Purwakarta, Wartacana.com – Desa Cibogogirang, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, dikenal sebagai salah satu wilayah dengan aktivitas budidaya ikan air tawar yang cukup berkembang. Berbagai kolam dan tambak milik warga tersebar di sejumlah titik desa dengan komoditas utama berupa ikan nila, lele, patin, dan berbagai jenis ikan budidaya lainnya. Melihat besarnya potensi tersebut, Kelompok 30 Kuliah Kerja Nyata (KKN) menghadirkan inovasi Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa smart water monitoring untuk membantu petani memantau kualitas air tambak secara lebih efektif.
Kehadiran alat ini dinilai penting karena kualitas air menjadi salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan budidaya ikan. Selama ini, sebagian besar petani masih mengandalkan pengamatan visual dan pemeriksaan manual dalam memantau kondisi air. Melalui smart water monitoring, proses pemantauan dapat dilakukan secara lebih tepat sehingga perubahan kualitas air yang berpotensi membahayakan kesehatan ikan dapat diketahui lebih dini.
Inovasi tersebut juga dinilai relevan dengan kondisi Desa Cibogogirang yang memiliki Balai Benih Ikan (BBI) sebagai salah satu penopang utama sektor perikanan di wilayah tersebut. Selama ini BBI berperan menyediakan benih unggul sekaligus memberikan pendampingan kepada petani mengenai teknik budidaya, sehingga keberadaan alat pemantau kualitas air diharapkan dapat melengkapi upaya peningkatan produktivitas budidaya ikan di desa tersebut.

Smart water monitoring bekerja dengan memantau tiga parameter utama kualitas air, yakni suhu, tingkat kekeruhan, dan kadar amonia. Ketiga indikator tersebut memiliki peran penting dalam budidaya ikan air tawar karena perubahan pada salah satunya dapat memengaruhi pertumbuhan maupun tingkat kelangsungan hidup ikan.
Salah seorang petani ikan di Desa Cibogogirang, Adang Suparman, mengatakan bahwa benih yang paling sering dibelinya dari BBI adalah ikan nila dengan pasokan rutin setiap satu bulan sekali. Menurutnya, kualitas benih dari BBI lebih baik dibandingkan benih yang beredar di pasaran.
“Benih yang paling sering saya beli itu ikan nila, dan biasanya datang sebulan sekali. Kualitasnya memang lebih bagus dibanding yang di pasaran,” ujar Adang Suparman saat ditemui, Kamis (30/7/2026).
Selain memperoleh benih, Adang Suparman mengaku pernah mendapatkan pelatihan dan pendampingan dari BBI mengenai pola usaha budidaya, teknik pemeliharaan, hingga penanganan pascapanen. Meski demikian, ia menyebut keterbatasan jumlah benih yang tersedia masih menjadi kendala karena belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan para petani.
Sementara itu, Pengurus Balai Benih Ikan, Mantri Hana, memberikan apresiasi terhadap alat smart water monitoring yang diserahkan oleh Kelompok 30 KKN. Menurutnya, fungsi dan cara kerja alat tersebut sudah cukup baik untuk membantu proses pemantauan kualitas air di tambak.
“Kalau dari fungsi dan cara kerjanya, alat ini sudah sangat baik. Cuma harapan saya ke depan, ukurannya bisa dibuat lebih kecil lagi supaya lebih praktis, gampang dibawa, dan bisa masuk ke tas kecil,” kata Mantri Hana, Kamis (30/7/2026).
Karena baru diserahkan kepada pihak balai dan petani, penggunaan smart water monitoring masih berada pada tahap awal sehingga belum tersedia data pemantauan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, evaluasi yang dapat dilakukan saat ini masih terbatas pada fungsi dasar alat, kemudahan penggunaan, serta masukan dari pengguna untuk pengembangan selanjutnya.

Melalui inovasi tersebut, Kelompok 30 KKN berharap smart water monitoring dapat menjadi langkah awal dalam mendukung pengelolaan tambak ikan yang lebih efisien, terukur, dan berkelanjutan. Dengan dukungan ekosistem budidaya yang telah berkembang di Desa Cibogogirang, termasuk peran Balai Benih Ikan sebagai pusat penyedia benih dan pendampingan, teknologi ini diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi para petani ikan dalam meningkatkan kualitas produksi budidaya.
Penulis: Teuku Anil Fariyazin Maulana (Tim KKN Unsika 2026 Kelompok 30)






https://shorturl.fm/8FaA9