Karawang, wartacana.com – Berawal dari keinginan mengubah stigma bahwa kawasan nelayan identik dengan lingkungan yang kotor, Kelompok Kerja Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (KKPMP) Desa Tanjungpakis terus berupaya menghadirkan solusi nyata terhadap persoalan sampah di wilayah pesisir. Melalui program Bank Sampah dan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPS-T), masyarakat diajak untuk mengubah cara pandang terhadap sampah, dari yang sebelumnya menjadi masalah kini dapat bermanfaat bagi lingkungan maupun ekonomi masyarakat.
Ketua KKPMP Desa Tanjungpakis, Sopyan Iskandar, menjelaskan bahwa inisiatif tersebut lahir dari kepedulian terhadap kondisi lingkungan pesisir sekaligus keinginan untuk menghapus stigma negatif terhadap masyarakat nelayan. “Selama ini masyarakat sering memandang daerah nelayan identik dengan sampah dan lingkungan yang kotor. Dari situ kami ingin membuktikan bahwa masyarakat pesisir juga bisa mengelola lingkungannya sendiri dan menciptakan kawasan yang lebih bersih,” ungkapnya (06/07/2026).
Semangat tersebut kemudian diwujudkan melalui kerja sama dengan Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) dalam membangun TPS-T sebagai pusat pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Program yang dijalankan secara berkelanjutan tersebut berhasil membawa KKPMP Desa Tanjungpakis meraih penghargaan sebagai pengelolaan sampah terbaik kedua, sekaligus menjadi bukti bahwa kolaborasi antara masyarakat dan dunia industri mampu menghasilkan dampak positif bagi lingkungan.

Di TPS-T, sampah rumah tangga dikumpulkan langsung dari masyarakat, kemudian dipilah berdasarkan jenisnya. Sampah yang masih memiliki nilai ekonomis dijual kembali kepada pengepul sebagai sumber pendapatan bagi pengelolaan bank sampah, sedangkan sampah yang tidak lagi memiliki nilai manfaat dimusnahkan melalui proses pembakaran. Sistem tersebut telah membantu mengurangi jumlah sampah yang berakhir di lingkungan pesisir sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya memilah sampah sejak dari rumah.
Meski demikian, pengelolaan sampah di TPS-T masih menghadapi tantangan, terutama pada proses pemusnahan sampah residu yang selama ini masih dilakukan secara sederhana. Selain itu, KKPMP juga memiliki harapan untuk memperluas jangkauan layanan pengelolaan sampah yang saat ini baru mencakup dua dusun agar ke depan dapat melayani seluruh wilayah Desa Tanjungpakis. Harapan tersebut menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok Desa Tanjungpakis Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA). Setelah melakukan observasi lapangan dan berdiskusi bersama pengelola TPS-T, mahasiswa melihat bahwa keberadaan alat pembakaran yang lebih efektif dapat menjadi salah satu bentuk dukungan nyata bagi pengelolaan sampah di Desa Tanjungpakis.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, KKN Kelompok Desa Tanjungpakis UNSIKA menggagas pembangunan insinerator di area TPS-T KKPMP. Program ini menjadi salah satu program kerja utama kelompok sebagai bentuk kontribusi terhadap pengelolaan sampah yang telah lebih dahulu dirintis oleh masyarakat. Proses pembangunan insinerator diawali dengan koordinasi bersama Ketua KKPMP, Sopyan Iskandar. Dalam diskusi tersebut, beliau menyambut baik rencana pembangunan alat tersebut karena dinilai dapat membantu proses pembakaran sampah residu yang selama ini masih dilakukan secara konvensional.
Menurut Sopyan, keberadaan insinerator akan menjadi sarana pendukung yang bermanfaat bagi operasional TPS-T, terutama apabila jangkauan pelayanan pengelolaan sampah nantinya semakin luas hingga mencakup seluruh wilayah Desa Tanjungpakis.

“Kami sangat mendukung adanya pembuatan insinerator di TPS-T. Harapannya alat ini bisa membantu proses pembakaran sampah residu dan mendukung rencana kami untuk memperluas layanan pengelolaan sampah sehingga kedepannya tidak hanya melayani dua dusun, tetapi meluas ke seluruh Desa Tanjungpakis,” ujarnya (06/07/2026).
Melihat dukungan tersebut, mahasiswa KKN kemudian mulai merancang pembangunan insinerator dengan memanfaatkan material bata ringan (hebel) yang dipilih karena memiliki ketahanan terhadap panas serta mudah diperoleh. Pembangunan dilakukan secara bertahap, mulai dari proses perancangan, penyusunan ruang bakar, hingga pengujian fungsi agar alat dapat bekerja secara optimal sebelum diserahkan kepada pengelola TPS-T.

Pembuatan insinerator ini juga mendapat dukungan pendanaan dari Pertamina EP, sehingga proses pembangunan dapat berjalan dengan baik. Dukungan tersebut menjadi wujud kolaborasi antara dunia industri, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam menghadirkan solusi sederhana namun memiliki manfaat nyata bagi lingkungan.
Berbeda dengan pembakaran terbuka, insinerator dirancang memiliki ruang bakar yang lebih terarah sehingga proses pembakaran menjadi lebih efisien. Alat ini diharapkan mampu membantu pengelola TPS-T dalam memusnahkan sampah residu dengan lebih baik sekaligus mendukung operasional pengelolaan sampah yang telah berjalan selama ini.

Bagi KKN Kelompok Desa Tanjungpakis UNSIKA, pembangunan insinerator bukan sekadar menyelesaikan sebuah program kerja. Lebih dari itu, program ini merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat Desa Tanjungpakis. Kehadiran alat tersebut diharapkan dapat terus dimanfaatkan oleh pengelola TPS-T sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Melalui kolaborasi bersama KKPMP dan dukungan berbagai pihak, mahasiswa berharap insinerator yang telah dibangun dapat menjadi langkah kecil yang memberikan dampak besar. Dengan semakin baiknya pengelolaan sampah di TPS-T, harapan mewujudkan Desa Tanjungpakis yang bersih, mandiri, dan peduli terhadap lingkungan dapat terus tumbuh dan menjadi inspirasi bagi wilayah pesisir lainnya.
Tim Penulis: Kelompok KKN Desa Tanjungpakis Periode Juli 2026





