Karawang, wartacana.com — Kabar soal perpanjangan jalur Kereta Rel Listrik (KRL) hingga Karawang sudah berulang kali ramai diperbincangkan. Namun hingga saat ini, kepastian soal kapan proyek itu benar-benar berjalan, masih gelap.
Dinas Perhubungan (DISHUB) Kabupaten Karawang pun mengaku belum menerima koordinasi resmi dari pihak kementerian perhubungan soal realisasinya. Yunus Kusriwanto, Kepala Bidang Lalu Lintas Angkutan dan Pengembangan Keselamatan Dishub Karawang, membenarkan bahwa rencana perpanjangan jalur KRL sampai Karawang memang sudah lama ada.
Ia menyebut, kajian teknis alias Detail Engineering Design (DED) bahkan sudah pernah disusun sejak 2011. Namun ia menegaskan, pihaknya belum bisa memastikan kapan rencana itu bakal terealisasi.
“Kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak Kecamatan Cikampek, dan dari berita Kementerian Perhubungan memang sudah ada DED untuk mereview sejak 2011. Tapi jika dari kami, belum memastikan berita itu kapan akan terealisasikan karena kami harus menunggu koordinasi dari Kementerian Perhubungan maupun pihak KAI,” ujarnya, Kamis (7/5) saat diwawancari.

Terkait kabar yang sempat beredar di media sosial bahwa KRL Karawang akan mulai beroperasi pada 20 Mei 2026, Yunus pun tak bisa memastikannya. Menurutnya, informasi tersebut bukan berasal dari sumber resmi.
“Kami belum bisa menjawab pasti karena informasi itu bukan bersumber dari Kementerian Perhubungan, karena kami hanya menerima informasi dari Kementerian Perhubungan saja,” tegasnya.
Ketidakpastian ini dirasakan langsung oleh warga Karawang yang harus bolak-balik ke Jakarta. Mahasiswi yang pernah magang di Jakarta Pusat, mengisahkan betapa rumitnya perjalanan setiap harinya.
Ia harus mengejar kereta lokal dari Karawang subuh-subuh agar bisa sambung ke KRL di Stasiun Cikarang. Kalau sampai ketinggalan, jadwal berikutnya bisa mundur hingga jam delapan pagi.

Ia mengaku pernah terlambat absen kerja gara-gara ketinggalan kereta. “Yang harusnya berangkat jam 5, karena ketinggalan jadi jam setengah 9. Sampai kantor bisa jam 10, dan itu kan udah ngga bisa absen,” ujarnya.
Ada harapan sederhana dari mahasiswa rantau: jangan cuma jadi rencana. “Semoga berita ini ga cuman rencana dan berujung wacana. Semoga bisa terealisasi KRL Karawang–Jakarta, dan semoga jadwalnya juga diperbanyak,” ujar mahasiswa rantau.
Di sisi lain, Dishub menyatakan tetap siap melakukan sosialisasi ke masyarakat apabila proyek ini benar-benar berjalan. “Pastinya kami akan mengadakan sosialisasi ke warga terkait perpanjangan jalur KRL ini melalui media sosial Dishub,” kata Yunus.
Untuk saat ini, bola masih ada di tangan pemerintah pusat. Dishub Karawang mengaku hanya bisa menunggu, sementara warga yang tiap hari berjuang melawan jadwal kereta yang tidak pasti itu berharap penantian panjang ini segera berujung pada jawaban yang nyata — bukan sekadar wacana yang terus bergulir tanpa kejelasan.
Upaya konfirmasi juga telah dilakukan kepada pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan KAI Commuter untuk memperoleh informasi terkait perkembangan rencana perpanjangan jalur KRL hingga Karawang. Tim penulis sempat mendatangi Stasiun Cikarang, namun petugas menyarankan agar permintaan informasi diajukan melalui kantor pusat. Selanjutnya, upaya pengajuan konfirmasi dilakukan melalui laman resmi KAI, tetapi terkendala pada proses pendaftaran akun yang tidak berhasil dilakukan meski telah dicoba beberapa kali.
Selain itu, tim penulis juga telah menghubungi kontak Humas PT KAI yang diperoleh dari dosen pembimbing, namun hingga berita ini diterbitkan belum ada tanggapan resmi yang diberikan terkait rencana operasional maupun perkembangan proyek KRL Karawang–Jakarta.
Tim Penulis: Andini Sri Lestari, Pasha Nova, Zahwa Sabillah (Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNSIKA semester 6)





