Penyapu Koin Harry Potter dari Indramayu

Indramayu, wartacana.com — Di tengah padatnya arus kendaraan Pantura yang menghubungkan wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah, terdapat satu fenomena sosial yang masih bertahan. Yaitu para penyapu koin di pinggir jalan.

Di kawasan Jembatan Sewo, perbatasan Kabupaten Indramayu dan Subang, para penyapu koin masih setia berdiri di pinggir jalan sambil membawa sapu lidi sederhana untuk mengumpulkan uang receh yang dilempar pengendara.

Masyarakat sekitar menyebut mereka sebagai “penyapu koin Harry Potter”. Julukan itu muncul karena aktivitas mereka dianggap seperti sulap. Berkali-kali ditertibkan, dibubarkan, bahkan dilarang, tetapi selalu muncul kembali di lokasi yang sama.

Fenomena tersebut bukan sekadar persoalan pengemis jalanan biasa. Di balik aktivitas menyapu koin, terdapat persoalan budaya, ekonomi, tradisi mistis, hingga lemahnya penanganan lintas instansi yang membuat praktik itu terus bertahan selama puluhan tahun.

Perwakilan Dinas Sosial Kabupaten Indramayu, Karman mengungkapkan bahwa masyarakat tidak bisa hanya menyalahkan penyapu koin tanpa melihat akar persoalan yang lebih besar. “Kalau tidak ada orang yang ngasih receh, bubar itu penyapu koin,” ujarnya saat diwawancarai, (18/05/2026)

Menurutnya, pengguna jalan memiliki peran besar dalam mempertahankan praktik tersebut. Selama pengendara masih melempar uang receh di jalan, para penyapu koin akan tetap datang karena melihat adanya peluang penghasilan.

“Yang harus direhab bukan penyapu koinnya dulu, tapi pola pikir masyarakat yang menganggap lempar receh di jalan itu normal,” katanya.

Karman, Bidang Rehsos Dinas Sosial Kab. Indramayu. (18/5/2026)
Karman, Bidang Rehsos Dinas Sosial Kab. Indramayu. (18/05/2026)

Berdasarkan data sementara dari Dinas Sosial Indramayu dan pihak kecamatan, jumlah penyapu koin yang terdata mencapai sekitar 105 orang. Namun jumlah sebenarnya diperkirakan lebih banyak karena banyak pelaku berasal dari luar wilayah dan tidak tercatat secara resmi. “Yang terdata sekitar seratus lima orang, itu yang memang setiap hari ada di situ,” ujar Karman.

Data penyapu Koin di jembatan sewo.(6/6/2026).
Data penyapu Koin di jembatan sewo.(06/06/2026).

Karman juga mengungkapkan bahwa tidak semua penyapu koin berasal dari wilayah Indramayu. Sebagian berasal dari daerah perbatasan Kabupaten Subang. “Bukan satu jembatan itu orang Indramayu semua. Ada juga dari wilayah Subang,” ujarnya.

Tradisi membuang uang receh di Jembatan Sewo sendiri dipercaya sudah berlangsung sejak lama. Banyak masyarakat Pantura meyakini bahwa melempar koin saat melintasi jembatan dapat menghindarkan diri dari kesialan atau bahaya selama perjalanan.

Salah seorang penyapu koin bernama Pandi mengaku sudah cukup lama menjalani aktivitas tersebut. Ia mengatakan dirinya mulai bekerja sejak pagi hingga sore hari.
“Paling keluar jam enam pagi, nanti jam sebelas pulang istirahat, habis itu setengah dua balik lagi sampai sore,” ujarnya.

“Orang Pantura masih percaya kalau lewat jembatan harus bunyiin klakson atau buang receh,” kata Deni, (29/04/2026)

Kepercayaan itulah yang kemudian menjadi sumber penghasilan bagi sebagian warga sekitar. Mereka memanfaatkan kebiasaan pengguna jalan dengan berdiri di pinggir jembatan sambil membawa sapu untuk mengumpulkan koin yang dilempar dari kendaraan.

Salah seorang penyapu koin bernama Pandi mengaku sudah cukup lama menjalani aktivitas tersebut. Ia mengatakan dirinya mulai bekerja sejak pagi hingga sore hari.

“Paling keluar jam enam pagi, nanti jam sebelas pulang istirahat, habis itu setengah dua balik lagi sampai sore,” ujarnya, (29/04/2026)

Dalam sehari, penghasilannya tidak menentu. Kadang ia memperoleh Rp50 ribu, tetapi pada hari-hari tertentu bisa mencapai Rp70 ribu atau lebih. “Kadang sehari tujuh puluh, kadang lima puluh, nggak tentu,” katanya.

Meski terlihat kecil, penghasilan tersebut dianggap cukup menjanjikan dibanding pekerjaan lain yang tersedia di sekitar wilayah perbatasan tersebut. Terlebih pada musim mudik Lebaran, malam Jumat Kliwon, atau hari-hari tertentu yang dianggap sakral, jumlah pengendara yang melempar uang receh meningkat drastis.

Berbagai upaya sebenarnya sudah dilakukan pemerintah untuk menghentikan aktivitas penyapu koin. Polisi, Satpol PP, hingga Dinas Sosial pernah beberapa kali melakukan penertiban di kawasan tersebut.

Pada musim mudik Idul Fitri, kondisi di Jembatan Sewo sering kali semakin semrawut. Banyak penyapu koin memadati sisi jalan hingga menyebabkan kemacetan panjang.

Bahkan sempat ada pemberian kompensasi sebesar Rp400 ribu kepada para penyapu koin dengan harapan mereka berhenti turun ke jalan. “Iya bagi kompensasi empat ratus ribu,” kata Pandi.

