Terakhir, apa pesan yang ingin Anda sampaikan kepada para pelaku perundungan dan juga bagi mereka yang sedang menjadi korban di luar sana?

Untuk para pelaku, berhentilah melakukan perundungan (stop bullying). Sadarilah bahwa tindakan yang kalian anggap remeh atau sekadar bercanda itu bisa menghancurkan mental dan masa depan seseorang. Dan untuk kawan-kawan yang sedang menjadi korban perundungan, jangan takut untuk bersuara (speak up). Ceritakan apa yang kalian alami kepada orang yang bisa dipercaya, jangan pernah memendamnya sendirian.

Penulis : Sakti Rangga Prakusa, Dhiya Hasna Fakhira, Dava Apriansah, dan Rachel Dwiyanto.

 

Kelas Semester Genap TA 2025-2026

Related Posts

FOMO di Tengah Tren, Ketika Takut Tertingal Memengaruhi Pilihan

KARAWANG, Wartacana.com – Perkembangan tren yang semakin cepat membuat berbagai hal mudah menjadi perhatian banyak orang. Mulai dari fashion, gaya hidup, hingga tren di media sosial, semuanya dapat berubah dalam…

Read more
HARGA BAHAN POKOK NAIK? Masyarakat Mulai Terbebani

Karawang, Wartacana.com – Kenaikan harga bahan pokok menjadi salah satu kondisi yang turut dirasakan oleh pelaku usaha warung tegal (warteg). Hampir seluruh bahan yang digunakan untuk kebutuhan usaha mengalami kenaikan…

Read more

You Missed

Kenaikan Harga Membunuh Pedagang Kecil?

Kenaikan Harga Membunuh Pedagang Kecil?

FOMO di Tengah Tren, Ketika Takut Tertingal Memengaruhi Pilihan

FOMO di  Tengah Tren, Ketika Takut Tertingal Memengaruhi Pilihan

Berawal dari Curhatan Patah Hati, Mahasiswa Unsika Ini Sukses Jadi Konten Kreator dan Raup Cuan

Korban Bullying: Saya Trauma Hingga Sempat Ingin Pindah Sekolah

Korban Bullying: Saya Trauma Hingga Sempat Ingin Pindah Sekolah

HARGA BAHAN POKOK NAIK? Masyarakat Mulai Terbebani

HARGA BAHAN POKOK NAIK? Masyarakat Mulai Terbebani

AI dalam Dunia Perkuliahan: Membantu Belajar atau Membentuk Ketergantungan?

AI dalam Dunia Perkuliahan: Membantu Belajar atau Membentuk Ketergantungan?