Karawang – Di ujung pesisir Kecamatan Pakis Jaya, Kabupaten Karawang, sekelompok warga Desa Tanjungpakis merawat sebuah mimpi sederhana namun penuh arti: menjadikan garis pantai mereka hijau kembali oleh mangrove, sekaligus menjadikannya destinasi wisata baru yang membanggakan desa. Mimpi itu dirawat oleh Kelompok Cemara Laut, komunitas swadaya warga yang telah lama menjaga dan menanam mangrove di kawasan tersebut.
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Desa Tanjungpakis Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) turut ambil bagian dalam gerakan ini, terjun langsung menanam mangrove bersama Kelompok Cemara Laut sebagai bagian dari program kerja mereka di Desa Tanjungpakis.
Kelompok Mangrove Cemara Laut dibentuk oleh warga setempat yang memiliki kepedulian terhadap kondisi lingkungan pesisir Desa Tanjungpakis. Beranggotakan sepuluh orang, komunitas ini menjalankan berbagai aktivitas konservasi mulai dari penyemaian bibit, penanaman, hingga perawatan mangrove secara berkelanjutan. Bagi mereka, mangrove bukan sekadar tanaman pesisir, melainkan benteng kehidupan yang melindungi masyarakat dari abrasi, menjaga keseimbangan ekosistem, sekaligus menjadi rumah bagi berbagai jenis ikan, kepiting, dan biota laut lainnya.

Salah satu tokoh yang menggerakkan komunitas ini adalah Pak Atam, Kepala Kelompok Mangrove Cemara Laut yang juga menjabat sebagai Kepala Dusun Sompek, Desa Tanjungpakis. Menurutnya, menjaga kelestarian mangrove merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.
Pak Atam mengaku selalu menyambut baik setiap kegiatan penanaman mangrove, baik yang berasal dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), instansi pemerintah, perguruan tinggi, maupun komunitas lainnya. Baginya, semakin banyak pihak yang terlibat dalam gerakan konservasi, semakin besar pula peluang menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir Tanjungpakis.
Semangat kolaborasi tersebut menjadi salah satu alasan Kelompok Cemara Laut terus membuka diri bagi siapa saja yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan konservasi. Selain menyediakan lokasi penanaman, komunitas ini juga melakukan pembibitan mangrove secara mandiri sehingga bibit yang ditanam telah dipersiapkan dan dirawat dengan baik sebelum dipindahkan ke kawasan pesisir.
Anggota sekaligus penasihat Kelompok Cemara Laut, Sanusi, menjelaskan bahwa proses pembibitan dimulai dari propagul yang kemudian disemai di bawah naungan paranet. Metode tersebut dipilih agar bibit tetap memperoleh sirkulasi udara yang baik, terlindungi dari panas matahari yang berlebihan, namun tetap mendapatkan air hujan sehingga pertumbuhannya lebih optimal.

Di lokasi pembibitan, terdapat dua jenis mangrove yang dikembangkan, yaitu Rhizophora dan Rhizophora mucronata. Keduanya tumbuh berdampingan tanpa perlakuan khusus terhadap jenis tanah karena memiliki karakter habitat yang sama. Perbedaan keduanya lebih terlihat pada bentuk fisiknya, di mana Rhizophora mucronata memiliki batang yang lebih besar dan panjang dibandingkan jenis Rhizophora lainnya.
Kepercayaan berbagai pihak terhadap Kelompok Cemara Laut pun terus tumbuh. Berbagai perusahaan melalui program CSR secara berkala menjalin kerja sama dengan komunitas ini dalam kegiatan rehabilitasi mangrove. Mulai dari penyediaan bibit, pendampingan penanaman, hingga perawatan dilakukan langsung oleh anggota kelompok, menjadikan masyarakat lokal sebagai garda terdepan dalam menjaga ekosistem pesisir.

Namun, bagi Pak Sanusi dan seluruh anggota Kelompok Cemara Laut, konservasi mangrove bukanlah tujuan akhir. Mereka memiliki cita-cita yang jauh lebih besar, yaitu menghadirkan ekowisata mangrove di Desa Tanjungpakis.
Menurut Pak Sanusi, kawasan mangrove yang terus tumbuh dan terawat memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis edukasi lingkungan. Kehadiran ekowisata tersebut diharapkan dapat menjadi pelengkap potensi wisata yang telah dimiliki Tanjungpakis sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar tanpa mengabaikan prinsip pelestarian lingkungan.
“Mudah-mudahan ke depan kawasan mangrove ini bisa menjadi ekowisata. Jadi masyarakat tidak hanya datang menikmati keindahan alam, tetapi juga belajar tentang pentingnya menjaga mangrove dan lingkungan pesisir,” harapnya (05/07/2026).
Semangat pelestarian yang diusung Kelompok Cemara Laut juga mendapat dukungan dari mahasiswa KKN Desa Tanjungpakis UNSIKA. Dalam salah satu program kerjanya, mahasiswa bersama anggota komunitas turut melaksanakan kegiatan penanaman mangrove di kawasan pesisir Desa Tanjungpakis sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap upaya rehabilitasi lingkungan yang telah lama dijalankan masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya berpartisipasi dalam penanaman bibit mangrove, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung mengenai pentingnya konservasi pesisir, mulai dari proses pembibitan, penanaman, hingga perawatan yang membutuhkan komitmen jangka panjang. Kegiatan ini menjadi wujud sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
Kolaborasi antara Kelompok Mangrove Cemara Laut dan mahasiswa KKN Desa Tanjungpakis UNSIKA menunjukkan bahwa menjaga alam bukanlah pekerjaan satu pihak semata. Ketika masyarakat, pemerintah, perguruan tinggi, dan berbagai mitra berjalan bersama, setiap bibit mangrove yang ditanam menjadi simbol harapan bagi masa depan pesisir Tanjungpakis.
Dengan semangat gotong royong yang terus tumbuh, Kelompok Mangrove Cemara Laut berharap benteng hijau di pesisir Karawang ini tidak hanya mampu melindungi garis pantai dari abrasi, tetapi juga berkembang menjadi kawasan ekowisata yang memberikan manfaat ekologis, edukatif, dan ekonomi bagi masyarakat. Harapan tersebut menjadi bukti bahwa konservasi lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pembangunan desa yang berkelanjutan, menjadikan Tanjungpakis sebagai contoh bagaimana masyarakat lokal mampu menjaga alam sekaligus membangun masa depan yang lebih baik.
Tim Penulis: Kelompok KKN Desa Tanjungpakis Periode Juli 2026






https://shorturl.fm/U8HLH
https://shorturl.fm/vYo2L