Namun bantuan tersebut dinilai tidak efektif karena sebagian besar penerima kembali lagi ke jalan setelah uang kompensasi habis digunakan. “Cepat nyapu lagi karena uangnya habis,” ujarnya.

Menurut petugas Dinas Sosial (Karman), para penyapu koin bahkan memiliki sistem pergantian waktu kerja dan pembagian lokasi tertentu. “Sistemnya sipsipan. Ada yang dari pagi sampai siang, nanti gantian lagi sampai malam,” ujar Karman. (29/04/2026)

Ia menjelaskan bahwa sebagian penyapu koin memiliki “lapak” tetap di sekitar jembatan. Mereka biasanya hanya berdiri di titik tertentu tanpa mengejar kendaraan.

Namun, ada pula penyapu koin lain yang tidak memiliki tempat tetap sehingga nekat mengejar mobil demi mendapatkan uang. Situasi itu dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan maupun para penyapu koin sendiri. Bahkan beberapa kecelakaan pernah terjadi akibat aktivitas tersebut.

“Kadang mereka sampai menutup sebagian jalan sendiri. Itu membahayakan,” ujar petugas Dinas Sosial, karman. (29/04/2026)

Bahkan sempat ada pemberian kompensasi sebesar Rp400 ribu kepada para penyapu koin dengan harapan mereka berhenti turun ke jalan.

Pada musim mudik Idul Fitri, kondisi di Jembatan Sewo sering kali semakin semrawut. Banyak penyapu koin memadati sisi jalan hingga menyebabkan kemacetan panjang.

“Kalau lagi musim ramai bisa sampai ke balai desa,” kata salah seorang narasumber, Karman (29/4/2026)

Menurutnya, tidak semua penyapu koin masuk kategori masyarakat miskin penerima bantuan sosial pemerintah pusat. Berdasarkan data desil kesejahteraan, banyak di antara mereka justru berada di luar kategori prioritas penerima bantuan. “Banyak yang ternyata desilnya di atas lima,” jelas petugas tersebut.

Fenomena penyapu koin juga mulai memunculkan persoalan sosial lain, termasuk eksploitasi anak. Dinas Sosial menemukan adanya anak-anak yang ikut turun ke jalan saat musim ramai demi membantu orang tua mereka mendapatkan lebih banyak uang.

“Banyak anak yang dieksploitasi. Sekolahnya jadi terganggu,” ujar Karman (29/4/2026).

Meski demikian, penanganan praktik penyapu koin tetap menjadi dilema. Sebagian warga menolak jika aktivitas tersebut dianggap sebagai tindakan mengemis. Mereka menganggapnya sebagai pekerjaan yang lahir dari tradisi masyarakat Pantura.

Bahkan ketika ada konten kreator yang mengkritik penyapu koin, beberapa warga justru merasa tersinggung karena dianggap merendahkan pekerjaan mereka.

Karena itu, Dinas Sosial menilai solusi persoalan ini harus dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan berbagai instansi, mulai dari pemerintah daerah, Dinas Perhubungan, kepolisian, Satpol PP, hingga masyarakat pengguna jalan.

“Penanganannya nggak bisa satu dinas. Semua harus turun,” Karman. (29/04/2026)

Selain penertiban, pemerintah juga mendorong kampanye sosial agar masyarakat berhenti melempar uang receh di jalan. Mereka yakin aktivitas penyapu koin akan berkurang jika pengguna jalan tidak lagi memberi uang.

“Kalau masyarakat kompak nggak ngasih uang, lama-lama juga hilang,” ujarnya.

Di tengah berbagai larangan dan penertiban, penyapu koin “Harry Potter” di Jembatan Sewo hingga kini masih tetap bertahan. Selama budaya membuang receh masih dianggap bagian dari tradisi perjalanan Pantura, suara koin jatuh di aspal kemungkinan akan terus terdengar di perbatasan Indramayu dan Subang.

Penulis: Agung Dwi Alfarizi Tanjung, Mukendi, Moch Ilham Prayudhana (Mahasiswa Unsika Semester 6).

Kelas Semester Genap TA 2025-2026

Related Posts

Tradisi Nyalin Kian Langka, Warisan Budaya Tani Karawang Terancam Hilang

Karawang, Wartacana.com – Perkembangan teknologi di sektor pertanian membawa berbagai kemudahan bagi para petani dalam mengelola lahan dan melakukan panen. Namun di balik kemajuan tersebut, sejumlah tradisi yang telah lama…

Read more
Underpass Gorowong Karawang Sering Berlubang

Karawang, wartacana.com – Pembangunan Underpass Gorowong di Kabupaten Karawang yang menghubungkan wilayah Klari dan Warung Bambu sempat menjadi pusat perhatian publik. Setelah munculnya kerusakan berupa lubang parah pada badan jalan…

Read more

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Missed

Narkotika di Cairan Vape

Narkotika di Cairan Vape

Tradisi Nyalin Kian Langka, Warisan Budaya Tani Karawang Terancam Hilang

Tradisi Nyalin Kian Langka, Warisan Budaya Tani Karawang Terancam Hilang

Underpass Gorowong Karawang Sering Berlubang

Underpass Gorowong Karawang Sering Berlubang

Jejak Konflik Agraria Telukjambe Karawang dan Luka yang Tertinggal

Jejak Konflik Agraria Telukjambe Karawang dan Luka yang Tertinggal

Pelecehan Seksual pada Laki-laki ternyata Membeludak

Pelecehan Seksual pada Laki-laki ternyata Membeludak

Peredaran Alat Olahraga Palsu Meningkat, Ancam Keselamatan & Performa Atlet

Peredaran Alat Olahraga Palsu Meningkat, Ancam Keselamatan & Performa Atlet